Seputar Seleksi CPNS Komisi Pemberantasan Korupsi (Part 2)

0 339

 

Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dalam sistem Computer Assisted Test (CAT) terbagi dalam dua tahap. Tentu diluar proses pendaftaran, penyerahan administrasi, verifikasi, hingga pemberian nomor ujian apabila dinyatakan memenuhi syarat. Keseluruhan proses berlangsung secara virtual. Dari proses awal, tengah, hingga akhir dan dinyatakan lolos, hampir tidak terjadi interaksi antara CPNS dengan penyelenggara.

Terkecuali terdapat ketentuan yang bersifat khusus (lex specialist), baik lewat Peraturan Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI atau Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB). Landasan yang dipakai adalah undang-undang sektoral. Saya tidak tahu, tepatnya belum menelusuri dan bertanya kepada narasumber yang bisa saya akses, apakah masing-masing badan/kementerian/lembaga dibenarkan membuat ‘aturan main’ tersendiri.

Tahap pertama, Seleksi Kompetensi Dasar (SKD)

SKD terdiri dari tiga jenis ujian yang bersifat akademik, bukan fisik atau motorik. Alias, psiko motorik. Tentu saja penggunaan pikiran menjadi mutlak dalam menempuh ketiga jenis ujian ini. Yang dikeluarkan adalah apa yang berada di balik tempurung kepala. Neurotik. Belum sama sekali apa yang ditunjukkan oleh tubuh, dalam metode assesment dalam bentuk pengamatan. Otak dan tubuh tentu sering saling bertentangan. Tetapi, dalam SKD, pertentangan itu menjadi sulit. Terjadi sinkronisme antara apa yang dikatakan oleh otak, dengan yang dijalankan oleh jari telunjuk atau cursor (mouse) dalam mengisi jawaban yang tersedia.

Ketiga jenis ujian itu adalah Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensi Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Keseluruhan ujian itu berlangsung dalam ranah virtual, jauh sebelum protokol kesehatan diberlakukan saat pandemi Covid 19. Ujian diberikan dalam bentuk lembaran pertanyaan. Jawaban juga tersedia dalam naskah yang sama.

TWK terdapat di semua negara, yakni kesadaran nasional dan – sekaligus – sebagai nasionalis. Nasionalisme tentulah berhadapan atau bisa saja sejajar dengan universalisme, regionalisme, bahkan relegiusitas. Mau tidak mau, suka tidak suka, nasionalisme tentu berbicara tentang ideologi politik yang berada dalam tempurung kepala CPNS. TWK bukanlah alat ukur untuk menentukan kadar radikal atau tidaknya seseorang. Skala prioritas tentulah menjadi penting, ketika menentukan tindak apa yang paling tepat dalam melaksanakan tugas. Jumlah soal TWK sebanyak 30 pertanyaan.

TIU bisa saja berdasarkan intellectual quotient (IQ) seseorang. Kemampuan analisa, logika, nalar keilmuan berdasarkan sains, baik yang bersifat verbal atau numerik. Keahlian dalam berbahasa Indonesia juga berada dalam ujian ini. Sekalipun keahlian dalam membaca (iqra) ini berlangsung pada keseluruhan tugas ASN. Sekalipun bentuk ujian yang diberikan tetap dalam bentuk pertanyaan terbuka, namun pilihan jawaban bersifat tertutup, sebagaimana SKD lain. Yaitu, pilihan antara A, B, C, D, atau E.

Jumlah soal TIU sebanyak 35 pertanyaan. TKP bertujuan mendapatkan pribadi ASN yang mengayomi kepentingan tugas, ketimbang kelompok. Karaktek yang melayani, tak mudah menyerah ketika menghadapi masalah, serta menjadikan publik sebagai orientasi. Sekalipun begitu, ASN bekerja dalam lingkungan yang berbeda satu sama lain. Prinsip sebagai ASN adalah bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Sehingga selain mengandalkan kekuatan pribadi, juga mampu membangun hubungan sosial dalam jejaring yang sempit hingga luas, menyesuaikan diri dengan budaya tempatan, menguasai teknologi informasi, serta menjalankan tanggungjawab yang diberikan secara profesional.

Jumlah soal TKP sebanyak 35 pertanyaan.P Penilaian yang diberikan kepada masing-masing ujian tentu tak sama. Untuk TWK dan TIU bernilai 5 bagi jawaban yang benar, dan bernilai 0 untuk jawaban yang salah atau sama sekali tak menjawab. Soal sebanyak 65 itu tentu secara akumulatif berjumlah 325 maksimal alias benar semua. Untuk TKP, terdapat penilaian antara 0 terendah sampai 5 tertinggi. Bobot masing-masing jawaban berbeda. Jika salah atau tak menjawab, diberikan nilai 0. Jawaban 1, 2, 3, 4, dan 5 hampir senada, sehingga bobot jawaban pun berbeda, Total nilai teratas adalah 175, apabila setiap jawaban berbobot 5.

Dari ketiga bentuk ujian itu, jumlah nilai tertinggi adalah 500. Passing grade SKD CPNS tahun 2019 adalah 65 untuk TWK, 80 untuk TIU dan 126 untuk TKP. Atau total jenderal 266.

Berapa banyak soal yang diberikan? Tentulah 100, yakni 30 TWK ditambah 35 TIU ditambah 35 TKP. Waktu yang disediakan teramat singkat, yakni satu setengah jam atau 5.400 detik. Jika menjawab semua soal, berarti setiap CPNS hanya dapat waktu 54 detik alias satu menit kurang enam detik guna menjawab satu soal.

Dalam Bimbingan Teknis Soal-Soal CPNS yang pernah diselenggarakan oleh Sang Gerilya Institute, fasilitator lebih banyak melakukan simulasi pengerjaan soal. Bentuk-bentuk soal dan kunci jawaban berjibun di internet. Aplikasi CAT CPNS juga bertumbuh dengan cepat. Banyak juga instansi atau pers nasional yang melakukan Bimbingan Teknis CPNS. Dalam suatu lembaga pemberi Bimbingan Teknis ini, bahkan tingkat kelulusan mencapai 87%. Office boy saja lolos.

Apa syarat utama agar bisa lolos passing grade? Saya berulang kali menyampaikan kepada peserta Bimbingan Teknis, agar “Kalian bermimpi sedang mengerjakan soal atau kalian mengigau dalam tidur sedang menjawab soal.”

Puluhan ribu soal perlu dipelajari dengan baik. Teknik mengerjakan soal juga perlu diketahui. Yakni, kerjakan lebih dulu soal TKP ketika otak masih fresh, waspada, dan tajam. Isi keseluruhan soal itu, walau jawaban hampir sama.

Setelah itu?

Bagi yang merasa memiliki pengetahuan umum yang sangat luas, detik, dan ingatan yang tajam, silakan mengerjakan soal TWK. Selain memuat sejarah, sudah pasti juga memuat pertanyaan kontemporer. Nikah siri atau istri kedua bisa saja muncul. Begitu juga pindah agama. Bukankah seluruh berita viral terkait dengan persoalan itu? Gunjing menggunjing dalam media sosial adalah halal, paling tidak dalam amatan saya. Apakah sholat (bagi yang sholat) menggunakan doa qunut atau tidak, bukanlah persoalan yang berada di luar sana. Silakan tabulasi saja seluruh persoalan yang menjadi sumber sengketa antar netizen negara +62, sudah pasti soal-soal yang tampak sepele dan disepelekan oleh aktivis kelas berat itu yang muncul.

Nah, bagaimana dengan begitu banyak informasi yang datang dari sebagian pihak yang kebetulan menjadi bagian dari 75 orang yang tidak lolos SKD itu?

(bersambung)

Jakarta, 8 Mei 2021

 

INDRA J PILIANG

Anggota Tim Quality Assurance Reformasi Birokrasi Nasional RI

Leave A Reply

Your email address will not be published.