
“Meskipun mungkin menyenangkan untuk membayangkan pernah ada masa ketika manusia hidup harmonis dengan alam, tidak jelas apakah ia pernah benar-benar melakukannya.” — Elizabeth Kolbert (64), The Sixth Extinction: An Unnatural History (2014).
Sejak krisis ekologi merambah sistem pengetahuan modern yang bertumpu pada sains dan teknologi, peradaban mutakhir yang ditajuk sebagai kapitalisme global semakin tampak rapuh.
Dari pihak sains, misalnya, Thomas Kuhn pernah menyingkap revolusi sains sebagai pergeseran paradigma yang dikenal luas dengan bukunya yaitu The Structure of Scientific Revolutions (1962).
Sementara, Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (1964) telah mengkritik filsafat teknologi yang justru menjerat manusia dalam satu dimensi rasionalitas yang sempit.
Kapitalisme global, istilah pertama diajukan David. C. Korten, aktivis yang fokus pada isu Ecological Civilization, yang diproduksi dan dipelihara oleh Amerika Serikat sebagai pentolan utamanya, turut melahirkan kebudayaan destruktif yang menempatkan isu ekologi sebagai tragedi universal, datar merata, tanpa solusi yang berakar pada prinsip ekulitas, keberlanjutan, dan keadilan.
Pada World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, isu ini mencuat sebagai tanda berakhirnya tatanan lama yang gagal menjawab tantangan ekologi global.
Dengan demikian, filsafat eco-justice yang pernah digagas Susan Sontag tidak lagi cukup menjadi pijakan, melainkan harus direfleksi ulang melalui ekopistemologi kritis.
Bersama David C. Korten (88), dalam When Corporations Rule the World (1995, edisi revisi 2001 dan 2015) menegaskan bahwa dominasi korporasi global telah menyingkirkan prinsip-prinsip demokrasi dan keberlanjutan.
Ia menunjukkan bagaimana “suicide economy” menghancurkan fondasi ekologis dan sosial masyarakat, sehingga ekopistemologi harus membaca ulang relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan ekologi dalam kerangka melawan hegemoni korporasi.
Lain hal Fritjof Capra, ekofisikawan berusia 86 tahun, dalam The Web of Life (1997) menawarkan sintesa baru yang menghubungkan jiwa (mind) dan materi dalam jaringan kehidupan.
Capra, penulis yang melejit lewat Tao of Phyisic (1975), menekankan bahwa ekologi bukan sekadar isu lingkungan, melainkan paradigma holistik yang menuntut keterhubungan antara sistem biologis, sosial, dan budaya.
Sementara itu, Jared Diamond (87), melalui Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (2005) memperingatkan bahwa keruntuhan ekologi bumi bukanlah fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang sudah terdeteksi sejak lama.
Diamond, kini aktif memberikan ceramah di berbagai universitas dan forum, termasuk Athenaeum, menelusuri sejarah peradaban yang runtuh karena kerusakan lingkungan.
Dari Pulau Paskah hingga masyarakat modern, ia menegaskan bahwa kapitalisme global sedang mengulang pola kehancuran yang sama.
Ekopistemologi, dengan demikian, harus menjadi refleksi kritis atas cara pengetahuan diproduksi dan digunakan dalam kerangka kapitalisme global.
Ia menuntut pembacaan ulang terhadap epistemologi sains dan teknologi yang selama ini dianggap netral, padahal sarat kepentingan ekonomi-politik.
Krisis ekologi yang kini menjadi agenda utama di Davos 2026 menunjukkan bahwa kapitalisme global telah gagal menyediakan jawaban atas tantangan keberlanjutan.
Karena itu, ekopistemologi harus mengajukan paradigma baru yang menolak reduksi ekologis menjadi sekadar isu teknis, melainkan menempatkannya sebagai inti dari keadilan sosial, keberlanjutan budaya, dan kelangsungan hidup planet.
Refleksi atas Korten, Capra, dan Diamond memperlihatkan bahwa tanpa perubahan radikal dalam cara kita memahami dan mengelola pengetahuan, kapitalisme global akan terus melahirkan kebudayaan destruktif yang menjerumuskan bumi ke jurang kehancuran.
Selain itu, Elizabeth Kolbert, jurnalis lingkungan dan penulis, menambahkan kritik tajam tentang kepunahan keenam(sixth extinction).
Kolberg, juga pada awal 2026 ini, menjadi pembicara dalam berbagai forum ekologi, termasuk Sea Secrets Lecture Series di University of Miami.
Ia menegaskan bahwa kepunahan ekologi kini bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan akibat langsung dari eksploitasi manusia terhadap lingkungan.
Kutipan satirnya, “umat manusia sibuk menggergaji dahan tempat ia bertengger” (humanity is busy sawing off the limb on which it perches) menjadi peringatan keras bahwa kerusakan ekologi yang kita ciptakan akan berbalik menghancurkan kita sendiri.
Sepanjang sejarah bumi, lima kepunahan massal telah terjadi akibat faktor alam seperti asteroid dan perubahan iklim geologis.
Namun kepunahan keenam yang sedang berlangsung disebabkan oleh deforestasi, polusi, perubahan iklim, dan perusakan habitat yang dilakukan manusia.
Paradoksnya, spesies yang paling adaptif justru menjadi penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati.
Ekopistemologi karenanya harus menjadi kerangka refleksi kritis yang menyingkap relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan ekologi.
Dan sekaligus harus manpu mengajukan paradigma baru yang menempatkan keberlanjutan dan keadilan sebagai inti peradaban.
Tanpa itu, kapitalisme global akan terus mengulang pola kehancuran yang sama, dan bumi akan semakin dekat pada jurang kepunahan.
Kata Garaudy, filsuf marxisme yang jadi mualaf, “bunuh diri planeter telah berada di ambang pintu peradaban kita!“
#coversongs: Album musik Deep Ecology karya Tim Sane dirilis melalui Bandcamp pada tahun 2021, sedangkan istilah “Deep Ecology” sendiri adalah sebuah filsafat lingkungan yang menekankan nilai intrinsik semua makhluk hidup dan keterhubungan ekosistem secara holistik.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



