Thursday, January 15, 2026
spot_img
HomePendidikanPsikologiTarot sebagai Cara Generasi Z Mengelola Kecemasan

Tarot sebagai Cara Generasi Z Mengelola Kecemasan

Ilustrasi.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah berbagai tekanan akademik, sosial, dan ketidakpastian masa depan, sebagian Generasi Z memilih cara yang tidak lazim untuk mengelola kecemasan. Salah satunya adalah menggunakan kartu tarot sebagai medium refleksi emosi dan pencarian makna atas situasi yang mereka hadapi.

Penggunaan tarot di kalangan generasi muda belakangan kian terlihat, baik melalui pembacaan langsung maupun konten digital. Bagi sebagian Generasi Z, tarot tidak selalu dimaknai sebagai ramalan, melainkan sebagai cara memahami perasaan, meredakan kegelisahan, dan memperoleh ketenangan sementara.

Psikolog Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi, menjelaskan bahwa tarot sejatinya bukan fenomena baru. Namun, kecenderungan Generasi Z menggunakan tarot berkaitan erat dengan pengalaman psikologis mereka dalam menghadapi ketidakpastian.

“Dalam perspektif psikologi, tarot dapat menjadi salah satu cara individu ketika merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Mereka mencari penjelasan dari luar dirinya agar memperoleh rasa tenang,” ujarnya, Rabu (15/1/2026).

Menurut Dian, pembacaan tarot dapat memunculkan narasi tertentu tentang diri dan masa depan seseorang. Narasi tersebut, meskipun tidak bersifat ilmiah, dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan karena memberi kerangka makna terhadap situasi yang sulit diprediksi.

“Ketika individu menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka kontrol atau perkirakan, kecemasan muncul. Tarot menawarkan cerita tentang diri mereka tanpa penilaian, dan itu bisa dirasakan menenangkan,” katanya.

Namun, Dian mengingatkan bahwa penggunaan tarot juga memiliki batas. Jika tarot digunakan sebagai sarana refleksi diri yang mendorong evaluasi dan pertumbuhan personal, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan justru berpotensi menghambat kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah secara rasional.

“Ada risiko ketika seseorang terlalu mengandalkan makna yang ditawarkan tarot, sehingga berhenti berupaya memperbaiki situasi karena merasa semuanya sudah ditentukan,” tuturnya.

Dalam kajian psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yakni keyakinan yang memengaruhi perilaku individu sehingga seolah-olah prediksi tersebut benar-benar terjadi. “Bukan karena ramalan itu nyata, melainkan karena individu sudah lebih dulu meyakininya dan bertindak sesuai keyakinan tersebut,” kata Dian.

Sebagai alternatif, Dian menyarankan pengelolaan kecemasan secara mandiri melalui berbagai langkah sederhana, seperti menulis jurnal, mengatur waktu, menjaga asupan gizi, serta berolahraga secara rutin. Namun, jika kecemasan berkembang menjadi krisis emosional yang sulit ditangani sendiri, bantuan profesional tetap diperlukan.

“Datang ke psikolog atau psikiater adalah bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental, bukan tanda kelemahan,” ujarnya.(*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular