Sejarah Singkat Yahudi Islam

(foto: credit foto dari Youtube @INTO_THE ETERNITY1 Unthinkable Alliance: When Jews and Muslims United Against Christian)

“Dunia Islam bukanlah surga toleransi maupun neraka penganiayaan, melainkan masyarakat yang kompleks di mana orang Yahudi, seperti non Muslim lainnya, memiliki tempat yang diakui dan dilindungi.” – Bernard Lewis (1916-2018), Jews of Islam (2014).

Sejarah titik temu agama-agama selalu diawali dengan konflik teologi sebelum akhirnya terperosok ke dalam sejarah krisis politik daulah.

Dengan kata lain, sejarah Yahudi-Islam selalu dimulai dari titik perjumpaan yang penuh ketegangan di Madinah, ketika Rasulullah hijrah 622 M -tepatnya bulan Rabi‘ul Awwal sekaligus penanda awal tahun Islam, hijriah- dan berhadapan dengan komunitas Yahudi yang telah lama menetap di kota itu.

Sebagian kecil dari mereka memilih konversi ke Islam, sementara sebagian lain menolak, hingga akhirnya terjadi pengusiran dan perpecahan politik yang menandai awal relasi yang ambigu antara dua tradisi monoteistik besar.

Dari sana, sejarah Yahudi-Islam bergerak ke arah yang lebih kompleks, terutama ketika Islam berkembang sebagai kekuatan politik global dan Yahudi menjadi komunitas minoritas yang hidup dalam kerangka hukum “dhimmi.“

Bernard Lewis (1916-2018) sejarawan asal Yahudi kelahiran London, dalam The Jews of Islam (1984, edisi klasik 2014), menekankan bahwa orang Yahudi hidup di dunia Islam, bukan melawan Islam, sehingga pengalaman mereka berbeda dari pengalaman Yahudi di dunia Kristen.

Puncak dinamika itu terlihat di Andalusia, di mana Islam, Yahudi, dan Kristen pernah hidup berdampingan dalam sebuah peradaban yang kaya.

María Rosa Menocal dalam The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain (2002) menggambarkan Andalusia sebagai laboratorium kebudayaan yang memperlihatkan kemungkinan toleransi.

Meski kencana ornamen dunia harmoni ketiga agama samawi ini, akhirnya runtuh dalam gelombang pengusiran besar-besaran pada abad ke-13 dan 15, ketika Yahudi dan Muslim sama-sama diusir dari Spanyol.

Menocal, sejarawan Kuba-Amerika kelahiran 1953, menekankan bahwa sejarah Andalusia adalah bukti bahwa toleransi bukanlah mitos, melainkan kenyataan yang pernah ada, meski rapuh di bawah tekanan politik dan teologi.

Dikutip, ia mengatakan begini, “Apakah puisi -atau bahasa, filsafat, musik, atau arsitektur, bahkan arsitektur kuil-kuil kita- benar-benar perlu menari mengikuti irama yang sama dengan keyakinan politik atau keyakinan agama kita?

Apakah keselarasan yang ketat dari identitas budaya kita merupakan suatu kebajikan yang harus dihargai di atas kebajikan lain yang mungkin muncul dari akomodasi kontradiksi?”

Menocal, yang wafat pada usia 59 tahun (2012) akibat melanoma, melihat Andalusia sebagai “ornamen dunia” karena di sanalah Islam, Kristen, dan Yahudi pernah membangun peradaban bersama yang kaya dan harmonis.

Relasi dinamis ketiga agama samawi di Spanyol menjadi pelajaran bahwa toleransi bukanlah keseragaman, melainkan keberanian untuk hidup dengan kontradiksi yang nyata.

Demikian hal, sejarah Yahudi-Islam dengan demikian adalah sejarah perjumpaan yang selalu berada di antara dua kutub: harmoni dan konflik.

Ia memperlihatkan bagaimana agama-agama besar, ketika berhadapan dengan kekuasaan politik, sering kali kehilangan ruang dialog dan jatuh ke dalam krisis.

Namun, ia juga menunjukkan bahwa ada momen-momen keemasan ketika interaksi intelektual, ekonomi, dan budaya melahirkan tradisi Yudeo-Islam yang menjadi fondasi penting peradaban Timur Tengah.

Refleksi atas sejarah ini mengingatkan bahwa hubungan antaragama tidak pernah statis, melainkan selalu bergerak antara keterbukaan dan penutupan, antara pengakuan dan penyingkiran.

Hakikat Yahudi-Islam adalah hakikat hidup bersama dalam perbedaan, sebuah pengalaman yang relevan hingga kini ketika dunia masih mencari cara untuk menyeimbangkan identitas, kekuasaan, dan toleransi.

ReO Bibliothek Kokima Hill Manado, 30 Juni 2026

#coversongs: “Hatikvah” oleh The Jewish Starlight Orchestra dirilis pada 27 Mei 2014 dalam album Traditional Jewish Music and Songs (The Best of Yiddish Songs). Lagu ini berdurasi 3 menit 7 detik dan merupakan interpretasi instrumental dari Hatikvah, himne nasional Israel. Makna “Hatikvah” berarti Harapan, diambil dari puisi Naftali Herz Imber (1878) yang kemudian dijadikan lagu kebangsaan Israel.

REINER EMYOT OINTOE 

Fiksiwan