Tuesday, March 10, 2026
spot_img
HomePendidikanFatayat NU Jatim: Sikap Qanaah Jadi Penawar Fenomena FOMO di Era Media...

Fatayat NU Jatim: Sikap Qanaah Jadi Penawar Fenomena FOMO di Era Media Sosial

Wakil Ketua II PW Fatayat NU Jawa Timur Nabiela Naily (kiri) saat menjadi pemateri dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan 1447 Hijriah di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Senin (9/3/2026) petang. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Fenomena fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren yang semakin kuat di era media sosial dinilai dapat diatasi dengan menumbuhkan sikap qanaah, yakni menerima dan mensyukuri apa yang dimiliki.

Pandangan itu disampaikan Wakil Ketua II Pengurus Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Jawa Timur Nabiela Naily dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan 1447 Hijriah yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Surabaya, Senin (9/3/2026) petang.

“FOMO sebenarnya bukan fenomena baru. Ia lintas generasi. Bedanya, sekarang dipicu oleh gawai dan media sosial. Dulu, rasa itu juga ada ketika orang melihat keberhasilan orang lain secara langsung,” ujar Nabiela.

Dalam budaya Jawa, menurut dia, kondisi tersebut dikenal dengan istilah sawang sinawang, yakni kecenderungan membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.

Menurut Nabiela, agama menawarkan nilai yang dapat menenangkan batin di tengah tekanan sosial semacam itu, salah satunya melalui sikap qanaah.

“Sering kali isu FOMO dianggap tidak berkaitan dengan agama. Padahal nilai-nilai agama justru mengajarkan ketenangan, salah satunya melalui sikap qanaah dan refleksi diri, terutama di bulan Ramadhan,” katanya.

Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Siti Maulidah mengatakan tema “Lepas FOMO, Raih Ketenangan di Bulan Ramadhan” dipilih karena persoalan tersebut semakin banyak dialami masyarakat, terutama generasi muda.

Menurut dia, tidak semua tren yang berkembang di masyarakat perlu diikuti. Bahkan, dalam perspektif agama, mengikuti arus mayoritas tidak selalu berarti berada di jalan yang benar.

“Tren itu sesuatu yang wajar, tetapi masyarakat sering merasa harus ikut agar dianggap tidak tertinggal. Padahal tidak semua tren membawa kebaikan,” ujarnya.

Karena itu, Fatayat NU mendorong para kader dan pegiatnya untuk lebih menekankan nilai kebermanfaatan dibanding sekadar mengikuti hal yang viral di media sosial. “Kebutuhan manusia tidak ditentukan oleh banyaknya followers, melainkan oleh kesadaran diri. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Maulidah.

Ia mencontohkan program Desa Sahabati yang dijalankan Fatayat NU sebagai upaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui pemberdayaan perempuan, pendidikan kader, dan penguatan ekonomi di tingkat desa.

Sementara itu, Nabiela menilai kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial sering memicu perilaku flexing atau pamer pencapaian. “Jika seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan, ia bisa rugi dua kali yaitu kehilangan ketenangan hidup di dunia sekaligus berkurang rasa syukurnya,” katanya.

Karena itu, bulan Ramadhan dipandang sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki niat, dan menata kembali orientasi hidup. “Ramadhan bukan sekadar tujuan, melainkan kesempatan untuk melakukan evaluasi diri dan menata langkah ke depan dengan kembali pada nilai-nilai agama,” ujar Nabiela.

Ia menambahkan, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) seperti tasamuh (toleransi), tawassuth (moderasi), dan tawazun (keseimbangan) dapat menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang dan bermakna.

“Ketika seseorang berpegang pada nilai-nilai itu, hidup akan terasa lebih seimbang karena ada semangat saling membantu dan kepedulian terhadap sesama,” katanya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular