
Saat melakukan aktifitas live di platform media sosial TikTok di akun penulis yaitu @firman.arifin, seorang calon mahasiswa bertanya kepada begini, “Pak, prospek program studi IT di tengah gempuran AI, apakah lulusan IT masih punya masa depan?”
Pertanyaan ini menarik. Karena sebenarnya bukan hanya calon mahasiswa yang bertanya demikian. Banyak mahasiswa, dosen, bahkan para profesional yang diam-diam memiliki kekhawatiran yang sama. Apakah artificial intelligence atau akal imitasi (AI) akan menggantikan manusia?
Jawaban penulis sendiri kala melakukan live mempromosikan PENS jalur mandiri tersebut sederhana. Yang terancam digantikan AI adalah orang yang hanya bisa coding.
Jika kemampuan seseorang hanya sebatas mengetikkan sintaks. Membuat fungsi, atau menulis program sederhana, maka AI memang dapat melakukannya lebih cepat.
Namun dunia IT sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar coding.
Dunia IT Tidak Dimulai dari Coding
Banyak orang menganggap coding adalah inti dari dunia informatika. Padahal coding justru berada di bagian hilir dari sebuah proses yang panjang.
Sebelum sebuah aplikasi dibuat, ada banyak tahapan yang harus dilalui agar solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
Ada masalah yang harus ditemukan. Ada kebutuhan yang harus dipahami. Ada pengguna yang harus diajak berdiskusi. Ada proses bisnis yang harus dipetakan.
Ada alur input, proses, dan output yang harus dirancang. Ada solusi yang harus disederhanakan agar efektif dan efisien. Barulah setelah semuanya jelas, coding dilakukan.
Dengan kata lain, coding hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang menyelesaikan masalah. Ia penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.
Kelebihan Manusia yang Sulit Digantikan AI
Di sinilah letak keunggulan manusia. Manusia memiliki kemampuan yang hingga saat ini belum dapat sepenuhnya digantikan oleh AI.
Manusia mampu mendengar keluhan pelanggan, memahami kebutuhan yang sering kali tidak terucapkan secara langsung, dan menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda menjadi sebuah solusi bersama.
Manusia juga mampu memimpin rapat, membangun kesepahaman, membaca emosi, memahami budaya organisasi, serta menangkap konteks yang tidak selalu tertulis dalam data.
Kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi jembatan antara masalah dan solusi. AI dapat membantu menganalisis dan menghasilkan rekomendasi, tetapi tetap membutuhkan manusia yang menentukan arah.
Lulusan IT Harus Naik Kelas
Karena itu, lulusan IT masa depan harus naik kelas. Mereka tidak cukup hanya menjadi programmer yang menulis kode.
Mereka harus berkembang menjadi individu yang mampu memahami masalah secara utuh dan merancang solusi yang berdampak.
Peran-peran seperti Problem Solver, System Analyst, Solution Architect, Product Designer, hingga Technology Leader akan semakin penting.
AI mungkin dapat membantu membuat program, tetapi AI tetap membutuhkan manusia yang menentukan satu pertanyaan paling mendasar yaitu “masalah apa yang sebenarnya harus diselesaikan?”
Yang Tidak Bisa Digantikan AI
Selain aspek teknis, ada aspek lain yang jauh lebih penting, yaitu karakter dan soft skill.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Tetapi juga oleh kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, beradaptasi, dan membangun kepercayaan.
Dalam bahasa sederhana, hard skill membuat seseorang diterima bekerja. Tetapi soft skill membuat seseorang dipercaya, berkembang, dan mampu memimpin.
AI bisa menulis kode. Namun AI tidak bisa menggantikan kejujuran. AI tidak bisa menggantikan integritas. AI tidak bisa menggantikan empati. AI tidak bisa menggantikan kepemimpinan.
Dan AI tidak bisa menggantikan semangat belajar yang lahir dari kesadaran seorang manusia.
AI Mengubah Atap, Bukan Pondasi
Penulis sering menggunakan analogi rumah ketika berbicara tentang pengembangan sumber daya manusia. Karakter adalah pondasinya. Soft skill adalah struktur dan dindingnya. Sedangkan hard skill adalah atapnya.
Banyak orang terlalu fokus pada atap. Padahal rumah tidak berdiri karena atap. Rumah berdiri karena pondasi yang kuat dan struktur yang kokoh. Atap memang penting, tetapi atap dapat diganti berkali-kali mengikuti perkembangan zaman.
Dulu mahasiswa belajar Pascal. Kemudian C. Java. PHP. Python. Hari ini kita berbicara tentang AI sebagai “programmer” coding. Besok mungkin muncul teknologi baru yang lebih canggih lagi. Atapnya berubah. Tetapi pondasinya tetap sama.
Kejujuran tetap dibutuhkan.
Integritas tetap dibutuhkan.
Kemampuan belajar tetap dibutuhkan.
Kemampuan bekerja sama tetap dibutuhkan.
Kemampuan memimpin tetap dibutuhkan.
Justru di era AI, pondasi dan struktur itu menjadi semakin penting. Karena teknologi yang semakin canggih membutuhkan manusia yang semakin matang.
AI tidak sedang menghancurkan rumah bernama karier. AI hanya sedang mengganti atapnya.
Pesan untuk Calon Mahasiswa IT
Karena itu, jangan takut kepada AI. Pelajarilah AI. Gunakan AI. Jadikan AI sebagai asisten, bukan sebagai pesaing.
Kuasai logika. Kuasai teknologi. Kuasai cara berpikir sistematis. Tetapi pada saat yang sama, bangun karakter dan soft skill yang kuat.
Masa depan bukan milik mereka yang melawan AI. Masa depan adalah milik mereka yang mampu bekerja bersama AI untuk menyelesaikan masalah yang semakin kompleks.
AI mungkin dapat menggantikan sebagian coding. Tetapi AI tidak akan menggantikan manusia yang mampu memahami masalah, memimpin solusi, dan membangun kepercayaan.(*)
FIRMAN ARIFIN
Dosen sekaligus Wakil Direktur Bidang Kerjasama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi PENS Surabaya








