
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Gelombang wisatawan Malaysia yang datang untuk berbelanja dan berlibur ke Indonesia belakangan semakin terlihat di sejumlah daerah tujuan wisata dan perdagangan. Di balik fenomena yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah itu, terdapat peluang ekonomi yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Airlangga (HI UNAIR), Sarah Anabarja, menilai meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia merupakan dampak langsung dari menguatnya nilai ringgit terhadap rupiah. Kondisi tersebut membuat biaya berwisata, berbelanja, hingga menikmati berbagai layanan di Indonesia menjadi lebih murah bagi warga negara tetangga.
Fenomena itu terlihat di sejumlah wilayah yang memiliki kedekatan geografis dengan Malaysia, seperti Batam dan Medan, hingga destinasi wisata unggulan seperti Bali. Namun, menurut Sarah, meningkatnya arus wisatawan tersebut tidak semata-mata dapat dijelaskan melalui pendekatan ekonomi konvensional.
Dalam perspektif Hubungan Internasional, kata dia, fenomena tersebut mencerminkan adanya ketimpangan daya ekonomi (asymmetric economic power) yang dipengaruhi oleh kedekatan geografis, sosial, dan budaya antara Indonesia dan Malaysia. Ketika rupiah melemah, masyarakat Malaysia memperoleh keuntungan nilai tukar yang mendorong aktivitas belanja lintas batas (cross-border shopping).
“Keuntungan kurs menciptakan insentif yang kuat bagi masyarakat Malaysia untuk datang ke Indonesia. Namun, faktor kedekatan budaya dan hubungan antarmasyarakat yang telah berlangsung lama juga berperan penting dalam mendorong mobilitas tersebut,” ujar Sarah, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, hubungan Indonesia dan Malaysia selama ini dibangun oleh jaringan yang tidak hanya bersifat formal, tetapi juga informal. Aktivitas perdagangan lokal, sektor pariwisata, hingga hubungan keluarga di kawasan perbatasan menjadi fondasi yang memperkuat interaksi kedua negara.
Karena itu, pelemahan rupiah lebih tepat dipandang sebagai pemicu yang mengaktifkan kembali jaringan hubungan yang telah lama terbentuk. Dalam kajian Hubungan Internasional, kondisi tersebut dikenal sebagai complex interdependence atau saling ketergantungan yang kompleks.
“Ketika satu saluran hubungan melemah, misalnya investasi formal, saluran lain seperti konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi lintas batas justru dapat menguat sebagai mekanisme penyeimbang. Ini menunjukkan adanya daya tahan struktural dalam hubungan kedua negara,” katanya.
Sarah menilai dampak paling nyata dari meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia dirasakan oleh pelaku ekonomi akar rumput. Belanja yang dilakukan wisatawan secara langsung menggerakkan sektor UMKM, perdagangan tradisional, perhotelan, transportasi lokal, hingga usaha kuliner.
Menurut dia, aliran uang dari aktivitas wisata tersebut lebih cepat dirasakan masyarakat dibandingkan berbagai program stimulus yang harus melewati proses birokrasi panjang. Bahkan, dalam skala regional, perbedaan nilai tukar telah mempercepat integrasi pasar informal di Asia Tenggara melalui interaksi ekonomi yang tumbuh secara alami.
Meski demikian, peluang tersebut dinilai masih kerap terlewat. Sarah mengkritik pendekatan pemerintah yang dinilai masih bersifat reaktif dan belum menjadikan wisata belanja lintas batas sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang.
“Selama ini kita cenderung menikmati dampaknya tanpa benar-benar menyiapkan kebijakan yang mampu mengubah fenomena tersebut menjadi keuntungan berkelanjutan. Akibatnya, Indonesia berisiko hanya dipandang sebagai destinasi murah yang ramai ketika kurs sedang menguntungkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, tanpa langkah yang lebih strategis, peningkatan kunjungan wisatawan Malaysia hanya akan menjadi fenomena musiman yang menghilang ketika nilai tukar kembali normal.
Karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat infrastruktur pendukung wisata belanja, mulai dari perluasan sistem pembayaran digital lintas negara melalui optimalisasi QRIS antarnegara, peningkatan perlindungan konsumen asing, hingga penyederhanaan berbagai layanan yang menunjang mobilitas wisatawan.
Lebih jauh, Sarah menilai momentum meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia dapat dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi ekonomi Indonesia. Selain memperkuat citra Indonesia sebagai tujuan wisata dan belanja regional, peluang tersebut juga dapat menjadi pintu masuk bagi perluasan akses UMKM Indonesia ke pasar Malaysia.
“Jika dikelola dengan baik, fenomena ini bukan sekadar efek dari pelemahan rupiah. Ini bisa menjadi modal diplomasi ekonomi yang memperkuat daya saing Indonesia sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal,” katanya.(*)
Kontributor: Maia Ch
Editor: Abdel Rafi








