
BOGOR, CAKRAWARTA.com – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengajak pengusaha asal Bali Ajik Krisna menjadikan Bali sebagai pusat pengembangan bambu bertaraf internasional. Ajakan itu sejalan dengan upaya memaksimalkan potensi bambu sebagai komoditas ekonomi, lingkungan, dan budaya.
Ajik Krisna menyambut gagasan tersebut dengan antusias. Ia mengapresiasi Viva Yoga yang memperkenalkannya kepada Jatnika Nanggamihardja, ahli bambu yang dikenal di tingkat internasional. Kepada Jatnika -akrab disapa Aki Jatnika- Ajik mengaku ingin belajar lebih dalam mengenai bambu dan berbagai manfaatnya.
Hal itu disampaikan Ajik Krisna, yang memiliki nama asli Gusti Ngurah Anom, saat berkunjung ke Padepokan Kabuyutan Muara Beres atau Padepokan Bambu Indonesia di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026). Padepokan yang berada di tepi Sungai Ciliwung tersebut merupakan pusat pelatihan budaya bambu dan menyimpan sedikitnya 161 varietas bambu.
Ajik Krisna menyebut, kunjungan tersebut menjadi bagian dari rencananya mengembangkan kawasan seluas sekitar 30 hektare di Bali bagian utara sebagai kampung wisata UMKM berbasis bambu. Di kawasan itu direncanakan pembangunan hutan bambu, pusat riset, museum bambu, pusat kuliner, serta perkampungan bambu. Warga setempat nantinya tidak hanya menanam bambu, tetapi juga mengolahnya menjadi produk kesenian, perlengkapan rumah tangga, hingga cinderamata.
Dalam kunjungan tersebut, Ajik Krisna tampak antusias menyimak penjelasan Aki Jatnika mengenai beragam varietas bambu serta potensi pengembangannya. “Kami ingin bambu menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Viva Yoga menilai bambu memiliki manfaat ekonomi dan ekologis yang besar. “Berbagai produk bisa dihasilkan dari olahan bambu,” katanya. Ia menjelaskan, Kementerian Transmigrasi juga memiliki program pengembangan bambu di kawasan transmigrasi.
Menurut Viva Yoga, bambu memiliki keunggulan karena dapat dibudidayakan di berbagai jenis lahan. “Di kawasan transmigrasi dengan kondisi tanah yang beragam, bambu bisa tumbuh dengan baik. Di desa-desa pun banyak warga menanam bambu di belakang rumah,” ujar mantan anggota DPR dua periode itu.
Ia menambahkan, pemanfaatan bambu kini tidak lagi terbatas pada furnitur atau kerajinan tradisional. Berdasarkan pertemuannya dengan delegasi Promosi Perdagangan Indonesia–Guangdong (PPIG), bambu varietas reed (reed bamboo) dapat diolah menjadi serat bambu (fiber bamboo) yang dimanfaatkan sebagai bahan tekstil.
“Serat bambu bisa menjadi kaos, jaket, kaus kaki, hingga berbagai aksesoris. Bahannya nyaman dan memiliki keunggulan dibandingkan tekstil lain,” katanya.
Selain bernilai ekonomi, bambu varietas reed juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida. Karena itu, tanaman ini dinilai berpeluang masuk dalam skema pasar karbon dengan nilai jual yang tinggi.
“Kami ingin mengembangkan berbagai varietas bambu di kawasan transmigrasi. Selain bernilai ekonomi, bambu juga menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan,” ujar Viva Yoga.(*)
Kontributor: Ardi W
Editor: Abdel Rafi



