
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Industri dana pensiun Indonesia menghadapi tantangan besar menuju 2045. Di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, pengelolaan investasi dana pensiun dituntut tidak hanya lebih kompetitif, tetapi juga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pesan itu mengemuka dalam Seminar “Penguatan Strategi Investasi Dana Pensiun melalui Outlook Ekonomi, Pendekatan Liability Driven Investment (LDI), dan Tata Kelola serta Standar Akuntansi yang Berkelanjutan” yang digelar Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Iwan Pasila, mengatakan peran industri dana pensiun akan semakin strategis dalam menopang ketahanan ekonomi nasional di masa depan. Karena itu, penguatan tata kelola dan kapasitas investasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Pada 2045 nanti, kontribusi dana pensiun diharapkan dapat mencapai 60 persen terhadap PDB. Ini menjadi tantangan bersama untuk memastikan masyarakat Indonesia memiliki kesejahteraan yang memadai di masa pensiun,” ujar Iwan saat menyampaikan keynote speech.
Ketua ADPI, Abdul Hadi, menilai seminar tersebut penting untuk memperkuat kesiapan industri dana pensiun menghadapi perubahan lanskap ekonomi global yang semakin dinamis.
Menurut dia, penguatan strategi investasi tidak hanya diperlukan untuk meningkatkan hasil investasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembayaran manfaat kepada peserta dana pensiun.
“Seminar ini penting bagi pelaku dana pensiun, khususnya anggota ADPI, untuk memperkuat tata kelola sekaligus meningkatkan kapasitas investasi secara lebih terukur dan berkelanjutan,” kata Abdul Hadi.
Dalam sesi utama seminar, ekonom senior Raden Pardede mengingatkan bahwa meskipun ancaman krisis ekonomi global belum berada dalam situasi mengkhawatirkan, pengelola dana pensiun tetap harus menjaga disiplin investasi.
“Bangsa yang besar harus memperkuat sektor asuransi dan dana pensiun secara lebih berkualitas. Krisis memang masih jauh, tetapi investasi dana pensiun harus tetap prudent,” ujar Raden Pardede.
Ia menilai, ketahanan industri dana pensiun akan menjadi salah satu penopang penting stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, terutama ketika jumlah penduduk usia produktif mulai bergeser menuju masyarakat menua.
Seminar itu juga menghadirkan Head of Product & Distribution Bahana TCW, Randy Sugiarto Wijoyo, yang membahas pendekatan Liability Driven Investment (LDI) untuk mengelola ketidaksesuaian aset dan liabilitas dana pensiun.
Sementara Direktur Ikatan Akuntan Indonesia, Yakub, memaparkan pentingnya penguatan standar akuntansi investasi pendapatan tetap dan tata kelola yang berkelanjutan guna mendukung implementasi strategi investasi jangka panjang.
Melalui seminar tersebut, ADPI berharap pengelola dana pensiun di Indonesia semakin adaptif menghadapi perubahan ekonomi global, sekaligus mampu menjaga keberlanjutan manfaat pensiun bagi masyarakat pada masa mendatang.(*)
Kontributor: Syarifuddin Y
Editor: Abdel Rafi








