Wednesday, February 4, 2026
spot_img
HomeSosokHanan Attaki di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Sampaikan, Ramadhan Waktu 'Rehat...

Hanan Attaki di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Sampaikan, Ramadhan Waktu ‘Rehat Mental’ & Ajang ‘Caper’ Terbaik kepada Allah

Hanan Attaki ketika mengisi ceramah di depan jamaah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Rabu (04/02/2026) (foto: Istimewa)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pendakwah milenial Ustadz Hanan Attaki menegaskan bahwa Ramadhan merupakan Bulan Rehat Mental setelah fisik mengalami kelelahan selama 11 bulan sebelumnya, sekaligus Ramadhan juga dapat menjadi Bulan Caper (cari perhatian) yang terbaik kepada Allah setelah caper kepada manusia selama 11 bulan sebelumnya.

“Ramadhan itu break setelah setahun ada beban mental, sehingga capek dan pikiran perlu istirahat. Kalau capek fisik bisa diatasi dengan tidur, rileks, atau jalan-jalan, meski tidur di lantai, tapi kalau capek mental itu meski tidur di kasur pun masih bisa mengalami insomania,” katanya dalam Kajian Senja di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Rabu.

Dalam Kajian Senja yang diadakan Bank Indonesia (BI) dan dihadiri belasan ribu peserta yang mayoritas Generasi Z Islami (GenZI) serta Perwakilan Deputi BI Jatim, Rizqi Prihadi Cahyanto, dan Ketua BPP MAS DR KHM Sudjak MAg, Ustadz Hanan Attaki menjelaskan capek secara mental itu lebih berat daripada capek secara fisik, karena itu perlu recovery/pemulihan mental.

“Cara recovery mental adalah Ramadhan. Apa hubungan Ramadhan dengan kesehatan mental ? Tujuan Ramadhan itu belajar menjadi muttaqin (orang yang takwa) dan takwa itu kunci kesehatan mental dan jalan keluar dari setiap masalah,” katanya dalam kajian ‘Road to Ramadhan 1447 H’ itu.

Dalam kajian bertema ‘Menata Hati, Menjaga Diri, dan Bijak Mengelola Rezeki’ itu, Ustadz Hanan Attaki mengatakan takwa menjadi kunci kesehatan mental dan jalan keluar (solusi) dari setiap masalah/problema, karena takwa akan menjadikan seseorang menemukan “cara langit” yang lebih menyelesaikan daripada “cara bumi” yang justru sering menambah masalah baru.

“Ada banyak surat dan ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan terapi kesehatan mental, termasuk Ramadhan. Misalnya, QS Al-Muzammil yang turun saat Nabi sedang bersedih karena di-bully kaum jahilun atau jahiliyah atau toxid yang mengatai-ngatai Nabi sebagai laki-laki mandul, karena setiap anaknya yang laki-laki lahir selalu meninggal dunia saat masih kecil atau baru lahir, sehingga Allah meminta Nabi bersabar terhadap bully verbal dan sikapi dengan cuek. Allah meminta berlapang dada sebagaimana QS Ad-Dhuha,” katanya.

Terapi Al-Qur’an juga ada dalam QS Talaq. “Talak itu cerai tapi dalam surat tentang cerai itu justru ada ayat tentang takwa. Jadi, Al-Qur’an punya surat Talaq tapi tidak punya surat tentang pernikahan. Uniknya, dalam surat Talaq itu ada ayat takwa. Artinya isu rumah tangga itu termasuk isu rumit dan jalan keluarnya adalah takwa, apapun beban/problem,” katanya.

Dalam QS Talaq itu juga disebutkan lima solusi dari takwa yakni makhroja (rasa lapang dada setelah sempit), rezeki dari jalan tak terduga (rizqun min haitsu la yah tasib), kemudahan dalam urusan dunia (semakin caper kepada Allah akan semakin menerima kemudahan/ yusro), diberi maaf dalam setiap kesalahan, dan diberi pahala berlipat ganda karena sungguh-sungguh caper kepada Allah.

“Hakikat takwa itu sendiri adalah menahan atau mencegah dan puasa itu latihan mencegah atau menahan diri dari perbuatan dosa, sehingga nggak boleh makan karena puasa. Itu caper kepada Allah. Kalau caper kepada manusia itu menata tampang, viral, memiliki saldo atau kekayaan, dan sebagainya. Takwa juga berarti perbaiki urusan dengan manusia dengan Allah,” katanya. (*)

Kontributor: Edy

Editor: Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular