
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Konflik berkepanjangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel mulai memunculkan gelombang krisis baru yang jauh melampaui persoalan minyak dan gas. Dunia kini menghadapi ancaman terganggunya rantai pasok berbagai bahan strategis yang menopang industri modern, mulai dari pupuk pertanian, semikonduktor, hingga baterai kendaraan listrik.
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menilai, dampak perang di kawasan Teluk Arab telah berkembang menjadi krisis industri global yang belum sepenuhnya disadari banyak negara.
“Selama ini orang berpikir Timur Tengah hanya soal minyak dan gas. Padahal, kawasan ini juga memasok berbagai material penting untuk industri masa depan,” ujar Arcandra dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/5/2026).
Menurut dia, konflik yang telah memasuki bulan ketiga itu menyebabkan gangguan serius pada fasilitas produksi energi di kawasan Teluk Arab, baik sektor hulu, midstream, maupun hilir. Penutupan Selat Hormuz membuat distribusi energi dunia terguncang.
Arcandra mencatat, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari dan lima juta barel produk kilang terdampak akibat krisis tersebut. Tidak hanya itu, pasokan LNG dunia juga berkurang sekitar 86 juta ton per tahun atau setara 20 persen kebutuhan global.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan, kata Arcandra, justru dampak lanjutan terhadap industri nonmigas.
Kawasan Teluk Arab diketahui memasok sekitar 46 persen kebutuhan urea dunia dan 20 hingga 30 persen kebutuhan amoniak global. Kenaikan harga kedua komoditas itu kini mulai menekan sektor pertanian di berbagai negara.
“Harga urea dan amoniak sudah naik sekitar 15 sampai 20 persen. Petani di Brasil, China, dan India mulai kesulitan mendapatkan pasokan,” katanya.
Tidak berhenti di sana, kawasan tersebut juga menjadi pemasok sekitar 30 persen helium dunia, 50 persen sulfur global, dan sembilan persen aluminium dunia.
Helium, yang selama ini jarang menjadi perhatian publik, ternyata memegang peran vital dalam industri semikonduktor dan perangkat medis seperti MRI. Gas itu digunakan sebagai pendingin dalam proses manufaktur microchip.
Arcandra mengatakan, stok helium dunia diperkirakan hanya cukup untuk enam bulan ke depan. “Belum ada alternatif yang lebih baik daripada helium untuk pendingin manufaktur microchip. Kalau pasokan terganggu, industri kendaraan listrik dan data center bisa ikut melambat,” ujarnya.
Situasi diperparah setelah Qatar mendeklarasikan keadaan kahar (force majeure) sejak Maret 2026 akibat kerusakan fasilitas produksi helium di Ras Laffan.
Menurut Arcandra, pemulihan fasilitas itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. “Perbaikannya bisa memakan waktu bulanan bahkan tahunan,” katanya.
Dampak lain yang mulai terasa adalah lonjakan harga sulfur, bahan penting dalam proses pengolahan nikel untuk baterai kendaraan listrik.
Sulfur dalam bentuk asam sulfat digunakan dalam teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), yakni proses pengolahan bijih nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai lithium-ion.
Indonesia, sebagai salah satu pusat industri hilirisasi nikel dunia, dinilai ikut berada dalam posisi rentan.
Beberapa fasilitas HPAL yang telah beroperasi di Indonesia antara lain PT Halmahera Persada Lygend di Pulau Obi, Huayue Nickel Cobalt di Sulawesi Tengah, serta QMB New Energy Materials.
Menurut Arcandra, sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhan sulfur pabrik HPAL Indonesia masih bergantung pada pasokan Timur Tengah.
Sebelum konflik pecah, harga sulfur berkisar antara 150 dollar AS hingga 200 dollar AS per ton. Kini, harganya melonjak hingga sekitar 1.000 dollar AS per ton.
Lonjakan itu membuat biaya produksi nikel sulfat dan kobalt sulfat meningkat tajam, sehingga baterai lithium-ion jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) menjadi semakin mahal.
“Baterai NMC bisa kalah bersaing dengan LFP karena biaya produksinya naik sangat tinggi,” ujar Arcandra.
Ia menilai, krisis ini menjadi peringatan bahwa transisi energi global tidak bisa dilakukan secara hitam-putih dengan mempertentangkan energi fosil dan energi terbarukan.
Menurut Arcandra, dunia belum sepenuhnya siap meninggalkan energi fosil karena banyak industri energi hijau justru masih bertumpu pada rantai pasok turunan migas.
“Energi fosil dan energi terbarukan semestinya saling melengkapi sampai nanti teknologi energi bersih benar-benar siap menggantikan,” katanya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








