
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, KHA Muzakki Alhafidz, mengajak umat Islam untuk tidak takut berhijrah. Baginya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan keberanian mengubah diri menuju kehidupan yang lebih baik.
Menurut Muzakki, perubahan merupakan keniscayaan yang akan dihadapi setiap manusia. Karena itu, hijrah perlu dipandang sebagai momentum untuk bertumbuh, bangkit, dan melangkah menuju keadaan yang lebih baik.
“Hijrah itu keniscayaan, karena hidup itu pasti hijrah. Ada orang yang harus pindah tugas ke luar pulau, ada yang berpindah lingkungan, ada pula yang harus mengubah kebiasaan hidupnya. Semua itu membutuhkan kesiapan hati,” ujar Muzakki dalam Kajian Senja bertajuk “Jangan Takut Berhijrah” di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, Rabu (24/6/2026).
Kajian Senja episode ke-17 itu dipandu Hj Nur Cita Qomariyah Helmy. Dalam kesempatan tersebut, Muzakki yang juga Dewan Pembina Pesantren Digipreneur Al Yasmin menekankan bahwa hijrah harus dimaknai sebagai proses perbaikan diri secara berkelanjutan.
Hijrah, kata dia, dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti meninggalkan kebiasaan buruk, belajar membaca Al Quran, memperbaiki bacaan, hingga mengamalkan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menuju lebih baik. Dari belum bisa membaca Al Quran menjadi bisa, dari bisa membaca menjadi lebih baik bacaannya, lalu meningkat pada tahap mengamalkannya,” kata Muzakki.
Namun, ia mengingatkan, setiap proses hijrah hampir selalu disertai ujian. Tidak jarang seseorang yang mulai memperbaiki diri justru mendapat komentar sinis dari lingkungan terdekatnya.
Muzakki mencontohkan mereka yang mulai mengenakan hijab, tetapi kemudian dipertanyakan karena dianggap belum sepenuhnya berubah dalam perilaku. Menurut dia, tanggapan seperti itu harus dihadapi dengan keteguhan sekaligus akhlak yang baik.
“Jawab saja, saya memakai hijab bukan karena sudah menjadi orang yang sempurna, tetapi karena ingin lebih taat kepada Allah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa upaya meluruskan pandangan orang lain tidak boleh dilakukan dengan cara yang melukai atau memutus silaturahmi. Akan tetapi, seseorang juga perlu menjaga diri agar tidak kembali terseret dalam lingkungan yang menghambat proses perbaikannya.
“Bahasa dan ekspresi kita jangan sampai menyakiti. Menjadi Muslim yang baik itu harus menyenangkan. Tetapi, tidak ada hijrah tanpa perjuangan. Orang yang ingin menjadi baik memang harus siap berkorban,” kata Muzakki.
Pengorbanan itu, menurut dia, dapat berupa kehilangan kenyamanan, dijauhi teman, hingga menghadapi risiko dalam pekerjaan. Meski demikian, ia meminta peserta kajian untuk tidak memandang kehilangan sebagai akhir dari perjalanan.
“Hijrah itu memang mahal harganya. Kadang ada yang kehilangan teman, bahkan kehilangan pekerjaan. Tetapi, Allah menjanjikan kelapangan rezeki bagi orang yang berhijrah,” tutur Muzakki.
Ia menambahkan, rezeki tidak hanya berkaitan dengan doa, tetapi juga dengan perilaku sehari-hari. Keikhlasan, kejujuran, kedisiplinan beribadah, kedermawanan, dan kesediaan membantu sesama menjadi bagian dari ikhtiar untuk membuka jalan rezeki.
Muzakki kemudian mencontohkan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sebagai titik balik penting dalam sejarah Islam. Selama berada di Mekkah, Nabi menghadapi penolakan, hinaan, hingga ancaman pembunuhan. Namun, setelah hijrah ke Madinah, Nabi membangun fondasi masyarakat Islam yang kemudian berkembang luas.
“Selama 53 tahun di Mekkah, Nabi menghadapi banyak tekanan. Namun, dalam 10 tahun di Madinah, beliau membangun peradaban masyarakat madani dan Islam berkembang ke berbagai penjuru dunia,” ujar Muzakki.
Ia mengatakan, hijrah Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan bahwa situasi yang semula terasa sebagai keterpaksaan dapat berubah menjadi jalan keberkahan. Nabi, kata dia, meninggalkan Mekkah bukan semata karena keinginan pribadi, melainkan karena tekanan dari kaumnya.
“Kalau Nabi tidak hijrah, mungkin Islam tidak sampai ke Surabaya. Hijrah yang semula terasa berat justru menjadi jalan lahirnya peradaban,” katanya.
Karena itu, Muzakki mengajak umat Islam untuk meniatkan setiap perubahan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Hijrah, menurut dia, harus ditempuh dengan kesabaran, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap perjuangan menuju kebaikan selalu memiliki makna.
“Hijrah itu bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah menuju keadaan yang lebih baik. Yang paling penting, niatkan semuanya karena Allah,” ujar Muzakki.(*)
Kontributor: Fitrah
Editor: Abdel Rafi








