
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Fenomena kekerasan dalam keluarga yang melibatkan orang terdekat, termasuk ibu dan anak, dinilai menunjukkan gejala memudarnya nilai kasih sayang dalam kehidupan sosial. Karena itu, pendidikan karakter berbasis cinta perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.
Ketua Bidang Dakwah Pengurus Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama (PW Muslimat NU) Jawa Timur, Prof. Dr. Zumrotul Mukaffah, M.Pd., mengatakan peran ibu menjadi kunci dalam membangun karakter anak yang berlandaskan nilai kasih sayang.
“Belakangan ini muncul fenomena hilangnya cinta dalam keluarga. Kita mendengar kasus ibu kandung melakukan kekerasan terhadap anak, ibu tiri menganiaya anak, bahkan anak yang membunuh ibu kandung. Ini tanda bahwa nilai kasih sayang perlu diperkuat kembali,” ujarnya dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan PWNU Jawa Timur di Surabaya, Minggu (8/3/2026) petang.
Dalam pengajian Ramadhan bertema “Peran Ibu dalam Pembentukan Karakter Pecinta pada Anak Usia Dini melalui Penanaman Nilai Aswaja” itu, Zumrotul menekankan pentingnya keluarga sebagai ruang pertama pendidikan moral.
Ia mengutip Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka melalui ketaatan, pendidikan agama, dan menjauhi perbuatan maksiat.
Selain itu, nilai-nilai yang tertuang dalam “Mukaddimah Qonun Asasi” Aswaja juga memuat prinsip karakter yang perlu ditanamkan dalam keluarga, antara lain komunikasi yang baik, kasih sayang, solidaritas, kebersamaan, dan persatuan.
Menurut Zumrotul, ibu memiliki peran strategis dalam membangun suasana keluarga yang sehat dan penuh kasih. Peran tersebut mencakup teladan dalam bersikap, pengasuh dalam menjalani kehidupan, guru dalam membentuk cara berpikir, pemimpin dalam kehidupan sosial, serta sahabat bagi anak dalam berbagi cerita dan pengalaman.
“Dari peran itulah akan tumbuh karakter pecinta, yaitu pribadi yang memiliki kasih sayang, empati, harapan, serta kemampuan memahami orang lain secara mendalam,” katanya.
Ia menambahkan, pembentukan karakter anak perlu dilakukan sejak usia dini. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan dan kepribadian manusia sebagian besar terbentuk pada masa awal kehidupan.

Merujuk penelitian Keith Osborn dari University of Georgia, Burton L. White dari Harvard Preschool Project, serta Benjamin S. Bloom dari University of Chicago, sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terbentuk pada usia 0-4 tahun. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 80% pada usia 4-8 tahun dan mencapai puncaknya pada rentang usia 8-18 tahun.
Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menambahkan bahwa pembentukan karakter pecinta dapat diperkuat melalui nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menjadi landasan pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Nilai-nilai tersebut mencakup semangat persatuan, solidaritas, komunikasi yang baik, sikap saling menolong, menghargai perbedaan, mencintai Tanah Air, menjaga hubungan sosial, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
“Nilai-nilai itu penting ditanamkan sejak dini agar anak tumbuh dengan karakter yang penuh kasih, mampu hidup berdampingan, dan memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



