Monday, January 12, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaSejarah Indonesia di Layar Genggaman

Sejarah Indonesia di Layar Genggaman

Di era media sosial, sejarah Indonesia tidak lagi hanya hidup di buku pelajaran atau ruang kelas. Ia kini hadir di layar ponsel yaitu dalam bentuk utas Twitter, video TikTok berdurasi satu hingga tiga menit, infografik Instagram, hingga meme yang dibagikan berulang kali. Cara kita memahami masa lalu pun ikut berubah. Sejarah tidak hanya diceritakan ulang, tetapi juga dikemas, dipilih, bahkan diperdebatkan dalam logika algoritma. Fenomena ini menarik dilihat dari kacamata sosiologi, karena menyangkut relasi antara pengetahuan, kekuasaan, dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat digital.

Selama Orde Baru, sejarah Indonesia didominasi oleh narasi resmi negara. Buku teks sekolah menjadi alat utama pembentukan ingatan kolektif, dengan penekanan pada versi tunggal tentang peristiwa-peristiwa penting seperti G30S 1965, perjuangan kemerdekaan, atau peran tokoh-tokoh tertentu.

Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs menyebut bahwa ingatan manusia tidak pernah sepenuhnya individual. Ingatan selalu dibentuk dalam kerangka sosial (social frameworks of memory). Apa yang kita ingat tentang masa lalu sangat dipengaruhi oleh kelompok, institusi, dan konteks sosial tempat kita berada.

Transisi Narasi Sejarah

Dalam konteks Indonesia, selama puluhan tahun, negara menjadi aktor utama dalam membingkai ingatan kolektif. Narasi sejarah resmi disalurkan melalui kurikulum pendidikan, buku pelajaran, film negara, dan peringatan nasional. Versi tertentu dari peristiwa sejarah seperti siapa pahlawan, siapa pengkhianat, hingga apa yang layak diingat dan dilupakan, dikukuhkan sebagai kebenaran dominan.

Media sosial mengubah lanskap ini secara mendasar. Kini, siapa pun dapat menjadi “pencerita sejarah”. Akun-akun anonim maupun kreator populer membagikan versi alternatif, cerita lokal, atau sudut pandang yang sebelumnya terpinggirkan. Dari kisah korban 1965, sejarah Papua, hingga peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, media sosial membuka ruang bagi narasi yang lebih beragam. Dengan kata lain, media sosial menyediakan “kerangka sosial” baru bagi ingatan sejarah Indonesia yang lebih cair, plural, dan sering kali saling bertabrakan. Secara sosiologis, ini menunjukkan pergeseran otoritas pengetahuan dari institusi formal menuju arena publik digital. Sejarah pun menjadi arena kontestasi, bukan lagi cerita final.

Namun, keterbukaan ini tidak datang tanpa konsekuensi, dan media sosial bukan ruang yang netral. Algoritma mendorong konten yang singkat, emosional, dan mudah viral. Akibatnya, sejarah sering kali disederhanakan sebagai peristiwa kompleks yang dipadatkan menjadi hitam-putih, pahlawan-lawan, benar-salah. Misalnya, satu utas viral dapat membangun persepsi kolektif tentang tokoh sejarah hanya dari satu sisi, tanpa konteks sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupinya. Dalam bahasa sosiologi, ini merupakan bentuk framing yaitu cara tertentu membingkai realitas agar mudah dikonsumsi dan dibagikan. Penyederhanaan ini tidak selalu keliru, tetapi berisiko ketika ia dianggap sebagai kebenaran tunggal. Sejarah yang seharusnya mengajak berpikir kritis justru berubah menjadi konsumsi cepat.

Michel Foucault mengingatkan bahwa pengetahuan selalu berkaitan dengan relasi kuasa. Di TikTok, kuasa tidak lagi semata dipegang negara atau akademisi, melainkan juga algoritma. Konten sejarah yang muncul di linimasa bukan selalu yang paling akurat, tetapi yang paling mampu menarik perhatian.

Akibatnya, sejarah kerap dipadatkan secara ekstrem. Peristiwa kompleks disederhanakan menjadi narasi hitam-putih. Tokoh sejarah ditampilkan sebagai pahlawan tanpa cela atau, sebaliknya, sebagai penjahat mutlak. Konteks sosial, politik, dan ekonomi sering kali terpangkas demi durasi singkat. Logika viral mendorong kecepatan, bukan kedalaman.

Mengapa konten sejarah bisa begitu viral? Jawabannya terletak pada fungsi sosial sejarah itu sendiri. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan juga sumber identitas kolektif. Ia menyentuh rasa bangga, marah, trauma, dan nostalgia. Di media sosial, emosi adalah mata uang utama. Konten sejarah yang membangkitkan kemarahan terhadap ketidakadilan masa lalu, atau kebanggaan terhadap kejayaan Nusantara, dengan mudah mendapat respons. Komentar, debat, dan perang argumen pun terjadi.

Dari sudut pandang sosiologi, hal ini menunjukkan bahwa sejarah di media sosial berfungsi sebagai alat negosiasi identitas: siapa “kita”, siapa “mereka”, dan nilai apa yang ingin kita pertahankan hari ini. Tidak bisa dipungkiri, di satu sisi banyak kreator sejarah di media sosial yang bekerja secara serius: melakukan riset, mencantumkan sumber, dan berusaha mendidik publik dengan cara yang menarik. Mereka mengisi kekosongan literasi sejarah yang tidak selalu terpenuhi oleh pendidikan formal.

Namun, di sisi lain ada pula yang mengejar sensasi. Judul provokatif, klaim berlebihan, atau teori konspirasi kerap digunakan demi klik dan perhatian. Di sinilah tantangan besar muncul yaitu bagaimana kita membedakan edukasi sejarah dengan hiburan semata? Masyarakat digital dituntut memiliki literasi media dan literasi sejarah sekaligus seperti kemampuan untuk bertanya, memeriksa sumber, dan menyadari bahwa sejarah selalu memiliki banyak lapisan.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Mengemas sejarah Indonesia di media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mendemokratisasi pengetahuan, membuka ruang dialog, dan membuat sejarah terasa dekat dengan generasi muda. Di sisi lain, ia berisiko mereduksi kompleksitas dan memproduksi miskonsepsi massal. Tantangannya bukan menghentikan sejarah di media sosial, melainkan mengarahkannya. Akademisi, guru, dan institusi budaya perlu hadir di ruang digital, bukan sebagai penggurui, tetapi sebagai fasilitator diskusi. Sementara itu, pengguna media sosial perlu menyadari bahwa viral tidak selalu berarti valid.

Sejarah Indonesia di era media sosial adalah cermin masyarakat kita hari ini yang dinamis, berisik, penuh perdebatan, tetapi juga kaya kemungkinan. Pertanyaannya, apakah kita ingin sejarah hanya menjadi hiburan singkat, atau tetap menjadi sarana belajar kolektif? Masa lalu tidak lagi diam di arsip karena ia hidup, diperdebatkan, dan terus dimaknai ulang di layar genggaman kita. Jawabannya sangat ditentukan oleh cara kita mengonsumsinya yakni di ujung jempol kita sendiri.(*)

DHAHANA ADI PUNGKAS

Akademisi, Pemerhati Sejarah dan Budaya Populer

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular