
“Teori kuantum dengan demikian mengungkapkan kesatuan mendasar alam semesta. Teori ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat menguraikan dunia menjadi unit-unit terkecil yang ada secara independen. Saat kita menembus materi, alam tidak menunjukkan kepada kita ‘blok bangunan’ yang terisolasi, melainkan tampak sebagai jalinan hubungan yang rumit antara berbagai bagian dari keseluruhan.” — Fritjof Capra (87) dalam The Tao of Physics (1975)
Universalitas perintah puasa dalam Islam, meski baru berlaku di dunia Islam pada tahun kedua hijriah atau setara 623-624 masehi, merupakan risalah Nabi Muhammad yang teraktualisasi melalui Quran.
Karena itu, puasa perlu dirujuk bukan hanya sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai etape spiritual yang memiliki resonansi universal.
Akan tetapi, paradoksnya, ibadah ini dalam Islam hanya diserukan kepada mereka yang beriman (ayyuhal lazina amanu) dengan tujuan khusus agar manusia beriman mencapai puncak spiritualitasnya berupa ketaqwaan (la allakum tattaqun).
Memasuki analisis tujuan dan capaian khusus dalam puasa sebagai praktek spiritual lain dari Taoisme, dua pemikir Islam mutakhir dikedepankan dalam membahas relasi dengan Taoisme sebagai perspektif penting.
Pertama, Sachiko Murata, lahir 1943 di Asahikawa, Jepang, kini berusia 83 tahun dan masih aktif sebagai profesor emeritus di Stony Brook University, juga dikenal sebagai pakar perbandingan filsafat Timur dan Islam.
Dalam Chinese Gleams of Sufi Light (2000), Murata menerjemahkan dan mengulas karya dua ulama Muslim Tiongkok abad ke-17–18, Wang Daiyu (Great Learning of the Pure and Real) dan Liu Zhi (Displaying the Concealment of the Real Realm).
Keduanya berusaha menjembatani sufisme Islam dengan tradisi filsafat Tiongkok, khususnya Neo-Konfusianisme dan Taoisme.
Untuk istilah puasa (ṣawm) sendiri dipandang sebagai disiplin spiritual utama dalam Islam yang beresonansi dengan praktik pengendalian diri dalam Taoisme.
Wang Daiyu, misalnya, menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menyucikan jiwa.
Hal itu mirip dengan konsep Tao tentang menyeimbangkan energi (qi) dan menahan keinginan duniawi.
Sementara Liu Zhi sendiri menafsirkan puasa sebagai jalan menuju harmoni kosmik. Dengan menahan diri, manusia menyelaraskan diri dengan hukum Ilahi. Dalam bahasa Tiongkok hal itu dihubungkan dengan prinsip Dao.
Murata menunjukkan bahwa dalam konteks Tiongkok, puasa dipahami bukan hanya ritual, tetapi bagian dari filsafat moral dan kosmologi yang dapat diterima oleh masyarakat Konfusian dan Taois.
Dengan demikian, kedua ulama Muslim Tiongkok itu mengartikulasikan puasa sebagai praktik spiritual yang sejalan dengan tradisi lokal, sehingga Islam dapat diterima dalam kerangka budaya Tiongkok.
Lebih lanjut, dalam The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic Thought (1992), Murata menjelaskan bahwa hakikat “Tao Islam” adalah struktur kosmologi yang menekankan keseimbangan dan keterhubungan segala sesuatu dalam realitas.
Ia menulis bahwa Islam, seperti Tao, melihat Tuhan sebagai sumber yang mencakup semua oposisi mulai dari kelembutan dan kekerasan, rahmat dan murka, hingga maskulin dan feminin, sehingga seluruh pasangan berlawanan menemukan kesatuan dalam diri-Nya.
Murata menyimpulkan bahwa esensi Tao Islam adalah memahami kosmos sebagai jaringan relasi yang saling melengkapi, di mana sifat-sifat Ilahi menampung kontradiksi dan menyatukannya dalam harmoni.
Lain lagi, Toshihiko Izutsu (1914–1993), sarjana Jepang yang mendalami Islam, sufisme, dan filsafat perbandingan dimana dalam Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (1983), ia memulai dengan analisis mendalam atas konsep ontologis Ibn ‘Arabi, terutama gagasan wahdat al-wujud atau kesatuan eksistensi.
Ia kemudian membandingkannya dengan konsep Taoisme klasik yaitu Lao Tzu dengan Dao (道) sebagai prinsip kosmik yang tak terkatakan, dan Chuang Tzu dengan penekanan pada spontanitas, relativitas, serta “puasa pikiran” (xin zhai).
Relasi Ibn ‘Arabi dan Taoisme ditunjukkan melalui kesamaan pandangan bahwa realitas tertinggi yang tak dapat dijelaskan dengan bahasa biasa, melainkan hanya bisa dialami secara langsung.
Lao Tzu dan Ibn ‘Arabi sama-sama melihat prinsip tertinggi sebagai sumber segala sesuatu, transenden sekaligus imanen.
Demikian halnya, Chuang Tzu dan Ibn ‘Arabi sama-sama menekankan pelepasan ego dan keterikatan, sehingga manusia dapat menyatu dengan realitas mutlak.
Akhirnya, Izutsu berkesimpulan bahwa walau tidak ada hubungan historis antara sufisme Ibn ‘Arabi dan Taoisme klasik, pola pemikiran keduanya menunjukkan kesamaan struktural yang memungkinkan dialog lintas tradisi.
Berikut, prinsip Tao klasik menurut Lao Tzu sebagaimana tertuang dalam Dao De Jing (道德經), yang berpusat pada gagasan bahwa Dao adalah “Jalan” atau prinsip kosmik yang melandasi seluruh realitas.
Lao Tzu menekankan bahwa Dao bersifat tak terkatakan, transenden sekaligus imanen, dan menjadi sumber dari segala sesuatu.
Beberapa inti prinsip ajaran Tao (Dao) menurut Lao Tzu ditunjukkan sebagai berikut:
1. Kesederhanaan dan spontanitas: hidup selaras dengan Dao berarti kembali pada kesederhanaan alami, tanpa paksaan.
2. Wu wei (無為): “non-aksi” atau bertindak tanpa melawan aliran alam, membiarkan segala sesuatu berkembang sesuai ritme kosmik.
3. Relativitas dan keseimbangan menunjukkan bahwa segala sesuatu memiliki pasangan berlawanan (yin–yang), dan harmoni tercapai ketika keduanya saling melengkapi.
4. Keterhubungan universal antara manusia, alam, dan kosmos bukan entitas terpisah, melainkan bagian dari jaringan yang saling terkait.
Walhasil, dalam bahasa Tiongkok, istilah untuk puasa dalam konteks Islam biasanya diterjemahkan sebagai 斋戒 (zhāijiè).
Kata ini baru digunakan dalam literatur Muslim Tiongkok sejak abad ke-17, misalnya oleh Wang Daiyu dan Liu Zhi, untuk merujuk pada praktik ṣawm (puasa Ramadan) yang sedikitnya telah disingging di atas.
Selain itu, dalam teks Taoisme klasik ada istilah 心斋 (xīnzhāi), yang berarti “puasa hati” atau “puasa pikiran.”
Konsep ini berbeda dari puasa Islam karena lebih menekankan pada pengosongan pikiran dan pelepasan ego, tetapi secara linguistik sama-sama menggunakan karakter 斋 (zhāi) yang juga berarti “puasa” atau “pantangan.”
Dengan demikian, makna 斋戒 (zhāijiè) sebagai puasa jasmani dalam Islam terkait dari keadaan menahan makan, minum, dan nafsu.
Sementara, kata 心斋 (xīnzhāi) dimaknai sebagai puasa pikiran dalam Taoisme yang berarti mengosongkan hati atau menahan ego.
Keduanya menunjukkan bagaimana istilah “puasa” dalam bahasa Tiongkok bisa merujuk pada disiplin tubuh maupun disiplin batin, tergantung tradisi yang menggunakannya.(*)
#coversongs: Tao, Li, and Mei. The Silence of Boudoir” adalah sebuah karya musik tradisional Tiongkok yang dibawakan oleh Yang Liu, seorang penyanyi dan musisi Tiongkok yang masih aktif hingga kini, bersama Li Wenming. Lagu ini dirilis dalam format rekaman modern sekitar 2024 melalui platform musik seperti SoundCloud dan YouTube, serta masuk dalam kompilasi Music Map of China yang menyoroti arias klasik dari Jilin. Makna keseluruhan lagu ini adalah refleksi tentang keheningan, keindahan pribadi, dan cinta yang tersembunyi, khas gaya puisi klasik Tiongkok yang menekankan suasana batin dan simbolisme.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



