
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Insiden pelanggaran aturan dalam sebuah konser musik yang semula bersifat lokal dapat berkembang menjadi konflik lintas negara di ruang digital. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial mampu mengubah peristiwa individual menjadi sentimen kolektif yang melibatkan identitas kelompok.
Sosiolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Syamsiyah, menjelaskan bahwa ruang digital memungkinkan suatu peristiwa dimaknai secara lebih luas, bahkan melampaui konteks awalnya.
“Insiden yang awalnya bersifat situasional dapat berubah menjadi simbol representasi kelompok tertentu. Ketika sudah sampai pada titik itu, konflik tidak lagi dipahami sebagai tindakan individu, tetapi sebagai konflik antar identitas kolektif,” ujarnya di Surabaya, Selasa (24/2/2026).
Menurut Nur Syamsiyah, perkembangan teknologi digital membuat setiap peristiwa dapat dengan mudah direkam, dibagikan, dan ditafsirkan ulang oleh publik lintas negara. Proses ini mempercepat terbentuknya persepsi kolektif, yang sering kali disertai generalisasi terhadap kelompok tertentu.
Alih-alih membahas tindakan individu secara spesifik, perdebatan di media sosial kerap bergeser menjadi penilaian terhadap asal negara, budaya, atau identitas kelompok.
“Ruang digital memungkinkan eskalasi konflik dari ranah individu menjadi konflik antar kelompok. Generalisasi inilah yang kemudian memperkuat prasangka,” katanya.
Ia menambahkan, konflik digital dapat berkembang tanpa memerlukan kedekatan geografis maupun mobilisasi fisik. Dalam waktu singkat, perdebatan dapat melibatkan banyak pihak dari berbagai negara, sehingga memperluas skala konflik secara signifikan.
Peran algoritma media sosial juga dinilai mempercepat eskalasi konflik. Konten yang memicu emosi, seperti kemarahan atau ketersinggungan, cenderung lebih mudah tersebar dan mendapatkan perhatian luas.
Dalam situasi tersebut, muncul solidaritas internal kelompok sebagai respons terhadap apa yang dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Nur Syamsiyah mengaitkan fenomena ini dengan teori konflik sosiolog Lewis A. Coser, yang menyebut konflik eksternal dapat memperkuat kohesi internal kelompok.
“Ketika identitas kelompok dianggap diserang, solidaritas internal menguat sebagai bentuk pertahanan simbolik,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran sosial dalam menyikapi peristiwa di ruang digital. Kemampuan memverifikasi informasi, memahami konteks, dan menghindari generalisasi menjadi kunci untuk mencegah konflik semakin meluas.
Menurut dia, tanpa sikap kritis dan reflektif, konflik digital berpotensi memperburuk relasi sosial dan memperkuat stereotip antar kelompok, bahkan lintas negara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, batas geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi terbentuknya konflik sosial. Sebaliknya, ruang digital telah menjadi arena baru yang mampu mempercepat terbentuknya solidaritas sekaligus memperbesar potensi konflik antar kelompok masyarakat global.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



