Sunday, February 25, 2024
HomeGagasanEntrepreneur, Jangan Bangga Disebut Business Owner!

Entrepreneur, Jangan Bangga Disebut Business Owner!

ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Banyak entrepreneur (pengusaha) yang bangga menyebut diri sebagai business owner (pemilik usaha).  Menjadi owner (pemilik) dari bisnis yang dirintis dan ditekuninya. Banyak juga yang bangga saat disebut sebagai owner oleh orang lain. Fotonya dipajang besar-besar dimana-mana. Ditampilkan dalam publikasi seminar atau sejenisnya sebagai owner.  Apa salahnya menjadi owner? Mengapa tidak boleh dilakukan?

Menyebut diri atau disebut sebagai owner menunjukkan bahwa bisnis yang anda tekuni masih bersifat perorangan alias belum korporat.  Sebagai contoh, warung sate di sebuah kampung yang dimiliki oleh si anu. Maka, si anu disebut sebagai pemilik alias owner warung sate tersebut. Dan tentunya warung sate tersebut masih menjadi satu dengan si Anu. Sama sekali tidak terpisah.

Jika demikian, apa salahnya dengan bisnis perorangan? Tentu saja tidak ada yang salah. Hanya saja jika nanti ternyata bisnis perorangan dibabat oleh pesaingnya yang korporat yang jangan marah.  Seperti dibabatnya toko kelontong perorangan oleh toko kelontong korporat seperti Indomaret dan Alfamart.

Sebenarnya, tidaklah masalah jika bisnis perorangan sebagai langkah awal. Yang masalah adalah apabila bisnis perorangan menjadi mindset atau visi. Mempertahankan selama-lamanya bisnis perorangan. Stagnan. Jika orang se-Indonesia mindset dan visi bisnisnya perorangan, maka sektor-sektor ekonomi yang memproduksi barang dan jasa kebutuhan orang banyak akan dikuasai asing. Mengapa? Karena nyaris semua sektor ekonomi utama tidak mungkin dilakukan oleh perorangan.   Jangan harapkan ada merek mobil nasional, sekedar sebagai contoh,  selama mindset alias cara pandang dan akitivitas pebisnis kita masih perorangan. Butuh aset sekitar Rp 2.240 Triliun untuk menjadi perusahaan prinsipal mobil seperti Hyundai. Tidak mungkin perorangan memiliki aset sebesar itu.

Oleh karena itu, dalam perusahaan atau korporasi, Pereroan Terbatas adalah format badan hukum yang mendominasi dunia bisnis global. Di berbagai negara sebutanya berbeda-beda. Di Malaysia disebut Sendirian Berhad (Sdn Bhd), di Inggris disebut Ltd,  GmbH di Jerman, Pte Ltd di Singapura dan sebagainya. Maka, gunakan sebutan yang sesuai dengan format PT.

Sebuah badan hukum PT dilahirkan oleh para pendiri atau founder. Merekalah yang memiliki inisiatif untuk kehadiran sebuah PT di dunia bisnis. PT dikelola oleh direktur atau direksi (bila direkturnya lebih dari satu orang dan salah satunya disebut sebagai direktur utama). Dalam menjalankan tugasnya direktur atau direksi diawasi oleh komisaris atau dewan komisaris jika komisarisnya lebih dari satu orang. Dewan komisaris dipimpin oleh seorang komisaris utama. Pada sistem hukum PT satu kamar seperti di United State of America (USA) atau Amerika Serikat, direksi dan komisaaris dilebur jadi satu dan disebut sebagai board of director (BOD). BOD terdiri dari direktur dengan tugas eksekutif (executive director) dan direktur tanpa tugas eksekutif (non executive director). Para direktur eksekutif dipimpin oleh seorang chief executive officer (CEO). BOD dipimpin oleh seorang presiden. Gunakan istilah-istilah itu dalam kosa kata keseharian bisnis Anda. Direktur, direktur utama (agar keren disebut CEO hehehe…. Hanya beda bahasa), pendiri (founder) atau pemegang saham. Dalam konteks bisnis yang berperan paling stratejik adalah CEO. Pendiri hanya bersifat historis.  Maka jika Anda merangkap beberapa posisi, pilih direktur-direktur atau direktur utama atau CEO sebagai sebutan. Saya beri contoh misalnya Larry Page, pendiri Google. Dia tidak disebut sebagai owner Google

Mungkin di antara anda akan ada yang berdalih, “lho, faktanya usaha saya kan masih perorangan?”  Okey… Fakta boleh perorangan. Tetapi mindset dan visi tidak boleh perorangan. Menggunakan sebutan-sebutan PT  akan membangun visi dan mindset yang positif.  Visi dan mindet adalah modal awal lahirnya sebuah perusahaan besar yang menguasai pasar berbagai bangsa melalui proses korporatisasi berkelanjutan. Korporatisasi adalah proses tranformasi bisnis dari personal (perorangan) menjadi korporat untuk pertumbuhan perusahaan yang akahirnya melampaui sekat-sekat negara.

Sampai disini tentu kita mulai memahani bagaimana kita menganggap dan menjalankan bisnis kita kan? Sudah siapkah anda disebut sebagai direktur atau direktur utama atau CEO?

Mari kita mulai langkah stratejik untuk menumbuhkan perusahaan kita melampaui sekat-sekat negara. Mengibarkan tinggi-tinggi sang Merah Putih di berbagai negara. Memompakan kesejahteraan untuk masyarakat negeri ini dari berbagai negara. Menguatkan Rupiah dengan kiriman kekuatan dari berbagai mata uang dunia dimana perusahaan kita beroperasi. Pasti bisa!

 

IMAN SUPRIYONO

Direktur Eksekutif SNF Consulting

RELATED ARTICLES

Most Popular