Friday, February 27, 2026
spot_img
HomeSosokJejak Pengabdian Lulusan Farmasi UNAIR yang Kini Menjaga Wajah BPJS Kesehatan

Jejak Pengabdian Lulusan Farmasi UNAIR yang Kini Menjaga Wajah BPJS Kesehatan

Deputi Direksi Bidang Komunikasi Organisasi BPJS Kesehatan, Mohammad Iqbal Anas Ma’ruf (batik) saat menyapa pasien BPJS Kesehatan di sebuah rumah sakit beberapa waktu lalu. (foto: dokumen pribadi)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengabdian di sektor kesehatan sering kali dimulai dari ruang-ruang sunyi pelayanan. Demikian pula perjalanan Mohammad Iqbal Anas Ma’ruf, lulusan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini dipercaya menjaga wajah komunikasi publik BPJS Kesehatan sebagai Deputi Direksi Bidang Komunikasi Organisasi.

Karier Iqbal dimulai pada 2002, ketika BPJS Kesehatan masih bernama PT Askes (Persero). Penugasan pertamanya berada di Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Di daerah dengan keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis itu, ia belajar memahami arti pelayanan kesehatan secara langsung.

“Penugasan di daerah membentuk cara pandang saya tentang makna pelayanan publik. Kita berhadapan langsung dengan masyarakat yang sangat membutuhkan akses kesehatan,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Dari pengalaman di lini terdepan tersebut, Iqbal menapaki berbagai tanggung jawab di kantor cabang, wilayah, hingga pusat. Setiap fase, menurutnya, membentuk pemahaman yang utuh tentang bagaimana sistem jaminan kesehatan nasional bekerja, dari operasional di lapangan hingga perumusan kebijakan di tingkat strategis.

Kepercayaan memimpin fungsi komunikasi organisasi, katanya, bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah untuk menjaga kredibilitas lembaga di mata publik. “Seluruh pengalaman di cabang, wilayah, dan pusat menjadi bekal untuk memimpin komunikasi secara lebih strategis. Kepercayaan publik dibangun dari konsistensi pesan dan keterbukaan informasi,” katanya.

Dalam perannya saat ini, Iqbal mendorong pendekatan komunikasi terintegrasi agar pesan internal dan eksternal BPJS Kesehatan berjalan selaras. Langkah ini dinilai penting di tengah arus informasi digital yang cepat dan dinamis.

Sejumlah inisiatif pun dikembangkan, antara lain penguatan Duta BPJS Kesehatan sebagai agen komunikasi positif di ruang digital, Duta Muda BPJS Kesehatan yang melibatkan pelajar dalam edukasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta program Micro Ambassador untuk mendorong pegawai menjadi narasumber terpercaya. Optimalisasi media sosial dan program siaran “BPJS On Air” juga menjadi bagian dari strategi komunikasi publik.

Menurut Iqbal, tantangan terbesar di institusi pelayanan publik adalah menjaga kepercayaan masyarakat, terutama ketika kebijakan atau kondisi keuangan program JKN menjadi sorotan luas.

Saat menjabat Kepala Humas dan juru bicara BPJS Kesehatan, ia menghadapi periode ketika isu defisit JKN memicu kritik dan pertanyaan publik. Pada masa itu, transparansi dan konsistensi komunikasi menjadi kunci.

“Tantangan terbesar bukan sekadar mengelola isu, tetapi menjaga keseimbangan antara kebijakan, implementasi, dan harapan publik,” ujarnya.

Pengalaman sebagai Deputi Direksi Wilayah juga memperkaya perspektifnya. Ia harus memastikan mutu layanan tetap terjaga di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan, kondisi geografis yang beragam, serta kesiapan sumber daya manusia.

“Kuncinya tetap integritas, keterbukaan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri,” katanya.

Fondasi Akademik dan Karakter

Iqbal menuturkan, pendidikan di Fakultas Farmasi UNAIR membentuk pola pikir analitis dan berbasis bukti. Selain pembelajaran akademik, keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan turut melatih kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan pengelolaan perbedaan pendapat.

Bekal tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi dinamika kebijakan kesehatan yang menyangkut hajat hidup jutaan peserta JKN.

Kepada mahasiswa, ia berpesan agar tidak ragu memulai dari mana pun. “Jangan takut memulai dari bawah atau dari tempat yang jauh. Setiap fase memiliki maknanya. Jika dijalani dengan komitmen dan kejujuran, perjalanan itu akan membawa kita pada peran yang lebih besar,” ujarnya.

Dari Maumere hingga kantor pusat, jejak pengabdian Iqbal menunjukkan bahwa pelayanan publik dibangun oleh konsistensi, pengalaman, dan kesediaan menjaga kepercayaan. Di tengah dinamika jaminan kesehatan nasional, wajah lembaga bukan hanya soal citra, melainkan cermin dari komitmen melayani.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular