Sunday, January 4, 2026
spot_img
HomePendidikanLonjakan Perceraian di Surabaya Disorot, Ustadz Syarifudin: Keluarga Kehilangan Pegangan Spiritual!

Lonjakan Perceraian di Surabaya Disorot, Ustadz Syarifudin: Keluarga Kehilangan Pegangan Spiritual!

Ustadz Syarifuddin bersama jamaah Kebraon Mengaji di Masjid Muhajirin beberapa waktu lalu. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Angka perceraian di Surabaya kembali meningkat sepanjang 2025. Data Pengadilan Agama Surabaya mencatat, terdapat 6.080 perkara perceraian yang masuk selama tahun 2025, naik 436 perkara dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 5.644 perkara.

Dari total perkara tahun 2025 tersebut, 1.611 merupakan cerai talak dan 4.469 cerai gugat. Mayoritas gugatan dikabulkan majelis hakim.

“Perceraian di 2025 dibandingkan dengan 2024 itu mengalami peningkatan,” ujar Humas PA Surabaya, Abdul Mustofa, Jumat (2/1/2026).

Abdul menyebutkan, faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama perceraian. Selain itu, perselingkuhan, ketidakbertanggungjawaban pasangan, serta Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) turut menjadi alasan dominan pengajuan gugatan.

Lonjakan angka perceraian ini mendapat perhatian dari Pengasuh Kebraon Mengaji, Ustadz Syarifudin. Dalam pandangannya, persoalan rumah tangga tidak bisa dilepaskan dari krisis pegangan spiritual di tengah masyarakat.

“Banyak masyarakat yang ndak punya pegangan. Ndak ada tradisi taklim, ndak ada tradisi sabar, ndak ada tradisi syukur. Akhirnya ndak ada tradisi menjadi cahaya bagi pasangan,” kata Syarifudin, Sabtu (3/1/2026) sore.

Ia menilai, jika pola kehidupan umat tidak berubah, angka perceraian berpotensi terus meningkat. Menurutnya, ajaran Nabi Muhammad seharusnya menjadi rujukan utama dalam membangun ketahanan keluarga.

“Angka-angka ini, kalau kehidupan umat tetap tidak berubah, akan semakin naik. Nabi membawa cahaya, tapi kalau umat tidak mau mengambil cahaya-Nya, ya bagaimana lagi,” ujar alumnus Ponpes Tarbiyatul Tholabah, Lamongan itu.

Sebagai upaya konkret, sejak bulan Muharram lalu, lanjutnya, Kebraon Mengaji menginisiasi gerakan one day one hadis yang difokuskan pada penguatan ketahanan keluarga. Materi kajian mencakup hadis tentang peran suami, cara menghadapi kebiasaan mengeluh dalam rumah tangga, hingga memahami karakter perempuan sesuai fitrahnya.

Syarifudin menekankan, perbaikan keluarga harus dilakukan dari dua sisi. Namun, ia melihat perempuan memiliki peran strategis dalam membawa perubahan di dalam rumah tangga.

“Target kami mencetak perempuan kaliber Ummu Sulaim, yang bisa menjadi cahaya dan memperbaiki keluarganya. Kalau perempuannya kena cahaya, insya Allah suaminya ikut baik,” kata alumnus Tafsir Hadist dan Ilmu Quran, UINSA itu.

Ia juga mengingatkan bahwa faktor ekonomi semata tidak cukup menjelaskan tingginya angka perceraian. “Semua bicara ekonomi, tapi faktanya artis sekelas Deddy Corbuzier saja sudah dua kali bercerai. Intinya, pikiran yang kosong tanpa petunjuk,” ujarnya.

Menurut Syarifudin, tanpa penguatan nilai dan tradisi keagamaan yang konsisten, keluarga rentan rapuh menghadapi tekanan sosial dan ekonomi yang kian kompleks.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular