Thursday, February 26, 2026
spot_img
HomeEkonomikaEtnapraya dan Ambisi Mengangkat Tas Kulit Batik ke Panggung Global

Etnapraya dan Ambisi Mengangkat Tas Kulit Batik ke Panggung Global

Etty Ariaty Soraya dengan latar produk Etnapraya dan perajinnya di Surabaya. (foto: dokumen pribadi).

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk fesyen yang otentik dan berkelanjutan, sebuah jenama (brand) tas kulit premium asal Surabaya mulai mencuri perhatian. Didirikan oleh alumnus Universitas Airlangga, Etty Ariaty Soraya, Etnapraya hadir dengan strategi yang memadukan warisan budaya lokal, kualitas premium, dan positioning sebagai brand bernilai tinggi.

Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu mendirikan Etnapraya setelah menyelesaikan studi magister industri kreatif di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia. Pengalaman akademik dan eksposur terhadap ekosistem kreatif global memperkuat visinya untuk membangun brand lokal dengan daya saing internasional.

“Saya melihat Indonesia memiliki potensi besar dalam industri kreatif, terutama produk berbasis budaya. Saya ingin menciptakan tas lokal premium yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki identitas yang kuat,” ujar Etty, Kamis (26/2/2026).

Etnapraya memposisikan diri di segmen premium leather handbag, dengan menggabungkan material kulit berkualitas tinggi dan motif batik khas Surabaya yang telah terverifikasi pemerintah kota. Pendekatan ini menjadi diferensiasi strategis di tengah pasar fesyen yang semakin kompetitif dan didominasi merek global.

Menurut Etty, kekuatan utama Etnapraya terletak pada komitmen terhadap kualitas dan proses produksi yang terkontrol. Setiap produk dikembangkan melalui koordinasi intensif antara pengrajin, tim desain, dan produksi untuk memastikan standar premium tetap terjaga.

“Kami tidak mengejar produksi massal. Fokus kami adalah kualitas, detail, dan konsistensi. Itu yang membangun kepercayaan konsumen dan nilai brand dalam jangka panjang,” ujarnya.

Strategi tersebut mencerminkan pendekatan value-driven branding, di mana eksklusivitas dan storytelling menjadi faktor utama dalam membangun positioning pasar.

Selain fokus pada kualitas, Etnapraya juga mengintegrasikan dampak sosial dalam rantai produksinya. Jenama ini bekerja sama dengan Wistara, sebuah inisiatif kreatif yang memberdayakan perajin batik penyandang disabilitas. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat identitas produk, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi inklusif.

“Bagi kami, membangun brand bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang dampak. Kami ingin tumbuh bersama ekosistem dan komunitas yang menjadi bagian dari perjalanan ini,” kata Etty.

Kemunculan Etnapraya mencerminkan tren yang lebih luas dalam industri fesyen global, di mana konsumen semakin menghargai produk yang menggabungkan kualitas, autentisitas, dan nilai sosial. Dalam lanskap tersebut, brand lokal dengan identitas kuat memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Dengan fondasi pada craftsmanship, diferensiasi budaya, dan visi jangka panjang, Etnapraya menempatkan diri sebagai bagian dari gelombang baru jenama Indonesia yang berupaya naik kelas, dari pasar domestik menuju panggung global.(*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular