
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Nama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI kerap hadir di ruang publik melalui laporan audit dan rekomendasi yang menentukan arah tata kelola keuangan negara. Namun, di balik institusi besar itu, ada kerja sunyi yang jarang tersorot: merawat kepercayaan publik melalui komunikasi yang jernih, bertanggung jawab, dan berintegritas.
Kerja itulah yang kini diemban Hardini Lestiani Hernusa, alumnus Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR). Ia dipercaya menjabat Deputy Director of Information Management pada Biro Humas dan Kerja Sama Internasional BPK RI.
Bagi Hardini, perjalanan menuju posisi strategis itu bukan lompatan instan. Fondasinya justru dibangun sejak masa kuliah, ketika ketelitian, disiplin berpikir, dan kepekaan terhadap data menjadi bagian dari keseharian akademik.
“Akuntansi mengajarkan saya untuk jujur pada angka dan proses. Prinsip itu sangat relevan ketika harus mengelola informasi dan menjaga kredibilitas lembaga negara,” ujar Hardini, Rabu (28/1/2026).
Dalam perannya sebagai Kepala Bagian Pengelolaan Informasi, Hardini berada di simpul penting komunikasi BPK RI. Ia memastikan setiap pesan lembaga sejalan dengan strategi besar BPK yang dirangkum dalam dua nilai utama yakni bermartabat dan bermanfaat.
Komunikasi, menurut dia, bukan sekadar soal pencitraan. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil pemeriksaan BPK dapat dipahami publik dan memberi dampak nyata bagi transparansi pengelolaan keuangan negara.
Tantangan itu kian besar ketika BPK RI dipercaya menjadi anggota United Nations Board of Auditors. Melalui mandat tersebut, auditor Indonesia akan melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 60 lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama enam tahun ke depan.
“Kepercayaan internasional harus dijaga dengan kerja profesional dan komunikasi yang bertanggung jawab,” kata Hardini.
Kepemimpinan Perempuan dan Budaya Saling Dukung
Sebagai pemimpin perempuan, Hardini menempatkan budaya saling mendukung sebagai bagian penting dari kepemimpinan. Prinsip itu ia terapkan melalui keterlibatannya dalam program kemitraan strategis BPK RI dengan BPK Australia, Mentoring Series Women in Leadership, yang kini memasuki seri ketiga.
Program tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pemimpin perempuan di lingkungan BPK, sekaligus penguatan kapasitas di tengah tuntutan profesional yang kian kompleks.
“Perempuan di BPK didorong untuk terus berkembang. Namun, keseimbangan antara pekerjaan, pendidikan, dan keluarga tetap menjadi hal yang harus dijaga,” ujarnya.
Kepada mahasiswa, khususnya generasi muda di almamaternya, Hardini berpesan agar tidak membatasi diri pada perkuliahan formal. Pengayaan kompetensi melalui sertifikasi dan pelatihan dinilainya semakin penting di tengah persaingan profesional.
“Berani bermimpi harus diiringi kesiapan dan kerja keras. Terus belajar, tetap rendah hati, dan jangan berhenti memberi kontribusi,” ujarnya.
Di balik nama besar BPK RI, kerja sunyi seperti yang dijalani Hardini menjadi pengingat bahwa integritas lembaga negara tak hanya dijaga melalui audit dan angka, tetapi juga melalui manusia-manusia yang setia merawat kepercayaan publik, hari demi hari.(*)
Kontributor: Khefti PKIP
Editor: Abdel Rafi



