
“… pencarian sains tentang jiwa, dunia, dan Tuhan adalah disiplin spiritual yang menyatukan kosmos dan jiwa.” — William C. Chittick (83), Science of the Cosmos, Science of the Soul (2007)
Tiap bulan Ramadan, dengan siklus puasa dan ibadahnya, dapat dipandang sebagai praktik kosmologis yang menghubungkan manusia dengan keteraturan kosmos dan harmoni jiwa.
Dengan mengacu pada kosmologi spiritual Islam, ikut membuka ruang refleksi yang dalam tentang bagaimana manusia beriman memahami dirinya, alam semesta, dan Tuhan.
Langkah awal dan kecil untuk itu, diambil dari Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim kontemporer yang lahir pada 1933 dan masih aktif hingga kini, menekankan bahwa ilmu pengetahuan dalam Islam tidak pernah netral, melainkan selalu berakar pada wahyu dan filsafat.
Dalam An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines yang terbit pada 1963, ia menunjukkan bagaimana pemikir klasik seperti Ikhwan al-Safa, al-Biruni, dan Ibn Sina memahami kosmos sebagai ciptaan penuh makna spiritual.
Bagi Nasr, krisis manusia modern muncul karena ilmu pengetahuan telah dipisahkan dari akar religiusnya, sehingga ia menawarkan gagasan tentang “sacred science” sebagai jalan untuk mengembalikan dimensi transenden dalam sains.
Dikutip Nasr, “… kosmos dalam pandangan Islam adalah ciptaan yang penuh keteraturan, harmoni, dan makna spiritual, sebuah realitas yang hanya dapat dipahami bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip Qur’ani dan tradisi intelektual Islam.”
Berikut, William C. Chittick, lahir pada 1943 dan masih aktif sebagai profesor di Stony Brook University, melanjutkan tradisi ini dengan perspektif yang lebih kritis terhadap dunia akademis modern.
Dalam Science of the Cosmos, Science of the Soul yang terbit pada 2007, ia menekankan bahwa kosmologi Islam klasik tidak hanya menjelaskan struktur alam semesta, tetapi juga berfungsi sebagai jalan untuk memahami jiwa manusia.
Ia mengkritik para akademisi yang terjebak pada detail teknis teks tanpa menangkap makna spiritualnya, dan mengajak pembaca kembali pada cara pandang tradisional yang melihat ilmu sebagai disiplin spiritual.
Chittick menyoroti bahwa kosmologi Islam mengajarkan harmoni antara alam dan jiwa, menolak reduksionisme modern, dan menegaskan perlunya menghidupkan kembali ilmu sakral sebagai alternatif terhadap sains sekuler.
Pandangan Nasr dan Chittick menemukan resonansi dalam karya Mircea Eliade, sejarawan agama kelahiran 1907 yang wafat pada 1986.
Dalam Le Mythe de l’Éternel Retour yang terbit pada 1949, dan edisi Inggrisnya berjudul The Myth of the Eternal Return: Cosmos and History (1954), Eliade menguraikan gagasan bahwa mitos dan ritual bukan sekadar simbol, melainkan partisipasi nyata dalam peristiwa kosmik.
Ia menekankan bahwa manusia tradisional hidup dalam siklus kosmik, bukan waktu linear, dan bahwa setiap ritual adalah sarana untuk kembali ke awal mula dan mengalami kehadiran transenden.
Dengan demikian, Eliade menegaskan bahwa sejarah dapat dipahami sebagai theophany, manifestasi Ilahi yang menyingkap makna sakral di balik peristiwa.
Selain itu, Eliade melihat bahwa manusia tradisional senantiasa mencari jalan keluar dari waktu profan menuju waktu sakral.
Dengan mengulang mitos penciptaan melalui ritual, manusia tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi benar-benar “menghadirkan kembali” momen kosmik yang abadi.
Ungkap Eliade, “Mitos dan ritual tidak hanya mencatat atau meniru hierofani, tetapi sebenarnya berpartisipasi di dalamnya.”
Sementara, dalam pandangan ini, sejarah bukan sekadar kronologi, melainkan theophany atau manifestasi Ilahi yang menyingkap makna sakral di balik peristiwa.
Hal ini menunjukkan bahwa ritus bukanlah simbol kosong, melainkan jalan untuk kembali ke peristiwa kosmik yang abadi.
Kata Eliade, “Baik objek-objek dunia eksternal maupun tindakan manusia, pada kenyataannya, tidak memiliki nilai intrinsik otonom. Mereka memperoleh realitas hanya sejauh partisipasi mereka dalam realitas transenden.”
Lebih lanjut, Eliade menekankan bahwa segala sesuatu memperoleh makna hanya ketika terhubung dengan realitas transenden, yakni kosmos sakral.
Ia melihat bahwa manusia tradisional senantiasa mencari jalan keluar dari waktu profan menuju waktu sakral.
Dengan mengulang mitos penciptaan melalui ritual, manusia tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi benar-benar “menghadirkan kembali” momen kosmik yang abadi. Sejarah, dalam pandangan ini, bukan sekadar kronologi, melainkan theophany, manifestasi Ilahi yang menyingkap makna sakral di balik peristiwa.
Ketiga pemikir ini, meski berasal dari latar belakang berbeda, sama-sama menolak pandangan reduksionis modern yang memisahkan ilmu dari spiritualitas.
Mereka menekankan bahwa kosmologi Islam dan tradisi religius lain mengajarkan keterhubungan mendalam antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ramadan sebagai siklus spiritual dapat dipahami dalam kerangka ini: ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan partisipasi dalam keteraturan kosmos, regenerasi waktu, dan pengalaman sakral yang menghubungkan jiwa dengan sumber Ilahi.
Refleksi kritis atas gagasan mereka mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, bila dipisahkan dari akar kosmologis dan religiusnya, kehilangan makna terdalamnya.
Sebaliknya, dengan mengintegrasikan kosmos dan jiwa, manusia dapat menemukan kembali harmoni yang hilang dalam dunia modern.
#coversongs: “Cosmic Awakening” karya Saymon Cleiton bersama Celestial Voices dirilis pada 14 Agustus 2025, dan versi lain yang melibatkan Melodia Simples serta Spiritual Gate keluar pada 28 Desember 2025. Lagu ini bernuansa spiritual, menggunakan frekuensi penyembuhan (444Hz, 528Hz) dan vokal ambient untuk menghadirkan pengalaman kontemplatif yang disebut sebagai ‘kebangkitan kosmik’ atau pencerahan batin.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



