Tuesday, March 17, 2026
spot_img
HomeGagasanMimbar dan Mihrab Ramadhan

Mimbar dan Mihrab Ramadhan

Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang khas di setiap masjid. Ketika adzan Isya’ berkumandang, jama’ah mulai berdatangan dengan wajah penuh harap. Setelah shalat Isya’, saf-saf mulai rapat, lalu imam berdiri di mihrab memimpin shalat tarawih. Dalam keheningan itu, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan, mengalir pelan, seolah menenangkan hati yang lelah oleh hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

Mihrab dalam tradisi Islam bukan sekadar ruang di depan tempat imam berdiri. Ia adalah simbol kepemimpinan spiritual. Dari mihrab, seorang imam memandu jama’ahnya untuk mendekat kepada Allah. Di tempat itu, bukan kata-kata yang dominan, melainkan ketundukan, keheningan, dan kesadaran diri.

Namun dalam tradisi Ramadhan di banyak masjid, ada satu momen lain yang juga kerap hadir yaitu mimbar. Biasanya di sela-sela antara shalat tarawih dan witir, seorang da’i atau penceramah naik ke mimbar untuk menyampaikan kultum atau kuliah tujuh menit, yang diharapkan mampu memberi penguatan spiritual bagi jama’ah.

Secara ideal, mimbar dan mihrab berjalan dalam keselarasan. Mihrab mengajarkan keteladanan dalam ibadah, sementara mimbar menyampaikan pesan kebaikan kepada umat. Mihrab adalah ruang laku, mimbar adalah ruang kata. Ketika keduanya selaras, dakwah menjadi hidup, dimana kata-kata memiliki ruh karena ditopang oleh tindakan.

Sayangnya, tidak jarang mimbar justru kehilangan fungsi sucinya.

Di beberapa tempat, mimbar tidak lagi menjadi ruang menebarkan hikmah, tetapi berubah menjadi panggung kritik, sindiran, bahkan hujatan. Ada ceramah yang lebih banyak berisi kecaman terhadap kelompok yang berbeda pandangan atau kritik tajam terhadap pihak yang dianggap tidak sejalan. Alih-alih menyejukkan hati, mimbar justru menambah panas suasana.

Padahal jama’ah yang hadir di masjid pada malam Ramadhan tidak datang untuk mencari perdebatan. Mereka datang membawa berbagai beban kehidupan mulai dari persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, bahkan kegelisahan batin yang tak selalu dapat diungkapkan. Mereka berharap menemukan ketenangan dalam shalat dan mendapatkan nasihat yang menentramkan jiwa.

Ketika mimbar berubah menjadi ruang pertengkaran wacana, ruh Ramadhan justru memudar. Ramadhan sejatinya adalah bulan penyucian diri. Dalam bulan ini umat Islam dilatih menahan diri yang bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari kemarahan, kebencian, dan prasangka buruk. Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan bahwa orang yang berpuasa harus menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti orang lain. Karena itu, mimbar Ramadhan semestinya menjadi ruang refleksi, bukan ruang konfrontasi.

Seorang da’i yang berdiri di mimbar seharusnya menyadari bahwa kata-katanya memiliki pengaruh besar. Setiap kalimat yang diucapkan bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga dapat menjadi sumber luka. Dakwah yang bijak bukanlah dakwah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menyentuh hati.

Di sinilah pentingnya keselarasan antara mimbar dan mihrab. Mihrab mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah. Ketika seorang imam berdiri di sana, ia bukan sedang menunjukkan kehebatan, melainkan memimpin jama’ah dalam kepasrahan. Semua berdiri sejajar, tanpa perbedaan status sosial, jabatan, ataupun latar belakang.

Jika ruh mihrab ini dibawa ke mimbar, ceramah akan berubah menjadi nasihat yang penuh empati. Penceramah tidak lagi berbicara dari posisi merasa paling benar, melainkan dari kesadaran bahwa semua manusia sedang sama-sama belajar menjadi lebih baik. Dalam perspektif ini, mimbar bukan tempat menunjukkan superioritas moral, tetapi ruang berbagi pengalaman spiritual. Ia bukan panggung untuk menghakimi, melainkan jembatan untuk saling mengingatkan.

Ramadhan sendiri sebenarnya mengajarkan metode dakwah yang sangat sederhana namun mendalam yaitu keteladanan. Orang belajar tentang kesabaran bukan dari ceramah panjang, tetapi dari melihat orang lain yang mampu menahan emosi. Orang memahami makna keikhlasan bukan dari teori yang rumit, tetapi dari menyaksikan seseorang yang membantu tanpa pamrih. Dengan kata lain, dakwah paling kuat justru lahir dari keselarasan antara ucapan dan tindakan.

Jika seorang da’i mengajak jama’ah untuk bersabar, tetapi ia sendiri mudah marah di mimbar, pesan itu kehilangan maknanya. Jika seorang penceramah mengajak menjaga persatuan umat, tetapi ceramahnya justru memecah belah, maka mimbar telah kehilangan ruhnya.

Dalam tradisi Islam klasik, ulama sangat berhati-hati ketika berbicara di depan umat. Mereka menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari lisan seorang penceramah adalah amanah. Bahkan ada ulama yang menangis sebelum memberikan nasihat, karena takut jika ucapannya tidak sesuai dengan amalnya. Kesadaran seperti inilah yang seharusnya kembali dihidupkan dalam mimbar-mimbar Ramadhan.

Bayangkan jika setiap mimbar di bulan Ramadhan dipenuhi pesan tentang kasih sayang, persaudaraan, dan introspeksi diri. Bayangkan jika setiap kultum mengajak jama’ah untuk lebih peduli kepada tetangga yang kesulitan, lebih sabar dalam keluarga, dan lebih jujur dalam pekerjaan. Masjid akan menjadi ruang yang benar-benar menyejukkan.

Ramadhan pun terasa bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga momentum pembaruan moral bagi masyarakat. Dari masjid, energi kebaikan itu dapat menyebar ke rumah, ke lingkungan kerja, hingga ke kehidupan sosial yang lebih luas.

Di sinilah mimbar dan mihrab menemukan maknanya yang sejati. Mihrab mengingatkan kita tentang hubungan vertikal dengan Tuhan seperti tentang ketundukan, doa, dan penghambaan. Mimbar mengingatkan kita tentang hubungan horizontal dengan sesama manusia seperti tentang etika, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Ketika keduanya berjalan seiring, agama tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Maka Ramadhan terutama di hari-hari terakhirnya ini, adalah momentum yang tepat untuk kembali menyelaraskan mimbar dengan mihrab. Penceramah dapat menjadikan mimbar sebagai ruang menebarkan hikmah, bukan ruang menyulut perdebatan. Jama’ah pun dapat menjadikan mihrab sebagai tempat memperbaiki diri, bukan sekadar menjalankan rutinitas ibadah.

Karena hal paling penting bukanlah seberapa indah kata-kata yang diucapkan di mimbar, melainkan seberapa tulus kita mengamalkannya dalam kehidupan. Karena kebenaran tidak hanya perlu disampaikan, ia juga perlu dihidupkan. Semoga. (*)

 

MOH. JA’FAR SODIQ M.

Dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular