Sunday, January 4, 2026
spot_img
HomeInternasionalSoal “Super Flu”, REKAN Indonesia: Terlalu Dibesar-besarkan, Akar Persoalan Tak Pernah Dibuka!

Soal “Super Flu”, REKAN Indonesia: Terlalu Dibesar-besarkan, Akar Persoalan Tak Pernah Dibuka!

Ilustrasi.

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Ketua Umum Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia, Agung Nugroho, menilai isu “super flu” yang belakangan ramai diberitakan merupakan penyakit yang dibingkai secara berlebihan melalui narasi alarmistik. Menurut dia, kondisi tersebut bukan fenomena luar biasa, tetapi menjadi sumber kepanikan publik akibat amplifikasi informasi.

“Ini penyakit biasa yang kemudian diamplifikasi. Bukan hanya oleh media, tetapi juga oleh ekosistem teknologi dan komunikasi yang bekerja hari ini,” ujar Agung kepada wartawan, Sabtu (3/1/2026), di Jakarta.

Agung menduga, paparan teknologi tertentu ikut berkontribusi dalam memperberat dampak penyakit di masyarakat. Ia menyebut gelombang 5G sebagai faktor yang, menurutnya, perlu dikaji lebih terbuka.

“Ada indikasi gelombang elektromagnetik memperburuk kondisi tubuh yang sudah rentan. Namun, pembahasan ini selalu dihindari,” katanya.

Ia mempertanyakan arah diskursus publik yang dinilai terus berfokus pada gejala penyakit, sementara sumber persoalan yang lebih mendasar tidak pernah dibuka. Agung menyinggung praktik chemtrail dan geo-engineering sebagai isu yang, menurutnya, kerap dikesampingkan.

“Begitu disebut, langsung dilabeli teori konspirasi. Padahal yang dibutuhkan adalah keterbukaan kajian, bukan pembungkaman,” ujarnya.

Agung juga menyinggung kondisi kesehatan sebagian masyarakat pascaprogram vaksinasi massal. Menurut dia, terdapat kelompok yang mengalami penurunan daya tahan tubuh setelah vaksinasi, namun isu tersebut jarang mendapat ruang diskusi yang proporsional.

“Ini pengalaman empiris di lapangan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh dibahas,” katanya.

Ketua Umum REKAN Indonesia, Agung Nugroho. (foto: Dokumen Pribadi)

Ia menilai pendekatan kesehatan global saat ini cenderung menyederhanakan persoalan. “Setiap krisis direduksi menjadi urusan virus. Padahal tubuh manusia, lingkungan, teknologi, dan kebijakan global saling terkait. Jika sumber masalah tidak disentuh, penyakit akan terus muncul dengan nama baru,” ujar Agung.

Dalam konteks itu, ia menyoroti peran World Health Organization yang dinilainya berpengaruh besar dalam membentuk narasi kesehatan global. Rekomendasi lembaga tersebut, menurut Agung, kerap diadopsi negara tanpa ruang kritik yang memadai.

“Ketika satu narasi dikunci sebagai kebenaran tunggal, ruang nalar publik otomatis menyempit,” katanya.

Agung menegaskan pihaknya tidak menolak upaya pencegahan penyakit. Namun, kewaspadaan publik, menurut dia, seharusnya tidak dibangun di atas ketakutan semata.

“Yang berbahaya bukan penyakitnya, melainkan ketika ketakutan diproduksi terus-menerus tanpa keberanian membuka sumber persoalan yang sebenarnya,” ujarnya.

Jika pola tersebut berlanjut, Agung mengingatkan bahwa kesehatan berisiko bergeser dari urusan kemanusiaan menjadi instrumen kendali. “Pada titik itu, warga tidak lagi diposisikan sebagai subjek kesehatan, melainkan objek kebijakan global,” katanya mengingatkan. (*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular