UNAIR Kukuh sebagai Kampus Nomor Satu Indonesia dalam Pemeringkatan SDGs

UNAIR kukuh sebagai kampus nomor wahid di Indonesia dalam pemeringkatan SDG’s terbaru. (foto: UNAIR untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Universitas Airlangga (UNAIR) mempertahankan posisinya sebagai perguruan tinggi paling berdampak di Indonesia dalam pemeringkatan Times Higher Education Sustainability Impact Ratings 2026. Dalam daftar yang menilai kontribusi kampus terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) itu, UNAIR menempati peringkat ke-15 dunia.

Capaian tersebut diraih di tengah persaingan 1.646 perguruan tinggi dari 116 negara. Pemeringkatan yang sebelumnya dikenal sebagai THE Impact Rankings itu mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap 17 tujuan SDGs melalui empat pilar, yakni riset, tata kelola institusi, pengabdian kepada masyarakat, dan pembelajaran.

Prestasi itu melengkapi capaian UNAIR dalam pemeringkatan QS World University Rankings 2027. Dalam pemeringkatan tersebut, UNAIR menempati posisi ketiga perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan peringkat ke-276 dunia.

Rektor UNAIR Prof Muhammad Madyan mengatakan, posisi tersebut menjadi penanda bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Kampus juga dituntut menghadirkan solusi atas persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

”Universitas tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai akselerator perubahan yang menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan masyarakat,” kata Madyan melalui keterangan tertulis HUMAS UNAIR pada media ini, Kamis (25/6/2026).

Dalam sejumlah indikator SDGs, UNAIR mencatat posisi menonjol. Pada tujuan pengentasan kemiskinan atau SDG 1, UNAIR berada di peringkat pertama Indonesia dan kelima dunia. Capaian itu didukung oleh perluasan akses pendidikan melalui skema beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu serta program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Program pengabdian kampus juga menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta komunitas warga. Berbagai kegiatan, mulai dari bantuan sosial, pendampingan masyarakat, hingga program Kemilau Ramadan, diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga.

Pada indikator air bersih dan sanitasi atau SDG 6, UNAIR menempati peringkat pertama di Indonesia dan ke-11 dunia. Kontribusi tersebut antara lain melalui pengembangan akses sanitasi bersih di Gili Iyang, Madura, dan Agam, Sumatera Barat, penyediaan air minum di lingkungan kampus, serta pengelolaan air yang lebih berkelanjutan.

Di Surabaya, UNAIR juga terlibat dalam program sanitasi lingkungan, pengolahan limbah, dan gerakan satu jamban untuk satu rumah. Sejumlah program dijalankan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, dalam SDG 3 mengenai kehidupan sehat dan kesejahteraan, UNAIR menempati posisi pertama di Indonesia dan ke-13 dunia. Peran tersebut terlihat dari perluasan layanan kesehatan, riset kesehatan, serta penguatan program kesehatan berbasis masyarakat.

Mahasiswa UNAIR, misalnya, diterjunkan melalui program Belajar Bersama Komunitas untuk mendampingi posyandu, memberikan edukasi pencegahan stunting, serta memantau kesehatan ibu dan anak. Kampus itu juga mengoperasikan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga untuk menjangkau masyarakat di pulau-pulau terpencil.

Di bidang riset, UNAIR turut berkontribusi melalui pengembangan vaksin Covid-19 INAVAC atau Vaksin Merah Putih, serta penelitian obat berbasis bahan alam.

Untuk aksi iklim atau SDG 13, UNAIR berada di peringkat pertama nasional dan ke-86 dunia. Sejumlah langkah yang ditempuh antara lain penyelenggaraan Airlangga Forum mengenai mitigasi bencana iklim, keterlibatan dalam Festival Mangrove, kerja sama dengan lembaga kebencanaan dan organisasi nonpemerintah, serta pengabdian masyarakat yang berfokus pada mitigasi perubahan iklim.

UNAIR juga menempati peringkat ke-36 dunia pada SDG 2 tentang penghapusan kelaparan dan SDG 5 mengenai kesetaraan gender. Pada isu ketahanan pangan, kampus tersebut menjalankan edukasi gizi, pencegahan stunting, pemanfaatan pangan lokal, serta riset dan pendampingan masyarakat.

Adapun pada isu kesetaraan gender, UNAIR mengembangkan akses pendidikan yang setara, pemberdayaan perempuan, penguatan kepemimpinan, serta kebijakan kampus yang inklusif dan bebas diskriminasi. Program-program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat perlindungan kelompok rentan, kesehatan ibu dan anak, serta kapasitas keluarga dan komunitas.

Madyan menilai, capaian itu merupakan hasil dari upaya mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi ke dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola institusi, menurut dia, harus bergerak dalam satu arah: menghasilkan dampak nyata.

”Keberlanjutan bukan lagi agenda tambahan, melainkan bagian dari identitas universitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif sivitas akademika, alumni, pemerintah daerah, dan berbagai mitra. UNAIR, kata Madyan, akan terus memperkuat perannya sebagai penggerak pembangunan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan.(*)

Editor: Abdel Rafi