
SEOUL, CAKRAWARTA.com – Kabar mengejutkan datang dari Starbucks Korea. Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun sejak beroperasi pada 1999, seluruh lebih dari 2.110 gerai Starbucks di Korea Selatan akan tutup lebih awal secara serentak pada 22 Juni mendatang.
Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini langsung memicu rasa penasaran publik. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ternyata, keputusan tersebut merupakan buntut dari gelombang kritik keras yang menghantam Starbucks Korea setelah kampanye pemasaran bertajuk “Tank Day” menuai kontroversi besar.
Kampanye itu diluncurkan bertepatan dengan peringatan Tragedi Gwangju 1980, sebuah peristiwa bersejarah yang sangat sensitif bagi masyarakat Korea Selatan karena berkaitan dengan perjuangan demokrasi dan korban kekerasan negara pada masa lalu.
Banyak warga menilai kampanye tersebut tidak peka terhadap memori sejarah bangsa. Reaksi publik pun meluas dengan cepat di media sosial, disertai seruan boikot yang disebut berdampak pada penurunan penjualan perusahaan.
Menghadapi tekanan yang terus membesar, perusahaan induk Starbucks Korea, Shinsegae Group, mengambil langkah yang tidak biasa.
Pada 22 Juni nanti, seluruh gerai Starbucks Korea akan menghentikan operasional lebih awal pada pukul 15.00 waktu setempat. Bukan untuk efisiensi bisnis atau renovasi, melainkan agar seluruh karyawan dapat mengikuti pelatihan khusus mengenai kesadaran sejarah dan sensitivitas sosial.
Total sekitar 23.000 karyawan dan eksekutif akan mengikuti program tersebut.
Yang menarik, pelatihan itu tidak hanya diikuti pegawai tingkat bawah. Chairman Shinsegae Group, Chung Yong Jin, bersama jajaran pimpinan perusahaan juga diwajibkan mengikuti sesi yang sama.
Program pelatihan akan dipandu oleh para profesor dan akademisi yang memiliki keahlian di bidang sejarah, budaya, dan isu-isu sosial Korea.
Dalam pernyataannya, Shinsegae Group mengakui perlunya perbaikan sistem agar insiden serupa tidak terulang.
Perusahaan berencana menerapkan mekanisme penyaringan yang lebih ketat terhadap seluruh kampanye pemasaran maupun aktivitas komunikasi publik. Sistem tersebut akan mencakup pemeriksaan terhadap isu-isu sensitif seperti sejarah, politik, gender, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai langkah penutupan massal dan pelatihan nasional ini hanyalah awal dari proses pemulihan kepercayaan publik.
Menurut mereka, masyarakat akan menilai bukan dari besarnya permintaan maaf atau pelatihan yang digelar, melainkan dari konsistensi perusahaan dalam menunjukkan perubahan nyata dalam jangka panjang.
Terlepas dari perdebatan yang masih berlangsung hingga berita ini diturunkan, 22 Juni 2026 mendatang jelas akan menjadi hari yang tidak biasa dalam sejarah Starbucks Korea. Karena, saat ribuan pelanggan biasanya memesan latte, cappuccino, atau americano, lebih dari 2.110 gerai Starbucks justru akan menghentikan aktivitasnya.
Sebuah pemandangan langka yang belum pernah terjadi sejak merek kopi raksasa itu menginjakkan kaki di Korea Selatan seperempat abad lalu.(*)
Kontributor: Rika
Editor: Abdel Rafi








