Berita Terpercaya Tajam Terkini

Pilpres AS dan Isu (Soal) Perempuan

Dasman Djamaluddin

Biasanya tanggal 20 Januari 2021, publik Amerika Serikat (AS) dan dunia akan mengetahui, siapa yang akan menduduki Gedung Putih untuk empat tahun berikutnya. Kita saksikan pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45 dan wakilnya, dimulai pada hari Jumat, 20 Januari 2017 lalu.

Tetapi untuk tahun 2020 ini, apakah benar karena wabah pandemi Covid19, maka  Pilpres (Pemilihan Presiden)  akan ditunda atau sebaliknya dan tetap berjalan sebagaimana mestinya?

Terlepas dari itu semua, Pilpres AS memang tidak pernah sunyi dari calon-calon yang diisukan berselingkuh atau melecehkan perempuan lain. Baik itu sekretaris pribadinya sendiri atau perempuan di luar lingkaran Gedung Putih.

Baru saja masyarakat internasional mendengar secara resmi tuduhan banyahan Calon Presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden tentang  pelecehan seksual dengan mantan stafnya Tara Reade 27 tahun yang lalu. Ini merupakan  pernyataan publik pertama Joe Biden  tentang tuduhan itu.

“Itu tidak benar. Ini tidak pernah terjadi,” kata Joe Biden,  dalam sebuah wawancara dengan MSNBC’s Morning.

Tuduhan-tuduhan tersebut telah mempengaruhi upaya kampanye Biden saat ia berusaha untuk mengamankan pencalonan partai dan menghadapi Donald Trump dalam pemilihan presiden 2020. Beberapa orang muncul dalam beberapa hari terakhir untuk mengkonfirmasi bahwa Reade memberi tahu mereka tentang klaimnya selama tahun 1990-an, termasuk saudara lelakinya dan mantan tetangga.

Tetapi pada hari Biden mengatakan bahwa tuduhan mantan stafnya itu sangat inkonsisten sambil menyerukan semua catatan yang terkait dengan tuduhan Reade akan dirilis ke publik. Calon presiden dari partai Demokrat itu juga meminta Arsip Nasional untuk mencari dan melepaskan keluhan tertulis yang mungkin diajukan Reade terhadapnya, seperti yang telah diklaimnya.

Mantan wakil presiden itu juga mengatakan kepada Mika Brzezinski di acara itu bahwa dia tidak “mengingat keluhan apa pun yang pernah dibuat”, membantah klaim yang dibuat Reade kepada media dalam beberapa pekan terakhir, di mana dia mengatakan bahwa dia memberi tahu beberapa orang yang bekerja untuk Biden di waktu serangan tersebut.

Sebelum Joe Biden, Presiden AS Donald Trump juga sibuk menepis isu perselingkuhannya, meski sekarang telah mereda.

Juga jelang Pilpres AS 2020, Calon Presiden dari Partai Republik, Donald Trump,  sudah diterpa isu tidak menyenangkan tentang perempuan.

Perempuan yang dimaksud adalah E. Jean Carroll. Ia di dalam cerita sampul minggu depan majalah “New York,” menampilkan potretnya. Terlihat memakai mantelnya untuk pertama kali sejak ia bertemu Trump.

Mantel penuh kenangan dengan Trump itu baru pertama dipakainya untuk majalah tersebut. Waktu itu usia Carroll 52 tahun, sedangkan Trump sekitar 49 atau 50 tahun. Carroll waktu itu berprofesi sebagai kolumnis majalah mode Elle. Ia menyebut insiden itu terjadi di sebuah kamar pas di pusat perbelanjaan New York sekitar lebih dari 20 tahun lalu.

Seperti dilansir AFP, Sabtu,  22 Juni 2019, Carroll kini berusia 75 tahun. Bahkan disebutkan Kantor Berita Prancis itu,  ini menjadi perempuan ke-16 yang menuduh Trump atas tindak kekerasan atau pelecehan seksual.

Trump langsung membantah keras tuduhan ini dengan menyatakan tidak pernah bertemu dengan Carroll. Tuduhan terhadap Trump ini disampaikan dalam kutipan buku terbaru Carroll yang diterbitkan oleh “New York Magazine” pada Jumat, 21 Juni 2019.

Menurut Carroll dalam kutipan bukunya, tindak serangan seksual terhadap dirinya terjadi sekitar tahun 1995 atau 1996 lalu. Saat itu, Trump masih menjadi pengembang real estate terkemuka dan Caroll merupakan penulis majalah terkenal dan host sebuah acara televisi.

Pengakuan Carroll menyebutkan dirinya saat itu tak sengaja berpapasan dengan Trump saat sedang belanja di pusat perbelanjaan “Bergdorf Goodman”di Manhattan, New York. Carroll menyebut bahwa pertemuan itu awalnya penuh nuansa persahabatan. Tetapi untuk selanjutnya mengarah ke bentuk pelecehan.

Memang untuk melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia, orang-orang suci dan politisi sejak zaman kuno hingga sekarang, maka perlu membaca buku edisi bahasa Indonesia berjudul: “Wanita Simpanan,” yang ditulis Elizabeth Abbott.

Buku aslinya berjudul : Mistresses: A History of the Other Women,” diterbitkan Elizabeth Abbott tahun 2010, sedangkan terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Alvabet, cetakan 1, Februari 2013.

Buku setebal 600 halaman ini menggambarkan perselingkuhan, kenapa seorang raja atau presiden berselingkuh.Memang belum terpikir oleh kita, bahwa seorang presiden di sebuah negara tewas atau terguling dikarenakan seorang perempuan. Tetapi pada kenyataannya sering seorang perempuan menjadi agen rahasia dan biasanya rahasia itu bisa digali di tempat peristirahatan.

Sebuah buku berjudul: “Wanita Simpanan,” yang ditulis Elizabeth Abbott, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anik Soemarni pada tahun 2013 ini memang tidak mengarah ke sana. Tetapi dari berbagai dokumen yang ditemukan, ada kalanya dari seorang perempuan muncul pernyataan seorang presiden mengenai kehidupan politiknya.

Tidak dapat kita ungkap kaitannya dengan politik, tetapi setelah Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald (JF) Kennedy terbunuh, Presiden Soekarno yang juga banyak dekat perempuan, ikut terkejut dan tidak mengetahui mengapa dibunuh, sehingga sempat bertanya, kenapa Kennedy dibunuh?

Di dalam buku yang ditulis Elizabeth Abbot  itu, khusus di halaman 461-482 membahas mengenai perempuan simpanan JF Kennedy, Marilyn Manroe yang nama lengkapnya Norma Jean Baker Marlyn Manroe. Usianya juga singkat, yaitu 36 tahun, karena overdosis obat penenang. Usia Kennedy juga singkat, yaitu 46 tahun ketika ditembak.

JF Kennedy  di dalam buku ini disebut pejuang sex yang mendalami benar kritik ayahnya  Joe Kennedy bahwa putranya sebisa mungkin harus sering melakukannya. Oleh karena itu, JF Kennedy banyak berteman dengan perempuan, meski ia sendiri sudah menikah dengan Jackie.Di halaman 462 sangat jelas diungkapkan bahwa JF Kennedy banyak juga berhubungan dengan para bintang film selain Marilyn Monroe. Bahkan dengan isteri para koleganya, pekerja Partai Demokrat AS dan sekretarisnya.

Buku ini baik untuk bahan pelajaran. Apalagi di masa pemerintahan Soekarno, ia pun memiliki banyak isteri. Hanya yang tetap menjadi perhatian kita adalah dampak negatif dari seorang kepala negara yang suka perempuan. Tidak sedikit dari mereka diumpan sebagai mata-mata negara asing. Boleh jadi, faktor ini pula Kennedy ditembak.

Di Indonesia, kita mengenal nama Mata Hari, perempuan berdarah Jawa. Nama aslinya Margaretha yang lahir di Belanda. Selama ini, ia menjadi agen ganda.

Bagaimanapun, AS sangat terbuka menyudutkan lawan politiknya dengan isu perempuan. Tetapi pada saat bersamaan kita tidak pernah habis-habisnya mendengar hal tersebut.

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis dan Sejarawan Senior

Comments are closed.