Friday, January 27, 2023
HomeSosial BudayaSoal Pernikahan Dibawah Umur, Sosiolog: Pentingnya Literasi Kritis Dan Pendidikan Seks Pada...

Soal Pernikahan Dibawah Umur, Sosiolog: Pentingnya Literasi Kritis Dan Pendidikan Seks Pada Anak!

Pernikahan diduga masih anak-anak di daerah Tapin, Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu yang sempat bikin heboh warganet. Sosiolog Unair mengatakan bahwa saat ini sangat penting memberikan literasi kritis dan pendidikan seks pada anak. (foto: istimewa)

SURABAYA – Menurut data Pengadilan Tinggi Agama di Surabaya terdapat sebanyak 15.212 kasus pengajuan dispensasi nikah sepanjang tahun2022 lalu. Dispensasi nikah menjadi upaya bagi pasangan yang ingin menikah namun belum mencukupi batas usia yang telah ditetapkan pemerintah.

Merespon fenomena tersebut sosiolog Bagong Suyanto mengatakan bahwa ada pertentangan yang terjadi dalam permasalahan ini. Adanya kontradiksi tersebut, menurutnya, sudah masuk level memprihatinkan.

“Pemerintah sudah menyiapkan payung hukum untuk membatasi usia seseorang bisa menikah. Tapi justru tidak berdampak untuk mengurangi jumlah pernikahan anak dibawah umur. Sebaliknya, kasus pernikahan dibawah umur makin banyak. Yang memprihatinkan itu sebagian diantaranya dilakukan karena hamil di luar nikah ini. Ini merupakan imbas perilaku permisif yang dilakukan anak,” papar Bagong pada media ini.

Bagong yang pernah menjabat sebagai konsultan United Nations Children’s Fund (UNICEF) itu memaparkan bahwa hal ini bisa terjadi karena adanya pernikahan dibawah umur.

“Faktornya banyak tidak hanya akibat dari kurang pengawasan orang tua tapi juga cyber-porno, pengaruh lingkungan pergaulan itu masing-masing berkontribusi pada kasus pernikahan anak dibawah umur,” imbuhnya.

Sementara itu, mengenai peran faktor budaya, menurut Bagong suyanto juga menjadi salah satu pemicunya. Misalnya, ia memberikan contoh, pada sebagian kalangan masyarakat, menikahkan anak dapat dilakukan secepat mungkin sebelum mereka terjerumus melakukan hal-hal yang negatif.

“Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap pernikahan siri tidak masalah meskipun secara hukum tidak dianjurkan tapi praktik ini masih terjadi,” paparnya.

Karena itu, menurut dosen Sosiologi Universitas Airlangga itu menekankan pentingnya literasi kritis pada anak sebagai kunci dalam penanggulangan masalah ini.

“Godaan cyber-porno tidak bisa diatasi dengan hanya memblokir konten pornografi tapi anak sendiri perlu dibekali daya tahan berupa literasi kritis. Selain kontrol dan pengawasan yang dilakukan orang tua, pembinaan hendaknya dilakukan agar anak memiliki kesadaran serta sikap kritis untuk menyikapi cyber-porno.

“Karena tidak mungkin anak remaja diawasi orang tua dua puluh empat jam. Ada masa dimana dia punya kebebasan sendiri. Disini peran literasi kritis pada mereka, menjadi self filter,” tuturnya.

Bagong menilai bahwasanya karakteristik anak masa kini memang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga orang tua harus melakukan pendekatan yang berbeda.

“Dulu jam sembilan malam anak di rumah hati orang tua tenang. Sekarang anak jam enam malam belum keluar kamar harus curiga apa yang dilakukan,” tukasnya.

Karenanya, menurut Bagong, dibutuhkan pemahaman orang tua untuk senantiasa mendampingi dan membimbing anak. Membangun ketahanan anak bisa dilakukan melalui jalur agama serta membangun keluarga yang harmonis.

“Keluarga harmonis ini bertujuan agar energi anak tidak digunakan ke hal negatif tapi ke hal yang tidak kalah menarik tapi positif,” terangnya.

Selain itu, penting juga melakukan pendidikan seks. Bagong menyayangkan karena orang tua cenderung enggan dan tertutup jika anak membicarakan mengenai seksualitas.

“Padahal, anak itu kalau orang tua tidak mau memberi penjelasan mereka akan mencari sendiri. Ini bisa menyebabkan anak memahami seksualitas dengan cara yang salah,” tandasnya.

Memang terkait pendidikan seks kerapkali keberadaannya masih dianggap tabu oleh masyarakat. Karenanya dibutuhkan sosok yang memiliki kompetensi untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak dan orang tua mempunyai kesempatan yang besar untuk mengambil peran itu.

“Ini bisa membangun kedewasaan dan meningkatkan moralitas anak daripada mereka mencari sumber soal seksualitas yang seringkali salah,” pungkasnya.

(mar/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular