
“Zopire: Qui? moi, baisser les yeux devant ses faux prodiges! Moi, de ce fanatique encenser les prestiges! L’honorer dans la Mecque après l’avoir banni! Non.“
“Zopire: Aku? Menundukkan mata pada mukjizat palsunya! Aku, memuja pesona fanatik ini! Menghormatinya di Mekah setelah mengusirnya! Tidak.” — Voltaire (1694–1778), dalam drama Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète (1736), pentas 1741.
Membaca artikel Denny JA tentang Idul Adha 1447 H. di Prancis, dengan refleksi bersama masyarakat Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto, saya tergelitik untuk menimbang kembali pertanyaan yang ia ajukan yaitu bisakah seseorang tetap Muslim, tetapi juga sepenuhnya Prancis?
Pertanyaan ini bukan sekadar aktual, melainkan telah menjadi denyut panjang sejarah intelektual Prancis sejak Voltaire menulis drama Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète pada abad ke-18.
Voltaire tidak bermaksud menghina Islam, melainkan menyerang fanatisme agama secara umum.
Namun, sejak itu Islam selalu hadir dalam diskursus kebebasan berekspresi dan identitas di Prancis.
Untuk menilik dalam kritik sekaligus krisis identitas kontemporer agama, dua pemikir Perancis mutakhir bisa dikemukakan berikut.
Gilles Kepel(71) dalam La revanche de Dieu(1991) yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi The Revenge of God: The Resurgence of Islam, Christianity and Judaism in the Modern World (1994), menunjukkan bahwa kebangkitan agama-agama besar, termasuk Islam, di Eropa bukanlah fenomena pinggiran.
Ia menekankan bahwa istilah seperti integrisme atau fundamentalisme seringkali diimpor dari tradisi Kristen dan Protestan, sehingga justru mengaburkan realitas Muslim di Prancis.
Kepel melihat gerakan seperti Tablighi sebagai upaya membangun solidaritas komunitas di tengah fragmentasi sosial.
Baginya, kebangkitan Islam di Prancis adalah respons terhadap anomie modernitas sekuler.
Ia menulis, “Le détour par l’expérience de ce qui nous est culturellement le plus lointain a la vertu de faire surgir du sens là où régnaient l’inertie de la pensée et l’illusion du déjà vu.“
(Jalan memutar dari pengalaman yang kita miliki ini adalah budaya yang akan terus berlanjut hingga kita merasa tidak bisa menerima kelembaman pikiran dan ilusi déjà vu).
Ungkapan ini menegaskan bahwa pengalaman Muslim membuka perspektif baru tentang religiusitas dalam masyarakat sekuler, sebuah jalan memutar yang justru melahirkan makna.
Di lain hal, kemunculan gerakan Tabligh di Prancis.
Tablighi Jamaat telah hadir di Prancis sejak tahun 1970-an, terutama di kalangan imigran dari Asia Selatan dan Maghreb.
Kepel mencatat bahwa mereka menekankan praktik keagamaan individu (doa, dakwah dari rumah ke rumah) sebagai cara untuk membangun komunitas yang kuat.
Bagi banyak Muslim muda, ini telah menjadi sarana untuk menemukan kembali makna spiritual di tengah isolasi sosial.
Juga, debat masalah hijab meledak pada awal tahun 1990-an, ketika beberapa siswi Muslim menolak untuk melepas jilbab mereka di sekolah umum.
Dengan demikian, Kepel pun menekankan bahwa kontroversi ini bukan hanya tentang pakaian, tetapi lebih merupakan simbol bentrokan antara laïcité (sekularisme Prancis) dan ekspresi identitas Muslim.
Hijab sendiri menjadi tanda keanggotaan dalam komunitas transnasional dan tantangan terhadap norma-norma sekuler universal.
Laïcité sebagai kerangka identitas,
Laïcité yang merupakan prinsip pemisahan agama dan negara, adalah fondasi Republik Prancis.
Namun, Kepel menunjukkan bahwa bagi sebagian Muslim, laïcité terasa seperti mekanisme eksklusif yang menolak ekspresi keagamaan di depan umum.
Ketegangan ini berarti bahwa identitas Muslim di Prancis sering didefinisikan sebagai lawan dari negara sekuler dan menjadikan agama sebagai simbol solidaritas sekaligus perlawanan.
Lain pula, Roger Garaudy (1913-2012), filsuf pejuang perlawanan, dan tokoh komunis sebelum akhirnya masuk Islam pada 1982, menulis Biographie du XXe siècle: le testament philosophique de Roger Garaudy (1985).
Setahun kemudian, pada 1986, penerbit Bulan Bintang menerjemahkan buku ini menjadi Mencari Agama pada Abad XX: Wasiat Filsafat Roger Garaudy oleh M. Rasyidi, Menteri Agama Pertama di era Presiden Soekarno.
Ringkasnya, lewat buku warisan filsafatnya, Garaudy menyoroti krisis spiritual modern akibat dominasi materialisme.
Ia menulis, “Le musulman en France est sommé de choisir entre l’assimilation qui nie son être et l’isolement qui nie sa citoyenneté.“
(Seorang Muslim di Prancis dituntut memilih antara asimilasi yang meniadakan keberadaannya dan pengasingan yang meniadakan kewarganegaraannya).
Dilema ini masih relevan, apakah menjadi warga penuh berarti kehilangan akar spiritual, atau mempertahankan iman berarti terpinggirkan dari masyarakat luas?
Garaudy mengajak pembaca untuk mencari agama bukan sebagai dogma kaku, melainkan sebagai jalan dialog universal antar tradisi.
Dengan kata lain, esai reflektif Denny JA tentang Idul Adha di Prancis, bersama komunitas Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto, memperlihatkan bahwa dilema identitas Muslim Prancis bukan sekadar teori.
Ia hadir nyata dalam ruang publik, dalam perayaan, dalam politik, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Baik Kepel maupun Garaudy, sekedar bertolak dari perspektif mereka, sama-sama menegaskan bahwa jalan keluar bukanlah sekadar memilih antara iman atau kewarganegaraan, melainkan menemukan sintesis baru.
Setidaknya, menurut keduanya, sebuah identitas ganda yang tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkaya.
Dengan demikian, pertanyaan “Bisakah tetap Muslim, tapi juga sepenuhnya Prancis?” tidak dijawab dengan ya atau tidak.
Ia dijawab dengan proses panjang pencarian makna, dengan keberanian untuk menolak reduksi identitas, dan dengan kesediaan membuka ruang dialog.
Dengan demikian, Idul Adha di Prancis, sebagaimana dicatat Denny JA, menjadi simbol bahwa iman dan kebangsaan bisa bertemu dalam perayaan bersama, meski dilema itu tetap menghantui.
#coversongs: “Oui, Oui, Oui, Oui” oleh Sacha Distel Quintet pertama kali dirilis tahun 1959 di Prancis, ditulis oleh Hubert Giraud dan Pierre Cour. Lagu ini bermakna romantis dan penuh imajinasi: sebuah ajakan berlayar bersama kekasih, meninggalkan rutinitas, dan menemukan kebebasan serta cinta di dunia yang luas.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








