
Kalimat ini hampir selalu muncul dalam pidato pejabat: “Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Jika sang pejabat merasa nasionalis, biasanya ia cukup memakai istilah “Tuhan”, bukan “Allah”.
Presiden mengucapkan puji dan syukur itu. Menteri mengucapkannya. Gubernur, bupati, wali kota, rektor, kepala kantor, sampai ketua panitia tujuh belasan juga mengucapkannya. Kalimat itu sudah seperti seragam dinas. Dipakai di mana-mana, pada musim apa saja.
Misalnya Pak Harto, yang hampir selalu membawa teks saat berpidato. Di antara formula yang akrab dari pidato kenegaraan ialah ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan ia selalu mulai dulu dengan “Assalamu’alaikum”, dan hebatnya, ia mengucapnya tanpa tambahan salam agama-agama yang lain.
Kita biasanya melewatkan kalimat itu begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar ke kiri. Padahal ada pertanyaan kecil yang mengusik: mengapa “puji-syukur” selalu bergandengan? Apakah keduanya benar-benar sama? Jawabannya: ternyata puji dan syukur tidak persis sama.
Kitab bacaan saya, Al-Mu’jam al-Furuq al-Dalaliyyah fi al-Qur’an al-Karim karya Dr. Muhammad Muhammad Dawud menjelaskan perbedaan itu dengan cukup rinci. Kata hamd dan syukr memang berdekatan maknanya, tapi keduanya berbeda.
Keduanya bertemu pada satu pengertian umum: الثناء على الجميل, memuji sesuatu yang baik atau indah. Dan keduanya mempunyai wilayah masing-masing.
Saya mulai dari hamd (pujian). Ia dapat muncul karena kita mengucapkannya usai memperoleh nikmat dan pemberian dari Allah SWT. Namun, ia juga dapat muncul karena sifat yang melekat pada seseorang.
Kita tak jarang memuji seseorang karena ia memberi kita sesuatu. Kita juga memujinya karena ia berilmu, berani, dermawan, atau memiliki sifat terpuji lainnya. Karena itu, kita mengucapkan pujian (hamd) tanpa kita harus menunggu menerima hadiah dari mereka.
Kita bisa memuji orang yang memiliki keberanian, meskipun ia tidak pernah memberi kita apa-apa. Kita bisa memuji orang karena ilmunya, meskipun ilmu itu tidak sedang ia gunakan untuk menolong kita. Pujian melihat sesuatu yang baik pada objeknya.
Al-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya, al-Kasysyaf, bahkan mengatakan bahwa hamd dan madḥ (juga pujian) merupakan dua kata yang bersaudara. Keduanya berarti pujian terhadap sesuatu yang baik, berupa nikmat maupun bukan nikmat.
Ahli tafsir tersebut memberi contoh: seseorang dapat dipuji karena pemberiannya, tetapi dapat pula dipuji karena kemuliaan nasab dan keberaniannya. Di sini kata hamd memiliki wilayah dan cakupan pengertian yang luas.
Lebih dari itu, hamd dapat diberikan atas nikmat yang sampai ke kita maupun nikmat yang sampai ke orang lain. Kita dapat memuji Allah karena suatu kebaikan yang kita terima. Kita juga dapat memuji Allah karena kebaikan yang Dia berikan kepada orang lain.
Sekarang giliran kata syukr, yang mempunyai pengertian lebih khusus dan batasan.
الشكر لا يكون إلا على النعمة والعطاء
“Syukur hanya berkaitan dengan nikmat dan pemberian.”
Bukan hanya itu. Syukr berkaitan dengan nikmat yang sampai kepada kita.
Jadi, kalau tetangga memperoleh rezeki, kita dapat memuji Allah, dengan mengucapkan alhamdulillah, atas karunia-Nya kepada tetangga itu. Tetapi ketika kita bersyukur, objeknya ialah nikmat yang sampai kepada diri kita saja, bukan orang lain.
Perbedaan berikutnya bahkan lebih menarik. Para ulama menyebut, hamd dilakukan dengan lisan. Sementara syukr melibatkan tiga wilayah sekaligus yaitu hati, lisan, dan anggota badan.
Di sinilah syukur menjadi lebih berat dari sekadar ucapan. Hati mengenali nikmat. Lisan mengakuinya. Anggota badan menunjukkan respons terhadap nikmat itu. Syukur, dengan demikian, bukan hanya suara. Ia mempunyai tubuh.
Al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa hamd merupakan salah satu cabang syukr. Ia mengutip ungkapan: الحمد رأس الشكر — “Hamd adalah kepala syukur.”
Perumpamaannya bagus. Syukur seperti tubuh yang mempunyai kepala. Hamd menjadi kepala karena lisan menyebut nikmat dan memuji Pemberinya.
Mengapa lisan mendapat tempat penting? Karena pekerjaan hati tersembunyi. Gerak anggota badan juga dapat menimbulkan banyak kemungkinan maksud. Tetapi lisan dapat membuka sesuatu yang tersembunyi dan menjelaskan sesuatu yang samar. Lisan mengumumkan apa yang ada di dalam hati.
Maka hamd memiliki unsur yang khas: المحبة والإجلال — cinta dan pengagungan. Kita tidak sekadar mengatakan bahwa sesuatu itu baik. Kita memuji dengan rasa cinta dan penghormatan.
Karena itu, ketika kita mengucapkan al-hamdulillah, kita tidak sedang mengisi ruang kosong dalam pembukaan pidato. Kita sedang menyatakan pengakuan, cinta, dan pengagungan kepada Allah.
Sementara itu, syukur tidak berhenti pada lisan. Syukur berlangsung melalui hati, lisan, dan anggota badan. Hati mengakui. Lisan memuji. Anggota badan bertindak. Karena itu, syukur tidak cukup menjadi bunyi yang keluar dari pengeras suara.
Al-Qur’an memberi contoh yang sangat kuat melalui keluarga Nabi Dawud As.:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
(Qs Saba’ [34]: 13).
Perhatikan kata yang dipakai Allah: اعْمَلُوا. Bekerjalah. Bukan sekadar “ucapkanlah”.
Maka syukur memiliki konsekuensi kerja. Nikmat yang masuk ke tangan menuntut tangan melakukan sesuatu. Ilmu menuntut amal. Kekuasaan menuntut tanggung jawab. Kekayaan menuntut kebaikan. Kesehatan menuntut penggunaan yang benar.
Kalau syukur berhenti di bibir, tubuh syukur belum lengkap. Al-Qur’an juga berkata:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ
“Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas nikmat Allah.”
(Qs An-Nahl [16]: 114).
Perhatikan lagi: ada nikmat, lalu ada syukur. Syukur mempunyai objek konkret.
Begitu pula:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku.”
(Qs Al-Baqarah [2]: 152).
Al-Qur’an berkali-kali menggunakan ungkapan لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ, “agar kamu bersyukur”.
Sebaliknya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang hamd, kita menemukan wilayah yang lebih luas.
Ayat pembuka Al-Fatihah mengatakan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS Al-Fatihah [1]: 2).
Para malaikat berkata:
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Sedangkan kami bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu.”
(QS Al-Baqarah [2]: 30).
Al-Qur’an juga mengatakan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjadikan kegelapan dan cahaya.”
(Qs Al-An’am [6]: 1).
Dan:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا
“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak.’”
(Qs Al-Isra’ [17]: 111).
Ayat-ayat itu memperlihatkan keluasan hamd. Kita memuji Allah bukan hanya karena satu nikmat yang baru saja masuk ke rekening kehidupan kita. Kita memuji-Nya karena Dia adalah Allah, Pencipta langit dan bumi, Pemilik kesempurnaan dan segala sifat terpuji.
Karena itu, kitab al-Mu’jam tersebut membedakan pula lawan kedua kata itu.
_الحمد نقيضه الذم، والشكر نقيضه الكفران_
“Lawan _hamd_ adalah celaan, sedangkan lawan syukr adalah pengingkaran nikmat.”
Ini menarik. Hamd berhadapan dengan dzam; pujian berhadapan dengan celaan. Sedangkan syukr berhadapan dengan kufran; pengakuan nikmat berhadapan dengan pengingkaran nikmat.
Maka seseorang dapat mengucapkan hamd dengan lisannya. Tetapi untuk membuktikan syukr, ia harus membawa hati dan tubuhnya ikut bekerja.
Di sinilah kebiasaan pidato kita mendapat cermin kecil. Kita sering mengatakan, “Marilah kita panjatkan puji dan syukur.”
Tidak ada yang keliru dengan ungkapan itu selama kita memahami isinya. Masalah muncul ketika kalimat tersebut menjadi sekadar pembuka acara, sementara makna syukur berhenti sebelum acara benar-benar dimulai.
Mikrofon mudah mengucapkan syukur. Tiga detik selesai. Padahal tangan membutuhkan waktu lebih panjang untuk membuktikannya.
Seorang pejabat memperoleh jabatan. Ia mengucapkan syukur. Maka syukurnya tidak cukup berupa kalimat dalam sambutan. Ia harus menggunakan jabatan itu dengan benar.
Seseorang memperoleh ilmu. Ia mengucapkan syukur. Maka syukurnya tidak selesai dengan gelar di depan atau di belakang nama. Ia harus menggunakan ilmunya.
Seseorang memperoleh kekayaan. Ia mengucapkan syukur. Maka hartanya harus melahirkan manfaat.
Seseorang memperoleh kekuasaan. Ia mengucapkan syukur. Maka kekuasaan itu harus melahirkan keadilan.
Inilah bedanya kalimat dengan tindakan. Hamd dapat menjadi kepala syukur. Ia mengawali pengakuan dengan lisan. Tetapi kepala tidak boleh berjalan sendirian tanpa tubuh.
Mungkin karena itu kita perlu lebih hati-hati ketika mengucapkan “puji dan syukur”. Bukan supaya pidato menjadi lebih rumit. Justru supaya kalimat yang sudah terlalu biasa itu kembali mempunyai isi.
Hamd adalah pujian kepada Yang Maha Terpuji. Ia dapat lahir karena nikmat, tetapi juga karena sifat kesempurnaan-Nya. Ia keluar melalui lisan, dengan cinta dan pengagungan.
Syukr adalah pengakuan atas nikmat yang kita terima. Ia bergerak melalui hati, lisan, dan anggota badan.
Jadi, ketika seorang pejabat berkata, “Saya panjatkan syukur kepada Allah,” kita tidak perlu sibuk menghitung berapa kali ia mengucapkannya.
Lihat saja setelah pidato selesai. Apa yang dilakukan tangannya? Ke mana langkah kakinya? Untuk siapa kekuasaannya? Ke mana ilmunya mengalir? Di situlah syukur diuji.
Sebab hamd bisa menjadi kepala syukur. Tetapi kepala yang bagus tetap membutuhkan tubuh yang bekerja.(*)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 9 Oktober 2026
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur’an








