
“Kecenderungan untuk menciptakan hal-hal hebat yang membawa konsekuensi tak terduga tidak bermula dari penemuan mesin uap ataupun AI, melainkan dari penemuan agama. Para nabi dan teolog telah memanggil roh-roh perkasa yang diharapkan dapat membawa kasih dan sukacita, namun terkadang justru berujung pada membanjirnya dunia dengan darah.” — Yuval Noah Harari (50), Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI (2024).
Mengulik sedikit fenomena dai-dai daring atau televangelis dua dekade ini, bisa menjadi pertunjuk seberapa besar ruang pertobatan personal (conversion narrative) meluas ke publik nasional maupun global.
Mengacu karya tulis ilmiah Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani (56), dimuat dalam jurnal The Muslim World volume 110 nomor 2 tahun 2020, berjudul “Muslim Televangelists in the Making: Conversion Narratives and the Construction of Religious Authority”, terbetik sedikit pencermatan pada fenomena dai-dai daring atau televangelis berikut.
Artikel Burhani memberikan analisis yang sangat tajam dan mendalam mengenai lanskap media keagamaan kontemporer, khususnya terkait dinamika transformasi otoritas keagamaan di ruang publik digital.
Dalam artikel tersebut, Najib Burhani yang meraih Professor Charles Wendell Memorial Award dari UCSB (2013) dan 100 Tokoh Alumni Terkemuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2020), menyoroti bagaimana narasi pertobatan personal(conversion narratives) kerap kali dimanfaatkan secara strategis oleh figur-figur tertentu untuk membangun legitimasi keagamaan dan panggung popularitas di hadapan audiens luas.
Melalui pemanfaatan media penyiaran serta platform digital, narasi-narasi transisional ini tidak sekadar menjadi kesaksian spiritual privat, melainkan dikemas sedemikian rupa menjadi komoditas dakwah publik yang efektif untuk merebut perhatian massa.
Kajian ini sangat erat kaitannya dengan fenomena kemunculan para pendakwah daring atau dai-dai digital di era modern yang mengandalkan platform seperti YouTube, podcast, dan media sosial untuk menyebarkan pengaruh keagamaan mereka di luar struktur otoritas keulamaan konvensional.
Sebagaimana disinggung dalam dinamika mediasi agama, para penceramah daring ini sering kali mengonstruksi bentuk otoritas alternatif dengan memanfaatkan daya tarik personal, kisah-kisah hidup yang dramatis, serta pemanfaatan teknologi komunikasi yang cair tanpa harus melalui jenjang pendidikan pesantren atau institusi keagamaan arus utama yang mapan.
Dalam konteks kemunculan para dai daring ini, Najib Burhani sebagai peraih 75 Ikon Prestasi Pancasila bidang Sains dan Inovasi dari BPIP (2020) dan Peneliti Terbaik LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (2020), menggarisbawahi bagaimana lanskap digital memberikan ruang terbuka bagi siapa saja untuk membangun basis pengikut secara cepat.
Singkatnya, para kreator konten religi dapat mengemas pesan-pesan keislaman dengan corak populis dan kemasan visual yang menarik.
Berdasarkan kerangka analisis tersebut, fenomena maraknya dai daring di ruang siber dapat dipahami sebagai bagian dari proses mediatisasi agama.
Hal ini dimaksud bahwa legitimasi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh otoritas tradisional.
Melainkan pula, melalui kemampuan individu dalam mengelola narasi, memproduksi konten yang memikat, serta memanfaatkan platform digital secara masif untuk menjangkau audiens lintas segmen.
Terkait perbandingan antara dai-dai daring dan kepeloporan televangelis di Barat, khusus Amerika, bisa diulas ringkas berikut.
Sejarah televangelisme di Amerika Serikat mengakar dari tradisi kebangunan rohani (revivalism) abad ke-19 yang berevolusi pesat seiring ditemukannya media massa modern pada abad ke-20.
Beralih dari stasiun radio lokal ke siaran televisi nasional pada pertengahan abad ke-20, para pengkhotbah memanfaatkan daya jangkau visual untuk menyampaikan pesan keagamaan secara masif.
Fenomena ini mencapai puncaknya pada era 1970-an dan 1980-an, didorong oleh tumbuhnya jaringan televisi kabel dan denominasi-denominasi Kekristenan yang sangat beragam, terutama aliran Pentakosta, Karismatik, dan Evangelikal fundamentalis.
Tokoh-tokoh seperti Jimmy Swaggart yang seorang pengkhotbah aliran Pentakosta yang juga penyanyi musik gospel, bersama figur lain seperti Jim Bakker, Pat Robertson, dan Oral Roberts, berhasil mengumpulkan jutaan pengikut serta menggalang dana dalam jumlah fantastis melalui khotbah dramatis, panggung megah, dan penekanan pada mukjizat, keselamatan, serta “prosperity gospel.”
Kendati dikritik karena komersialisasi iman dan kerap diterpa skandal moral serta keuangan yang memicu keruntuhan kredibilitas beberapa pengkhotbah utama pada akhir 1980-an, televangelisme tetap menjadi lanskap penting dalam mengamati bagaimana agama beradaptasi dengan teknologi komunikasi massa.
Fenomena evolusi keagamaan dan fungsi sosial-biologis dari iman ini, telah dibedah secara kritis oleh filsuf dan ilmuwan kognitif Amerika Serikat, Daniel Dennett (1942-2024), dalam bukunya yang terkenal, Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon (2006).
Dalam karya tersebut, Dennett memeriksa agama sebagai fenomena alamiah yang bertransformasi. Di antaranya, televangelisme menjadi salah satu bentuk manifestasi modern dari bagaimana lembaga keagamaan dan memetika budaya mengeksploitasi media populis untuk mempertahankan kelangsungan hidup serta pengaruh doktrin keagamaan di tengah masyarakat modern.
Dengan demikian, ditinjau dari sejarah biologi iman, kemunculan dai-dai daring maupun populer dengan sebutan televangelis, evolusi agama dalam arti luas merupakan keniscayaan sejarah.
Akhirnya, fenomena dai-dai daring dan televangelis di era digital serta artificial intelligence atau akal imitasi (AI) menandai pergeseran mendasar dalam cara otoritas keagamaan dikonstruksi, disebarkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat modern.
Jika televangelisme era klasik mengandalkan siaran televisi satu arah untuk membangun panggung karismatik, era digital dan AI melipatgandakan jangkauan tersebut melalui algoritma personalisasi, interaktivitas media sosial, hingga pemanfaatan avatar digital dan narasi terotomatisasi yang mampu menjangkau audiens secara presisi.
Transformasi ini mempercepat komodifikasi dan mediatisasi agama, di mana legitimasi seorang pendakwah kerap kali ditentukan oleh popularitas digital, kepiawaian mengemas konten populis, dan kemampuan mengelola narasi personal ketimbang kualifikasi keilmuan institusional tradisional.
Di satu sisi, demokratisasi media keagamaan ini memperluas akses informasi dan ruang ekspresi spiritual lintas batas.
Namun di sisi lain, integrasi teknologi AI dan media daring menghadirkan tantangan baru berupa fragmentasi otoritas, maraknya komersialisasi iman, serta risiko desinformasi keagamaan yang semakin sulit diverifikasi di tengah arus konten siber yang begitu masif.(*)
#coverlagu: Lagu “Jalan Dakwah” dari grup nasyid Fathul Jihad dirilis pada tahun 2008. Lagu ini merupakan salah satu trek utama dalam album mereka yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang.
Jakarta, 12 Oktober 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








