Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomePolitikaPaslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD Berpotensi Terkoyak di Pilpres 2024

Paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD Berpotensi Terkoyak di Pilpres 2024

Politisi senior Gerindra, Supriyanto. (foto: ist)

PONOROGO – Pesta demokrasi, Pagelaran pilpres 2024, memasuki babak baru. Persaingan antar capres-cawapres semakin ramai. Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD akan berhadapan dengan Pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Politisi senior Gerindra yang juga mantan Ketua DPRD Ponorogo dari PDIP, Supriyanto melakukan analisis terhadap Pasangan nomor urut 3 Ganjar-Mahfud yang akan berhadapan dengan pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Kang Pri sapaan akrab Supriyanto memprediksi pasangan nomor urut 3, Ganjar- Mahfud akan terkoyak, dengan perolehan suara berada pada rentang angka 25-35 persen pada pilpres 2024.

“Analisis terhadap pasangan Ganjar-Mahfud ini dilakukan secara ringan dan sederhana, dan hanya didasarkan pada pengalaman empiris, dan feeling pribadi sebagai orang yang sudah lama bergelut di politik selama 30 tahun,” ujar Kang Pri pada media ini, Senin (11/12/2023).

Menurutnya, analisis tersebut sifatnya lebih technical, dalam perspektif teknis operasional, meliputi aspek kinerja tim pemenangan, kinerja mesin partai , kinerja caleg-caleg, relawan, dan stakeholder lain-nya, mulai dari pusat sampai daerah. “Setidak-nya analisis ini akan memberi gambaran secara sederhana, cepat, tepat, dan akurat untuk memprediksi prospek pasangan nomor urut 3 pada pilpres kali ini,” tambahnya.

Kemudian dia mengupas mulai dari potensi, kelebihan, kekurangan, tantangan, serta problematika yang akan dihadapi pasangan nomor urut 3 ini. “Sekilas Pasangan Ganjar-Mahfud, cukup prospektif. Secara personal cukup meyakinkan, dan saling melengkapi. Jika ditinjau dari beberap aspek pasangan ini cukup mumpuni,” jelasnya.

Dari sisi pengalaman, Kang Pri menilai bahwa Ganjar-Mahfud mempunyai track record yang cukup baik. “Ganjar pernah menjadi anggota DPR RI, dan gubernur 2 periode. Sedangkan Mahfud punya pengalaman yang cukup komplit, pernah menduduki jabatan legislatif, yudikatif, eksekutif,” imbuhnya.

Selanjutnya dia menganalisa dari sisi popularitas, dan elektabilitas. “Keduanya cukup memadai di posisi masing masing, berdasarkan rilis dari beberapa lembaga survei,” bebernya.

Sedangkan dari sisi basis dukungan, kata Kang Pri yang juga mantan Cabup Ponorogo dari Demokrat tersebut, Ganjar Pranowo yang diusung PDIP punya basis dukungan yang cukup kuat, di Jawa Tengah, propinsi dengan pemilih terbesar ke-3, setelah Jabar, dan Jatim.

“Sementara Mahfud MD putra asli Madura, Jatim, berpotensi menambah suara pasangan ini di propinsi Jatim,” katanya.

Dari sisi tantangan dan Problematika Pasangan Ganjar – Mahfud, Kang Pri menilai secara teknis, lawan terberat pasangan Ganjar-Mahfud adalah ‘internal sendiri’.

“Problem ini timbul sebagai akibat dari konflik internal PDIP, setelah Gibran maju sebagai cawapres dari Prabowo Subianto. Konflik ini berpotensi menjadi penyebab terjadinya ‘Tekanan psikologis politik’ kepada kubu Ganjar-Mahfud, beserta seluruh tim-nya,” paparnya.

Secara teori, problem ‘Psikologis Politik’ dampaknya sangat komplikatif, bisa menimbulkan kecemasan, kelelahan, gugup, frustasi dan marah.

“Problem ini daya rusaknya cukup kuat dan luas, berpotensi menggerogoti semangat juang, dan kinerja tim pemenangan,” urainya.

Untuk potensi komplikasi politik yang ditimbulkan menurutnya berpotensi menurunkan Fighting Spirit atau semangat juang pada tim pemenangan secara keseluruhan.

“Berpotensi memperlemah teamwork atau kerja tim. Manajemen soft skills ini, sangat penting untuk membangun sistem kerja secara kolaboratif. Kerja Caleg mulai dari pusat sampai ke daerah berpotensi terganggu dalam membantu pemenangan cawapres-cawapres didukungnya,” tuturnya.

Pun, dia menegaskan hal itu berpotesi menurunkan rasa percaya diri dari tim pemenangan, sehingga kerja tim tidak maksimal.

“Bahkan berpotensi mengganggu kerja penggalangan dana kampanye (Fundraising Campaign), akibatnya logistik kurang, kerja kurang optimal. Juga berpotensi menciptakan persepsi publik bahwa pasangan capres-cawapres ini “ terkoyak “, sehingga sulit menarik undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan), dan swing voters (pemilih mengambang),” tandasnya.

Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan masa kampanye Pilpres mulai 28 November hingga 10 Februari 2024. Kampanye berlangsung selama 75 hari, sedangkan pemungutan suara pada 14 Februari 2024 mendatang.

(DS/BuS)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular