Wednesday, June 19, 2024
spot_img
HomeEkonomikaEWI: Regulasi Pajak dan Inefisiensi Jadi Faktor BBM Mahal

EWI: Regulasi Pajak dan Inefisiensi Jadi Faktor BBM Mahal

 

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean.

JAKARTA – Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean menyatakan bahwa pernyataan Direktur Utama (Pertamina) tentang harga BBM yang mahal karena kita tidak membangun kilang minyak, tidaklah sepenuhnya benar menjadi faktor utama penyebab tingginya harga BBM pada saat ini.

“Memang kapasitas kilang minyak yang kita miliki belum mampu untuk mencukupi kebutuhan nasional.yang berkisar 1,6 Juta BPD sementara kilang minyak kita berkisar 800 ribuan BPD. Pertamina juga tidak pernah membuka ke publik berapa harga BBM perliter hasil produk kilang kita dan berapa harga perliter BBM hasil impor. Hal ini bisa kita jadikan indikator apakah memang produk kita lebih mahal atau lebih murah,” ujar Ferdinand kepada tim cakrawarta.com di Jakarta, Jumat (4/11) malam.

Menurut Ferdinand tujuan utama mengapa Indonesia harus membangun kilang baru adalah kedaulatan energi, kemandirian dan ketahanan energi. Sementara untuk penentuan harga lebih kepada efisiensi biaya produksi dan regulasi perpajakan serta iuran-iuran yang harus dibayar.

“Salah satu penyebab tingginya harga BBM kita adalah pengenaan PPN 10% dan PBBKB 5% serta iuran kepada BPH Migas dan ongkos distribusi. Maka itu, dalam hal ini kita sangat mendesak pemerintah untuk mengevaluasi ulang PBBKB 5% dan Iuran BPH Migas yang entah untuk apa iuran itu harus ada,” tegas Ferdinand.

Dirinya menambahkan, jika pemerintah menghapus PBBKB 5% dan iuran BPH Migas, maka akan berdampak pada penurunan harga jual BBM. “Di poin inilah penyebab utama tingginya harga BBM yang dibeli oleh masyarakat,” imbuhnya.

Faktor yang masuk akal dan berdampak pada mahalnya harga BBM berdasarkan kajian EWI justru besarnya ongkos distribusi sehingga untuk faktor diatasi dengan membangun Kilang Minyak dengan skala sedang dan kecil yang menyebar di seluruh wilayah NKRI untuk memutus dan memotong ongkos distribusi.

“Jadi solusinya untuk menurunkan harga BBM adalah penghapusan PBBKB, penghapusan iuran BPH Migas, dan membangun kilang minyak skala menengah dan kecil yang menyebar untuk memotong ongkos distribusi. Maka itu kami mendorong Pertamina untuk lebih fokus pada hal tersebut, supaya masyarakat bisa menikmati BBM dengan harga yang lebih rendah sambil mendorong substitusi energi,” pungkasnya.

(fh/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular