
“Kepemimpinan Khamenei bertumpu pada kemampuannya untuk menampilkan dirinya sebagai pembimbing agama dan ahli strategi politik, memastikan kelangsungan hidup Republik Islam melalui kendali atas institusi-institusinya.” — John Murphy (58), World Leaders: Ali Khamenei (2008)
Tak mudah meresapkan legasi mendalam dari kekuasaan para mullah, salah satunya -lebih dari tiga dekade- telah dipawani secara mengagumkan oleh mendiang Ayatullah Sayyed Ali Huseini Khamenei (1939-2026).
Untuk menelusuri kedalaman legasi itu, dua referensi mutakhir digunakan untuk mendeskripsikan legasi tersebut.
Pertama, Cell No. 14: Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (2023), digambarkan bahwa Revolusi Islam Iran tetap merupakan peristiwa penting dalam sejarah.
Setengah abad yang lalu, dua kekuatan dunia yaitu Amerika dan Uni Soviet, berusaha mendominasi dunia, dengan perhatian khusus pada negara-negara Islam.
Invasi budaya, ekonomi, dan militer dilakukan untuk membangun hegemoni atas kawasan, dan Iran menjadi titik strategis karena letak geografis serta kekayaan minyaknya.
Bagi Washington, khususnya Iran adalah landasan rencana keamanan untuk melindungi kepentingan Barat di seluruh kawasan.
Pada tahun 1962, Imam Ayyatollah Ruhullah Khomeini muncul sebagai oposisi paling kuat terhadap dinasti Shah Pahlevi, yang mengecam kebijakan represif dan program Westernisasi.
Ia dipenjara dan diasingkan, sementara para aktivis Islam menderita penganiayaan.
Ketidakpuasan rakyat semakin besar, demonstrasi anti Shah meletus pada 1978, dan akhirnya Shah melarikan diri pada Januari 1979.
Imam Khomeini kembali ke Teheran dengan penuh kemenangan pada Februari 1979.
Salah satu narator memoar ini, Revolusi Islam Iran, kelak jadi organ utama revolusi, IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps), adalah Sayyid Ali Husseini Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 yang kala itu merupakan pendukung setia Imam Khomeini, aktif dalam kegiatan anti rezim dan berkali-kali dipenjara.
Memoar dari Cell No.14 yang dituturkan Khamenei dalam bahasa Arab dan menjadi deskripsi langsung tentang fase penting sejarah Iran yang implikasinya masih terasa hingga kini.
Pilihan Khamenei untuk menuturkan memoar ini dalam bahasa Arab, bukan Persia, berakar pada kecintaannya terhadap bahasa Arab sejak kecil, ketika ia mendengarkan lantunan Al-Qur’an bersama ibunya.
Kecintaan itu berkembang hingga ia tertarik pada puisi Arab dan menjadikannya medium ekspresi politik dan spiritual.
Dua dekade lalu, ia rutin mengadakan sesi mingguan dalam bahasa Arab, membicarakan isu-isu kontemporer sekaligus mengenang masa lalu.
Dari saran hadirin, memoar itu kemudian diterbitkan, dengan versi bahasa Arab yang didedikasikan untuk pemuda Arab.
Fokus utamanya adalah pengalaman Khamenei di penjara, menjadikannya memoar formal pertama yang diterbitkan oleh Kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
Legasi spiritualitas politik atau teopolitika Khamenei terletak pada perpaduan antara pengalaman pribadi, kecintaan pada bahasa dan tradisi Islam, serta keterlibatan langsung dalam revolusi.
Ia menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai pewaris spiritual Imam Khomeini atau lebih jauh ke dalam warisan ahlul bait dari Ali bin Abi Thalib, yang menjadikan kekuasaan sebagai arena dakwah, perlawanan, dan pembentukan identitas politik Islam paling telak hingga kini.
Dengan demikian, lebih dari tiga dekade kepemimpinannya telah mencerminkan kesinambungan antara spiritualitas dan politik, sebuah warisan yang terus membentuk wajah Iran dalam memengaruhi dinamika dunia Islam hingga hari ini.
Kedua, teopolitika mendiang Sayyid Ali Khamenei menjadi salah satu bab penting dalam sejarah kontemporer Iran, terutama setelah wafatnya Imam Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 4 Juni 1989.
Dalam pengantar The Regent of Allah: Ali Khamenei’s Political Evolution in Iran (2023) karya Mehdi Khalaji, suasana duka nasional digambarkan dengan jelas melalui siaran Radio Teheran yang menyatakan:
“Dengan nama Allah, Tuhan yang Maha Pengasih, Pemberi Rahmat. Kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali. Roh agung pemimpin revolusi, Yang Mulia Imam Ayatollah Ruhollah Khomeini, telah naik ke Kerajaan Yang Maha Tinggi.”
Kalimat ini menandai transisi besar dalam kepemimpinan Iran, ketika Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini.
Khalaji, seorang penulis dan analis politik kelahiran 21 September 1973, kini berusia 52 tahun dan masih aktif sebagai peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy, menyoroti bagaimana Khamenei membangun struktur kekuasaan yang kompleks.
Ia menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang piawai mengonsolidasikan kekuasaan melalui lapisan birokrasi di bidang militer, ekonomi, dan keagamaan, serta tidak segan melakukan pembersihan terhadap pejabat yang dianggap tidak loyal terhadap dirinya maupun doktrin velayat-e faqih (rule of the jurisprudent).
Namun, Khalaji juga menekankan sisi personal Khamenei yang penuh kompleksitas dimana di masa muda ia dikenal santai, mencintai sastra, dan menulis puisi, sementara dalam kepemimpinannya ia kadang menunjukkan fleksibilitas yang disebut sebagai “heroic flexibility,” seperti dalam perundingan nuklir 2015.
Naiknya Ali Khamenei ke tampuk kekuasaan merupakan kelanjutan yang signifikan dan misterius dari Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Rekaman video mengungkapkan bahwa ketika suara yang diberikan oleh Majelis Pakar dihitung dan suksesi diumumkan secara resmi, Khamenei tampak terkejut, bahkan tidak senang.
Selain keraguan tentang kredibilitas keagamaannya, banyak pengamat juga mempertanyakan kemampuan kepemimpinannya.
Sebuah editorial New York Times pada saat itu, yang secara sugestif berjudul “Setelah Karisma di Iran,” mencatat bahwa Khamenei memegang “pangkat ulama menengah” dan bahwa tidak mungkin dia dapat “menggantikan posisi Ayatollah Khomeini.“
Lahir pada 15 Juli 1939, di kota Mashhad di provinsi Khorasan, Iran, Sayyed Ali Hosseini Ayatollah Ali Khamenei adalah anak kelima (dan putra kedua) dari Javad Khamenei, seorang ulama biasa yang saleh, dan Khadija Mirdamadi, putri seorang ulama, Ayatollah Hashem Najafabadi Mirdamadi.
Ali lahir di sebuah rumah sederhana berlantai dua di dekat Jalan Nosratol Malek, di lingkungan lama, tempat ia menghabiskan seluruh masa kecil dan remajanya.
Di siang hari, semua orang terbiasa dengan suara mesin percetakan Khorasan, mesin cetak huruf lepas pertama di Mashhad, yang terletak di gang sempit yang sama.
Ali bersekolah di maktab (sekolah agama tradisional) sejak usia empat tahun untuk belajar membaca dan menulis, dan kemudian mulai belajar teologi Islam di seminari Mashhad.
Ketika berusia delapan belas tahun, ia pergi ke kota Najaf, Irak, dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan teologinya di sana, tetapi ayahnya memintanya untuk kembali ke Iran.
Ia kembali ke Mashhad setelah beberapa waktu, tetapi kemudian pergi ke Qom di Iran tengah untuk belajar teologi. Ali tinggal di Qom dari tahun 1958 hingga 1964 dan diperkenalkan kepada Khomeini di sana.
Dari tahun 1964 hingga Revolusi Islam 1979, Ali tinggal di Mashhad kecuali untuk sesekali memberikan khotbah keagamaan serta menjalani hukuman penjara (di Teheran) dan pengasingan.
Teopolitika Khamenei dengan demikian bukan sekadar kelanjutan dari garis revolusi Khomeini, melainkan sebuah evolusi politik yang menegaskan peran spiritualitas dalam struktur kekuasaan negara.
Ia menjadikan kepemimpinan religius sebagai fondasi legitimasi politik, sekaligus mengadaptasi strategi untuk mempertahankan stabilitas dalam menghadapi tekanan internal maupun eksternal.
Legasi ini memperlihatkan bagaimana spiritualitas dan politik berpadu dalam satu figur, menjadikan Khamenei bukan hanya pemimpin negara, tetapi juga simbol kesinambungan revolusi Islam Iran.
Dan setelah wafatnya akibat serangan Israel dan Amerika pada 28 Februari 2026 silam, denyut kematiannya justru makin mempersulit seteru-seteru eksternalnya memprediksi perlawanan yang telah ditanam lebih dari tiga dekade.(*)
#coversongs: “Ancient Persian March – Epic Music” oleh Empire Anthem dirilis pada 5 November 2025 sebagai bagian dari album Legacy of the Great King. Lagu ini bermakna sebagai penghormatan terhadap kejayaan peradaban Persia kuno, dengan nuansa musik epik yang menggambarkan kebesaran, kekuatan, dan semangat persatuan bangsa Persia.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



