
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, dinamika internal organisasi kian menghangat. Bahkan, muncul dugaan bahwa arah kepemimpinan sudah mulai “terbaca” sebelum forum resmi digelar. Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Shahlawiy atau Gus Lilur, menyebut pertarungan sejatinya telah berlangsung jauh hari, melalui konfigurasi “pasangan calon” yang tidak kasat mata.
Dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026), Gus Lilur menilai istilah “paslon” penting untuk membaca realitas politik organisasi NU saat ini. Meski tidak dikenal dalam struktur formal, istilah tersebut mencerminkan hubungan erat antara posisi Rais Aam dan Ketua Umum.
“Secara formal Rais Aam dipilih melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Tapi dalam praktiknya, komposisi AHWA itu sendiri bisa dipengaruhi sejak awal,” ujarnya.
Ia menegaskan, pertarungan dalam Muktamar bukan hanya terjadi saat pemungutan suara, melainkan sejak proses penentuan siapa yang berhak memilih.
Sorotan mengarah pada dinamika terbaru yang melibatkan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Menurut informasi yang berkembang, terdapat upaya untuk tidak memasukkan dua kiai yaitu KH Nurul Huda Jazuli dan KH Kafabihi Makhrus, ke dalam komposisi AHWA.
Gus Lilur menilai, dinamika tersebut tidak bisa dilepaskan dari preferensi politik terhadap kandidat Rais Aam. Kedua kiai tersebut disebut memiliki kecenderungan mendukung KH Said Aqil Siradj, sementara terdapat dorongan agar KH Miftachul Akhyar tetap bertahan.
“Ini menunjukkan bahwa arah pilihan bisa dibentuk bahkan sebelum proses pemilihan dimulai,” kata pria yang juga merupakan pengusaha rokok itu.
Peta ‘Paslon’ dan Koalisi
Gus Lilur memetakan sejumlah poros yang saat ini berkembang. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf disebut masih berupaya mengamankan posisi sekaligus mencari pasangan Rais Aam yang tepat.
Di sisi lain, Saifullah Yusuf cenderung mempertahankan perannya sebagai Sekjen dengan mendukung KH Miftachul Akhyar. Sementara itu, poros yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa dikaitkan dengan skenario KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
Selain itu, jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama Republik Indonesia mulai diperhitungkan dengan munculnya nama Nazaruddin Umar sebagai calon Ketua Umum.
Gus Lilur juga menyinggung kemungkinan terbentuknya koalisi besar yang melibatkan berbagai jaringan tersebut, termasuk figur-figur seperti Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid.
“Kalau konfigurasi ini benar-benar terjadi, bukan tidak mungkin hasil Muktamar sudah ‘terbaca’ bahkan sebelum dimulai,” ujarnya.
Faktor Penentu di Luar Kalkulasi
Meski demikian, Gus Lilur mengingatkan bahwa tradisi NU tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Peran kiai pesantren tetap menjadi faktor penentu yang kerap berada di luar skenario politik formal.
Ia menyebut, KH Yahya Cholil Staquf saat ini memiliki modal awal dukungan sekitar 40%. Namun, angka tersebut masih sangat dinamis.
Komunikasi dengan KH Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam juga disebut masih berlangsung. Jika tidak tercapai kesepakatan, alternatif lain seperti KH Asep Saifuddin Halim atau KH Ma’ruf Amin berpotensi muncul.
“Dalam NU, kepemimpinan selalu merupakan hasil konfigurasi. Tidak pernah berdiri sendiri,” kata Gus Lilur.
Analisis Gus Lilur menunjukkan bahwa Muktamar NU ke-35 bukan sekadar forum pemilihan formal, melainkan arena pertemuan kepentingan dan strategi yang telah disusun jauh sebelumnya.
Apakah pemenang benar-benar sudah “disiapkan”, atau justru akan ditentukan oleh dinamika terakhir para kiai? Jawabannya akan terungkap di panggung Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026 mendatang.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








