
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pemengaruh dakwah digital Lora Kadam Sidik mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO) di tengah derasnya arus informasi media sosial. Menurut dia, cara paling efektif untuk terbebas dari budaya ikut-ikutan adalah mengembalikan setiap persoalan kepada ahlinya, membangun lingkungan pergaulan yang sehat, serta membiasakan berpikir kritis disertai doa.
Pesan itu disampaikan Lora Kadam Sidik di hadapan ribuan peserta Majelis Subuh Generasi Z Islami (GenZI) bertema “Merdeka dari FOMO” di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).
“Kalau ingin memahami agama, bertanyalah kepada kiai. Kalau soal kesehatan, kepada dokter. Kalau ingin belajar bisnis, kepada pelaku usaha. Jangan menjadikan kolom komentar media sosial sebagai rujukan utama,” ujarnya.
Menurut Kadam Sidik, tidak semua informasi yang beredar di ruang digital layak dipercaya ataupun dibagikan kembali. Bahkan ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan pakar, masyarakat tidak perlu ikut memperuncing perdebatan.
“Kalau para ahli berbeda pandangan, kita cukup memilih pendapat yang diyakini paling kuat tanpa harus menyerang pendapat lain. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya pengaruh lingkungan pertemanan terhadap perilaku generasi muda. Dengan durasi penggunaan gawai yang bisa mencapai 10 hingga 15 jam setiap hari, pergaulan di dunia digital dinilai memiliki dampak yang sama besarnya dengan lingkungan nyata.
Karena itu, ia mengajak generasi muda membangun lingkar pertemanan yang menjunjung adab, saling mengingatkan, dan tidak mudah terpengaruh oleh tren yang belum tentu benar.
“Jangan semua influencer atau selebritas dijadikan rujukan. Ada bidang yang memang harus diserahkan kepada orang yang memiliki kompetensi,” ujarnya.
Kadam Sidik juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, termasuk dengan guru atau tokoh yang dihormati. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan sikap hormat dan adab.
Selain kembali kepada kepakaran dan menjaga lingkungan pergaulan, ia menilai kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting menghadapi derasnya arus informasi. Menurut dia, popularitas suatu informasi tidak selalu menjadi ukuran kebenaran.
“Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, algoritma, atau banyaknya komentar. Sesuatu yang viral belum tentu benar, dan sesuatu yang benar belum tentu menjadi viral,” katanya.
Ia menambahkan algoritma media sosial kerap menciptakan ilusi bahwa sesuatu yang banyak diikuti pasti benar. Padahal, tanpa sikap kritis, seseorang dapat dengan mudah mengikuti tren yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya.
Menutup tausiahnya, influencer ternama nasional asal Madura itu mengajak generasi muda untuk selalu memohon petunjuk kepada Allah agar diberi kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan di tengah maraknya disinformasi.
“Berpikir kritis itu penting, tetapi jangan lupakan doa. Semoga Allah menjaga kita agar tidak menganggap yang salah sebagai benar, dan tidak menganggap yang benar sebagai salah,” ujarnya.
Untuk diketahui, kegiatan Majelis Subuh Generasi Z Islami merupakan agenda rutin yang diselenggarakan Remaja Masjid dan GenZI Masjid Nasional Al Akbar Surabaya sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus literasi digital bagi kalangan muda.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








