Pesan Sunyi Buya Said

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang, ruang publik warga Nahdliyin biasanya dipenuhi perbincangan seputar kontestasi, nama-nama kandidat, dan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Bahkan, kasak-kusuk terbaru menyebutkan pleno pemilihan Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU akan dipindah ke salah satu hotel di Surabaya. Di tengah suhu politik organisasi yang menghangat itu, sebuah pesan pribadi dari Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, yang akrab disapa Buya Said, kepada seorang kiai khos asal Jawa Timur, beredar dan menyentuh hati banyak warga Nahdliyin. Bukan pernyataan politik, pesan ini lebih menyerupai renungan batin seorang kiai sepuh menjelang senja usianya: sebuah keprihatinan di tengah hiruk-pikuk perebutan posisi, sekaligus pengingat bahwa manusia hanya hidup sementara.

Dalam pesan tersebut, Buya Said menyampaikan sikapnya secara jujur dan lugas. Beliau tidak menghendaki maupun mengharapkan jabatan apa pun di dalam jam’iyyah, tidak akan ikut campur dalam urusan Muktamar mendatang, dan hanya akan hadir di acara pembukaan untuk bertabarruk (mengambil berkah) serta bertafa’ul (berharap kebaikan) lewat keberkahan para pendiri NU yaitu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syansuri, sebelum kembali ke Jakarta.

أنا لا أتمني ولا أترجي بأي منصب في الجمعية ولا أتدخل في شؤن المؤتمر القادم، سوف أحضر فقط في الافتتاح تبركاً وتفاؤلاً ببركة الشيخ هاشم أشعري والشيخ عبد الوهاب والشيخ بشرى شنسوري لا غير، ثم رجعت إلى جاكرتا، قد بلغت العمر ٧٤ سنة وأصابتني الأمراض وزيادة الذنوب كل يوم، أمنيتي ورجائي فقط مغفرة الله ورحمته مع حسن النزع والخواتيم

Jika ditelisik lebih dalam, ungkapan itu adalah cerminan adab pesantren yang utuh berupa ketawadhu’an (kerendahan hati), tazkiyatun nufs (pembersihan jiwa), dan kesadaran seorang hamba di hadapan Sang Pencipta. Ungkapan tersebut adalah manifestasi ajaran para muassis NU yang senantiasa menempatkan niat, keikhlasan, dan keberkahan di atas kepentingan duniawi. Dalam dunia pesantren dikenal prinsip tarku al-manashib (tidak mengejar, tidak mengharapkan, dan tidak meminta jabatan). Jabatan dipandang sebagai amanah berat yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan trofi yang layak diperebutkan. Ketika amanah telah selesai ditunaikan, seorang ulama sejati dengan lapang hati mengembalikannya dan kembali ke maqam ikhlas sebagai khadimul ummah (pelayan umat).

Ini juga soal tabarruk dan menyambung sanad. Keputusan Buya Said untuk tetap hadir di pembukaan Muktamar semata demi tabarruk dan tafa’ul kepada para muassis mencerminkan akar tradisi pesantren yang dalam, tempat sanad keilmuan dan keberkahan guru menjadi pilar utama. Kehadiran beliau bukan untuk membangun barisan dukungan atau memperkuat faksi tertentu, melainkan bentuk penghormatan spiritual seorang murid kepada para pendiri organisasinya. Juga, sebagai pengingat bahwa sebesar apa pun kontribusi seseorang dalam NU, ia tetap murid yang dahaga akan keberkahan gurunya.

Sikap ini sekaligus menjadi teguran halus bagi seluruh peserta Muktamar agar menanggalkan ambisi pribadi maupun kelompok, dan mengembalikan Muktamar pada khittahnya yang murni yakni majelis silaturahmi spiritual, keilmuan, dan keumatan, bukan panggung pertarungan kekuasaan yang berpotensi merusak ukhuwah.

Pada usia 74 tahun, dengan berbagai penyakit yang menimpa dan kesadaran bahwa dosa terus bertambah setiap hari, Buya Said mengungkapkan bahwa cita-cita dan harapannya kini hanya tertuju pada ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, rahmat-Nya, dan husnul khatimah di kehidupan di dunia ini. Bagi seorang ulama yang pernah berada di puncak kepemimpinan jam’iyyah dan disegani luas sebagai pemikir Islam, pengakuan akan kelemahan diri semacam ini menunjukkan kematangan ruhani yang tidak sederhana. Inilah wajah zuhud pesantren dimana seorang kiai yang tidak lagi silau oleh gemerlap kekuasaan, pangkat, atau pengaruh organisatoris. Di tengah zaman yang kerap mendewakan jabatan sebagai ukuran kesuksesan, pesan ini mengajak kita kembali pada hakikat kepemimpinan dalam Islam. Bahwa, jabatan adalah amanah, bukan hak yang harus dipertahankan mati-matian.

Puncak keharuan pesan ini terletak pada bagian penutup dari pesan singkat Buya Said. Ada sebuah untaian doa yang menggambarkan keheningan hati. Seandainya orang lain mengetahui apa yang bersemayam di dalamnya (ketenteraman, keistiqamahan, kepasrahan total, dan kehadiran hati bersama Allah Subhanahu wa ta’ala) niscaya mereka akan lebih banyak menangis dalam kepedihan dan penyesalan ketimbang tertawa. Ungkapan ini menggambarkan maqam tafwidh (kepasrahan total kepada Allah) dan hudhurul qalb (kehadiran hati bersama Allah), sekaligus mencerminkan maqam khasyah, yakni rasa takut dan hormat kepada-Nya yang menjadi muara ilmu keagamaan sejati. Seorang ulama yang telah selesai dengan urusan dunianya tidak lagi risau oleh prasangka atau manuver manusia. Ketenteraman batin semacam ini adalah buah dari panjangnya perjalanan tirakat, keilmuan, dan pengabdian yang tulus.

Pernyataan sikap ini semakin meneguhkan posisi Buya Said sebagai sesepuh yang diayomi sekaligus mengayomi warga Nahdlatul Ulama di era sekarang. Dalam struktur kultural NU, keberadaan kiai sepuh yang berdiri di luar pusaran konflik praktis sangatlah penting dimana beliau berdiri di atas semua kelompok, menjadi pengayom batin, tempat bertanya ketika terjadi kebuntuan, dan kompas moral ketika organisasi mengalami disorientasi.

Kebesaran seorang ulama tidak diukur dari jabatan formal yang diembannya. Justru ketika Buya Said melangkah keluar dari lingkaran perebutan posisi, karisma dan keulamaannya menurut saya makin memancar terang. Saya melihat beliau tampil sebagai mursyid dan pamong ruhani yang mengingatkan Nahdliyin pada pondasi nilai keislaman, kebangsaan, dan kepesantrenan.

Sikap ini juga mengajarkan bahwa mencintai NU tidak selalu harus dilakukan dari dalam struktur tanfidziyah (kepengurusan eksekutif). Khidmah kepada NU dapat diwujudkan melalui penjagaan moral, pengajaran ilmu-ilmu keislaman, penyemaian pemikiran yang mencerahkan, hingga doa-doa sunyi di sepertiga malam untuk keselamatan umat.

Pesan pribadi Buya Said ini memberi cermin jernih bagi seluruh warga Nahdliyin dalam menyambut Muktamar mendatang. Maka, mari kita sambut perhelatan besar ini dengan niat murni untuk berkhidmat yaitu menjaga lisan dari fitnah dan ambisi berlebih, memelihara ukhuwah nahdliyyah di atas kepentingan kelompok atau golongan, dan menyerap keberkahan dari tradisi luhur para pendirinya. Sebab, kebesaran seorang ulama tak pernah diukur dari posisi struktural yang pernah digenggamnya, melainkan dari sejauh mana hatinya tertaut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan seberapa besar kedamaian yang ia pancarkan bagi sesama. Semoga pesan sunyi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama, adab dan keikhlasan harus selalu didahulukan di atas segala bentuk kekuasaan. Wallahu a’lamu bis-showab.(*)

ABDUR RAHIM

Santri Alumnus Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang Jawa Timur