Monday, June 17, 2024
spot_img
HomeGagasanLuna Maya Adalah Kita

Luna Maya Adalah Kita

 

Beberapa hari ini, akun gosip instagram dipenuhi dengan kisah cinta Luna Maya yang ditinggal nikah oleh mantan kekasihnya yang kemudian menikahi temannya sendiri. Dan komentar dari para warganet (netizen) luar biasa. Bahkan muncul #teamluna dan team pasangan yang baru saja menikah di Tokyo beberapa hari lalu. Oh ya, catatan ini bukan tentang tikung-menikung. Tapi bagaimana perempuan menjadi korban kontruksi sosial.

Ada hal yang menarik dari beberapa komentar warganet adalah ketika mengatakan bahwa selamanya Luna Maya tidak akan pernah bisa menikah karena kasus video pornonya dengan Ariel beberapa tahun lalu. Tidak akan ada laki-laki yang mau serius dengan Luna Maya karena kasus tersebut. Hujatan yang membuat saya agak ‘gimana’ gitu. Melakukan penghakiman kepada Luna Maya ‘sekeras’ itu bukan hal yang baik bagi saya.

Apa karena Luna Maya pernah melakukan kesalahan lalu selamanya dia harus dihakimi?

Saya jadi ingat beberapa minggu lalu, ketika seorang teman menyampaikan pesan kepada saya. Saya dicap sebagai perempuan yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Mengapa? Mungkin karena saya memutuskan untuk tidak menikah sampai detik ini. Karena saya tidak punya anak. Tidak punya pasangan. Saya menginap di tempat bencana berhari-hari dan menjadi rasanan¬†“ah kok perempuan seperti itu berhari-hari keliling terus. Apa nggak ngurusin keluarga ya”. Jujur saya sedih.

Belum lagi obrolan yang mengatakan bahwa saya bukan orang baik-baik. Bahkan katanya ada yang jelas-jelas menyatakan tidak mau satu forum dengan saya. Dianggap saya orang yang bermasalah. Saya hanya tertawa saat mendengarkannya walaupun jujur hati kecil saya ngrasa ‘nganu’ banget. Menilai saya hanya dari postingan di media sosial. Saya tidak tahu apakah ada standar untuk mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang tidak baik-baik? Bukankah manusia punya dua sisi?

Tahu yang saya lakukan? Saya mengirim pesan kepada perempuan tersebut dan meminta maaf jika saya pernah melakukan kesalahan kepadanya. Dia membalas pesan dan mengatakan -salah satunya- jika ada beberapa orang yang menyampaikan hal hal yang tidak nyaman pada tentang saya kepadanya. Saat membacanya, saya hanya senyum. Apa bedanya dengan dia? Sama saja. Dan apa yang dilakukannya bukan menunjukkan empati. Saya tidak membenci. Sungguh. Apalagi kalau cuma bilang katanya. Mengurusi hal-hal pribadi tentang keputusan keputusan pribadi seseorang adalah hal yang sangat konyol. Apa yang terjadi di media sosial hanya nol koma sekian persen dari kehidupan dunia nyata yang saya jalani. Lalu apa diladeni? Tidak. Karena tidak perlu menjelaskan tentang dirimu. Kebaikan apapun yang dilakukan akan tetap salah di mata orang yang tidak suka pada kita.

Apa yang terjadi pada Luna Maya juga bisa terjadi dengan beberapa perempuan lain. Hanya saja Luna Maya publik figur. Betapa mereka menjadi korban penghakiman atas konstruksi sosial yang dibangun masyarakat. Hari ini Luna Maya. Siapa tahu besok kamu yang gantian dinyinyirin. Kita tidak pernah ada yang tahu kan?

Perempuan punya hak atas otonomi tubuhnya dan pikiran sendiri. Dan herannya, di zaman yang sudah maju semacam ini masih ada orang yang sibuk ngurusin pilihan hidup orang lain bahkan dia teman sendiri. Sedih? Iya. Tanya mengapa tidak menikah, tanya mengapa tidak punya anak. Mengapa harus operasi Caesar. Mengapa A. Mengapa B. Semuanya dikomentari.

Saya lebih memilih mengedepankan empati. Contohnya jika ada yang jatuh, maka saya mencoba berada disampingnya untuk membantunya berdiri. Menjadi pendengar yang baik untuk seorang teman tanpa memberikan komentar nyinyir sehingga dia berhasil mengambil keputusan yang tidak perlu pula kita hakimi apapun pilihannya. Saya yang selalu berusaha ada 24 jam untuk sahabat sahabat saya walaupun toh endingnya harus ngobrol via pesan atau telpon berjam-jam karena tidak memungkinkan untuk bertemu.

Apakah catatan ini adalah sebuah pembenaran atas pilihan hidup saya? Tidak juga. Saya hanya berbagi cerita saja. Saya juga bukan malaikat dan pernah melakukan kesalahan. Tapi hingga detik ini saya berusaha untuk memperbaiki diri dan menebus kesalahan kesalahan yang pernah saya lakukan.

Tapi, tolong berhentilah mengurusi hidup orang lain. Semacam menancapkan paku di batang pohon. Walaupun sudah dicabut, bekas lukanya masih ada bahkan hingga batang pohon itu roboh.

Akhirul kata, “keterbelakangan¬†bangsa ini adalah karena premanisme di antara kita sendiri” pesan seorang penulis perempuan, Ayu Utami.

IRA RACHMAWATI

Jurnalis Perempuan, tinggal di Banyuwangi

RELATED ARTICLES

Berita Terbaru

Most Popular