Dipanggil ke Istana, Inovator Muda Bahas Hilirisasi Alat Medis Cerdas untuk Daerah Terpencil

Eka Maulana (belakang, kanan) saat diterima Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (2/9/2026). (foto: Ragil)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Tiga tim inovator muda mendapat kesempatan mempresentasikan inovasi peralatan medis berbasis smart intelligence device kepada Wakil Presiden di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Rabu (2/9/2026). Pertemuan tersebut membahas kesiapan hilirisasi teknologi kesehatan agar dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses layanan medis, terutama di daerah terpencil dan kawasan rawan bencana.

Dosen pembimbing ketiga tim inovator, Eka Maulana, mengatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan kesiapan teknologi yang dikembangkan agar tidak berhenti sebagai inovasi di lingkungan akademik, tetapi dapat diterapkan langsung untuk kebutuhan masyarakat.

“Kami diundang Wapres untuk mempresentasikan kesiapan implementasi perangkat cerdas medis ini, khususnya untuk mendukung program cek kesehatan gratis di wilayah terpencil serta mempercepat penanganan darurat saat terjadi bencana,” ujar Eka dalam keterangannya pada media ini, Kamis (3/9/2026).

Eka yang sehari-hari merupakan dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) memiliki rekam jejak dalam pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT), elektronika, dan desain industri. Ia tercatat telah memiliki lebih dari 30 hak kekayaan intelektual (HKI) atas berbagai inovasi di bidang tersebut.

Menurut Eka, pengalaman pengembangan teknologi tersebut menjadi modal untuk mendorong pemanfaatan perangkat medis cerdas dalam menjawab persoalan layanan kesehatan di lapangan, khususnya wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan.

Pertemuan dengan Wakil Presiden juga dinilai menjadi bagian dari upaya pemerintah membuka ruang bagi inovator muda agar hasil riset dan teknologi karya anak bangsa dapat masuk ke tahap implementasi.

Bagi daerah terpencil dan kawasan yang memiliki risiko bencana tinggi, teknologi kesehatan yang mudah diterapkan dan dapat mendukung pengambilan keputusan secara cepat dinilai memiliki arti penting. Perangkat berbasis teknologi cerdas diharapkan dapat membantu proses pemeriksaan maupun penanganan awal sebelum pasien memperoleh layanan lebih lanjut.

Eka mengatakan hilirisasi menjadi tahapan penting agar inovasi yang dikembangkan di kampus memiliki manfaat yang lebih luas.

“Inovasi jangan hanya berhenti di laboratorium. Harapannya, teknologi yang dikembangkan bisa menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan memberi manfaat bagi mereka yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan,” katanya.

Selain mendampingi tiga tim inovator muda tersebut, Eka juga terlibat dalam Yayasan Maslahat Umat yang diarahkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pemberdayaan masyarakat.

Menurut dia, pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat pengguna. Kolaborasi tersebut diperlukan agar inovasi tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat berkelanjutan.

“Ini menjadi salah satu jalan yang semoga dimudahkan Allah untuk ikut membangun Indonesia Emas,” ujar Eka.

Pertemuan di Istana tersebut sekaligus memperlihatkan semakin pentingnya peran inovator muda dalam mendukung agenda penguatan teknologi nasional. Hilirisasi menjadi jembatan agar hasil riset dan inovasi dapat bergerak dari ruang akademik menuju pemanfaatan langsung bagi masyarakat.(*)

Kontributor: Ragil

Editor: Abdel Rafi