Berita Terpercaya Tajam Terkini

Jelang Hari Kemerdekaan Israel dan “Peta Baru” Palestina

Peta Palestina Tahun 1947. (foto: istimewa)

 

Sebentar lagi, tanggal 14 Mei 2020, Israel akan memperingati Hari Kemerdekaan. Tujuh puluh dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi itu memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel”.

Memang benar, sehari kemudian, gabungan lima negara Arab –Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak– menyerang Israel, yang menimbulkan Perang Arab-Israel 1948. Tetapi negara-negara Arab mengalami kekalahan.

Penduduk Palestina di Tepi Barat sekarang merasa cemas, karena Israel akan mencaplok 30-40 wilayah tersebut, termasuk seluruh Yerusalem Timur.

Pasukan Militer Israel sudah memulai mencegah seorang buruh Palestina memasuki wilayah Israel setelah secara ilegal melintasi pagar keamanan Israel di dekat kota Hebron Tepi Barat, Selasa 5 Mei 2020. Pekerja Palestina mencoba itu sebelumnya memasuki area perbatasan Israel untuk bekerja setelah larangan masuk diberlakukan di tengah kekhawatiran atas penyebaran pandemi COVID-19.

Amerika Serikat (AS) sekutu Israel juga mengatakan siap mengakui kedaulatan Israel atas Tepi Barat dalam beberapa minggu mendatang. AS sudah tentu akan mengakui kedaulatan Israel setelah pemetaan rampung, pembangunan permukiman Israel di Area C diberhentikan, dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setuju untuk berunding dengan Palestina sesuai dengan rencana perdamaian AS.

Setelah pemetaan rampung, berarti Israel sekarang ini sedang mempersiapkan peta baru, yang sudah tentu mengambil sebagian besar wilayah Palestina. Nasib Peta Palestina 1947, seperti peta di atas, sudah tentu akan berakhir.

Israel diperkirakan akan melakukan aneksasi pada 1 Juli, sebagaimana disepakati antara Netanyahu dan pimpinan Partai Biru-Putih Benny Gantz Israel.

Sebelumnya, Yerusalem diakui Amerika Serikat sebagai “ibu kota Israel yang tak terbagi” dan berikutnya akan mengakui kedaulatan Israel atas sebagian besar wilayah Tepi Barat.

Nasib bangsa Palestina betul-betul malang, karena dengan peta baru tersebut, Israel akan mencaplok 30-40 persen wilayah Tepi Barat, termasuk seluruh area Yerusalem Timur.

Kecaman sudah tentu akan berlangsung, tetapi biasanya Amerika Serikat tidak mau mendengarnya. Lihat saja kecaman dunia terhadap pengakuan Amerika Serikat yang menganggap bahwa Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Besar pula kemungkinan, pembuatan peta Israel salah satu faktor yang bisa memenangkan Presiden AS Donald Trump terpilih kembali menjadi presiden untuk empat tahun berikutnya.

Lobby Yahudi di Amerika Serikat tidak bisa dianggap angin lalu. Berkali-kali Pemilihan Presiden, kelompok Yahudi Amerika selalu di belakang calon presiden yang didukungnya dan menang. Itulah arti keberadaan kelompok Yahudi di AS.

Nasib Pengungsi Palestina Semakin Tidak Menentu

Berubahnya peta Palestina semakin membuat rakyat Palestina yang terusir dari wilayahnya akibat perang Arab-Israel beberapa kali, akan terus menderita. Perang Arab-Israel yang selalu dimenangkan Israel, membuat warga Palestina, baik yang ada di Tepi Barat maupun Jalur Gaza (kebanyakan membuat pemukiman seadanya), akan terus menderita tiada akhir, karena setelah pembagian wilayah Palestina secara tidak adil oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itulah mimpi buruk yang dihadapi warga Palestina.

Kenapa bangsa Palestina yang menderita. Bukankah ketika terjadi pembantaian terhadap bangsa Yahudi, bukan bangsa Palestina yang melakukannya?

Holocaust, itulah istilah populernya, di mana enam juta penganut Yahudi-Eropa selama Perang Dunia II dibunuh. Pembantaian tersebut dilakukan oleh Jerman Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Jadi bukan oleh bangsa Arab Palestina. Tetapi kenapa, mereka yang menjadi korban?

Saya pernah menulis di Kompasiana, tanggal 29 Mei 2018. Waktu itu, saya membaca tulisan wartawan “Al Jazeera INews.” Sebuah cerita mengharukan dari Kamp Pengungsian Palestina  di Libanon, sebuah negara yang berbatasan dengan Israel dan Palestina, juga dengan Suriah.

Sudah tentu cerita ini diungkap masih ada kaitan dengan 70 tahun bangsa Palestina terusir dari wilayahnya sendiri oleh kaum zionis Yahudi yang memerdekakan dirinya tahun 1948. Sebaliknya inilah yang dialami bangsa Palestina, “terusir,” dari tanah airnya sendiri yang populer dengan istilah “Nakba.”

Tujuh puluh tahun waktu itu telah berlalu. Terusirnya warga Palestina dari wilayahnya sejak tahun 1947-1949 sekitar 78 persen penduduk Palestina yang ada waktu itu. Sekitar 530 rumah warga Palestina dihancurkan pasukan Israel. Waktu itu lebih dari 100.000 bangsa Palestina mengungsi ke berbagai negara tetangganya, termasuk ke Libanon, sebuah wilayah perbatasan yang cepat dijangkau.

Zahiya Dgheim, nama perempuan tua yang sekarang berusia 90 tahun itu, meski terlihat sehat dan kini memiliki anak cucu itu, bersama suaminya, memilih Libanon sebagai tempat pengungsian. Ia memilih satu di antara beberapa tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah Lebanon, yaitu di Burj Barajneb, kamp pengungsi yang terletak di sebelah selatan ibukota Lebanon, Beirut.

Jangan membayangkan kamp pengungsian ini tertata rapi. Tidak. Kamp ini sudah berkali-kali hancur diserang pasukan Israel. Dibangun lagi, tetapi tetap tidak mampu mengubah nasib penghuninya, yaitu warga Palestina. Jalannya sempit, terlihat jemuran pakaian di sisi kamp. Tetapi mereka harus bertahan hingga akhir hayat, karena kemerdekaan bangsa Palestina jauh dari harapan.

Pengungsi Palestina itu tidak memiliki apa-apa lagi, selain menunggu ajal tiba. Diteruskan oleh generasi berikutnya, juga tetap berstatus sebagai pengungsi. Apakah di Libanon, mereka terganggu dengan pendidikan dan hiruk pikuk politik yang hanya memikirkan kekuasaan?

Tentu saja. Di tempat pengungsian itu terpasang bendera dari faksi-faksi di Libanon. Mulai dari Fatah, Hamas dan Fron Popular Pembebasan Palestina. Itu bendera pejuang Palestina yang berkibar-kibar di tempat pengungsian. Belum lagi bendera partai-partai yang ingin meraih kekuasaan di Libanon. Apalagi pengungsi Palestina itu menghadapi bahaya virus corona di Libanon.

Dengan sikap yang diambil Israel sekarang ini, pengungsi-pengungsi di berbagai wilayah itu, tidak hanya menderita hingga tiga generasi, tetapi akan mengalami penderitaan berpuluh-puluh generasi, jika keadilan tidak bisa diterapkan di Timur Tengah.

 

Comments are closed.