
“Iman itu bagaikan pohon; akarnya adalah keyakinan, cabangnya adalah amal, dan buahnya adalah akhlak.“ – Al Ghazali (1058-1111), Nasehah Al Mulk (Conseal of Kings, 1964).
Era, di mana orang lebih terpukau tekun, membaca diri orang lain di berbagai platform media, diri sendiri ibarat gajah tampak jauh di seberang.
Gajah diri sendiri jauh di seberang, mari tengok sejenak dari literasi nasihat filsuf abad ke-12.
Dengan demikian, menulis sedikit refleksi tentang, terutama nasihat untuk diri sendiri dengan menyeberangi dua zaman -abad ke-12 bersama Al-Ghazali dan abad ke-20 bersama Erich Fromm- seakan menyingkap jurang panjang yang ternyata tetap dihuni oleh kegelisahan yang sama: manusia mudah lupa menasihati dirinya sendiri.
Kita hidup di era ketika orang lebih sibuk membaca diri orang lain di media, sementara “gajah diri sendiri” dibiarkan jauh di seberang.
Justru di situlah pentingnya kembali ke literasi nasihat, agar kita tidak kehilangan arah batin.
Al-Ghazali dalam Nasehah al-Mulk menulis untuk seorang Sultan Seljuk, Muhammad Tapar, yang sesungguhnya menulis nasihat bagi setiap manusia.
Ia mengingatkan bahwa iman adalah akar, amal adalah cabang, dan akhlak adalah buah.
Tanpa akar yang kokoh, pohon akan layu; tanpa iman yang teguh, hidup kehilangan makna.
Ia menegaskan bahwa “Negara tegak dengan keadilan, bukan dengan kezaliman.”
Jika negara bisa runtuh karena zalim (al-dhalal), maka jiwa pun bisa hancur bila kita berlaku tidak adil terhadap diri sendiri.
Nasihat ini menuntun kita untuk menimbang keseimbangan batin, agar tidak membiarkan kezaliman kecil tumbuh menjadi kebiasaan yang merusak.
Lebih jauh, ia menulis, “Hendaklah engkau bersyukur atas nikmat Allah dan menjauhi kemewahan yang berlebihan.”
Kutipan sederhana ini menjadi peringatan agar kita tidak terjebak dalam kerakusan dan kemewahan fasilitas dunia yang gemerlap.
Syukur adalah jalan menuju rasa cukup, sementara berlebihan adalah pintu menuju kehampaan.
Ini nasehat abad-12, ketika kemaruk kekuasaan dunia Islam di abad pertengahan sedang mengalami kemerosotan daulah.
Tanpa tanggung-tanggung, di tengah ketenarannya sebagai rektor Nizamiyah dan Jaksa Agung (Kadi), Ghazali memilih mundur dari seluruh fasilitas kemewahan jabatan dunia.
Datang di awal abad-20.
Ketika Nazi di Jerman sedang kalap dsn eforia Hitler menguasai hampir seluruh daratan Eropa, para cendekiawan turunan Yahudi banyak yang merasa terancam ditimpa holocaust.
Dari banyak kisah eksil politik, salah satunya, Erich Fromm, kelahiran Jerman 1900.
Berabad-abad kelak setelah Al Ghazali, Fromm yang juga eksil ke Amerika, setelah mengalami krisis humanisme Eropa perang dunia kedua, dalam Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (1947), menyuarakan kegelisahan yang serupa, meski dalam krisis bahasa psikologi modern.
Ia melihat manusia modern kehilangan arah etis, terjebak dalam struktur sosial yang menekankan kepemilikan dan konsumsi.
Ia menulis tentang tipe nekrofilia, “The necrophilous person loves control, the mechanical, the lifeless; he is fascinated by death rather than life.”
Ketika kita lebih terpikat pada benda mati daripada kehidupan, kita sedang menutup pintu bagi pertumbuhan batin.
Ia pun menegaskan, “Greed is a bottomless pit which exhausts the person in an endless effort to satisfy the need without ever reaching satisfaction.”
Rakus dan penumpukan tidak pernah membawa rasa cukup, melainkan justru menguras energi dan menjauhkan manusia dari kebebasan sejati.
Orientasi non-produktif, bagi Fromm, adalah karakter hidup untuk memiliki (das Haben), bukan untuk menjadi (das Seien).
Jika Al-Ghazali menasihati agar iman, amal, akhlak, dan syukur menjadi cahaya yang menuntun langkah, maka Fromm menasihati agar kita tidak jatuh dalam nekrofilia, egoisme, kerakusan, dan penumpukan yang sia-sia.
Keduanya, meski dipisahkan oleh delapan abad, sama-sama mengingatkan bahwa nasihat diri adalah jalan menuju keberadaan yang otentik.
Membaca mereka berarti menasihati diri sendiri agar jangan biarkan diri hancur oleh kezaliman batin atau jurang keserakahan dalam godaan atau seduksi zama likuid, licin dan licik.
Namun, keutamaan nasihat dua filsuf dua era yang terlampau jauh, tumbuhkan orientasi produktif, hidup dengan cinta, keberanian, dan kesadaran penuh.
Dengan demikian, nasihat dari Al-Ghazali dan Fromm bukan sekadar warisan teks, melainkan cermin yang memantulkan wajah kita hari ini.
Mereka mengajak dan menasihati kita untuk menyeberangi “gajah diri sendiri” yang jauh di seberang, agar kita kembali pulang ke pusat diri, menegakkan keadilan batin, dan menumbuhkan kehidupan yang sejati.
Otentik, empatik sekaligus welas asih!
ReO Biblothek Kokima Hill Manado, 26 Juni 2026.
#coversongs: “Ebony and Ivory” dirilis pada 29 Maret 1982 sebagai single utama Paul McCartney bersama Stevie Wonder dari album Tug of War. Lagu ini menggunakan metafora tuts piano hitam (ebony) dan putih (ivory) sebagai simbol harmoni rasial, dan segera menjadi nomor satu di tangga lagu Inggris dan Amerika Serikat.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








