Friday, March 20, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomBelajar Lagi Dari Iran

Belajar Lagi Dari Iran

(foto: diunggah dari kanal Youtube The ENTIRE History of Iran: From Persian Empire to Islamic Theocracy @empiresrevisited dan @ShortHistoryCo Iran in 60 Seconds: From Empire to Revolution|l)

“Seorang ulama muda yang diberkahi dengan semangat pantang menyerah melawan rezim diktator dengan khotbah dan pidatonya, serta dengan kemampuan organisasinya. Ia tidak pernah kehilangan harapan meskipun dipenjara dan diasingkan, dan akhirnya muncul sebagai pemenang melawan segala rintangan.” — Seyyed Ali Khamenei(1939-2026), Cell No.14 (2021)

Sejak revolusi Islam Iran 1979 yang menandai berakhirnya dominasi Amerika di tanah Persia, Iran tidak pernah surut dari perseteruan internasional.

Bahkan sejak itu, perang paling menentukan adalah Perang Iran-Irak (1980-1988), yang berlangsung delapan tahun dan menewaskan ratusan ribu orang.

Konflik ini menjadi ujian pertama bagi Republik Islam yang baru berdiri, sekaligus memperkuat identitas nasional Iran dalam menghadapi agresi eksternal.

Selain itu, Iran juga terlibat dalam berbagai konflik regional tidak langsung melalui perang proksi, terutama di Lebanon, Suriah, dan Yaman.

Meski bukan perang konvensional di tanah Iran, keterlibatan ini menempatkan Iran dalam pusaran geopolitik Timur Tengah, berhadapan dengan kekuatan Barat dan sekutunya.

Tekanan berulang dari embargo ekonomi, isolasi diplomatik, serta ancaman militer menjadikan Iran seolah hidup dalam keadaan perang permanen, meski bentuknya sering berupa perang dingin atau konflik asimetris.

Dengan demikian, sebelum perang 2026 yang menewaskan Ali Khamenei, Iran secara langsung hanya sekali mengalami perang besar di tanahnya, yakni Perang Iran-Irak.

Namun, sepanjang empat dekade setelah Revolusi Islam, Iran terus berada dalam lingkaran konflik regional dan global, menjadikan pengalaman perang sebagai bagian integral dari identitas politik dan simbol perlawanan bangsa.

Belajar dari Iran berarti menelisik bagaimana sebuah bangsa mampu bertahan dalam pusaran sejarah panjang, tekanan geopolitik, dan krisis identitas modern.

Rocky Gerung dalam sebuah diskusi daring di INews mengaitkan pengalaman Iran dengan kritik Günther Anders dalam Die Antiquiertheit des Menschen (The Obsolescence of Man 1950) tentang “Promethean Shame,” yakni rasa malu manusia ketika ciptaannya sendiri yaitu teknologi, melampaui kapasitas moral dan imajinasi penciptanya.

Metafora ini membuka jalan untuk membaca Iran sebagai bangsa yang terus bernegosiasi dengan warisan sejarah dan tantangan modernitas.

Dengan merujuk Abbas Amanat (78) dalam Iran: A Modern History (2017) yang menegaskan bahwa sejarah Iran adalah “a continuous negotiation between its ancient heritage and the demands of modern statehood.”

Dari Safawi hingga Gerakan Hijau, Iran selalu berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas, antara akar klasik Persia dan dinamika politik kontemporer.

Amanat menunjukkan bahwa mitos, simbol, dan memori kolektif dari peradaban Persia kuno tetap hidup.

Turut membentuk identitas politik Iran modern dan menjadikan Iran bukan sekadar negara, melainkan peradaban yang terus beradaptasi.

Ia juga menandaskan, “Identitas nasional sebagai sebuah konstruksi mengorbankan banyak ekspresi keberagaman yang bersifat periferal untuk melegitimasi otoritas negara dan menanamkan nilai-nilai kebanggaan dan patriotisme pada warganya.”

Dengan kata lain, negara modern Iran membangun legitimasi dengan mengakar pada simbol-simbol klasik, sekaligus menekan keragaman demi kesatuan nasional.

Dalam bagian tentang Republik Islam, Amanat mengulas fenomena brain drain dan ketegangan sosial.

Ia mencatat bahwa “Republik Islam tetap sama sekali acuh tak acuh terhadap eksodus besar-besaran kaum intelektual ini… hasil sampingan dari revolusi demografis Iran bagi rezim lebih merupakan potensi beban daripada tenaga kerja berharga yang diperlukan untuk membangun masa depan Iran.”

Kutipan Amanat menunjukkan bagaimana rezim lebih mementingkan loyalitas politik daripada potensi intelektual, sehingga banyak kaum terdidik memilih meninggalkan Iran.

Secara keseluruhan, Iran: A Modern History menggambarkan Iran sebagai bangsa yang terus bernegosiasi antara warisan klasik dan tuntutan modernitas.

Dan hingga kini, Iran tetap menjadi negara dengan identitas unik, penuh paradoks, dan berpengaruh dalam geopolitik global

Berikut, Lloyd Llewellyn-Jones dalam Persians: The Age of The Great Kings (2022) dengan menambahkan dimensi simbolik dari warisan Achaemenid.

Ia menulis bahwa “the Persians created an empire of memory, a legacy of kingship and culture that continues to shape Iran’s sense of itself.”

Warisan Cyrus dan Darius bukan sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi simbolik yang membuat Iran tetap tegak menghadapi tekanan geopolitik modern.

Identitas Iran tidak hanya dibangun dari politik kontemporer, tetapi juga dari legitimasi historis yang memberi daya tahan kolektif.

Jika ditilik dari perspektif Anders, krisis teknologi yang melanda geopolitik bagi Iran dianggap sebagai krisis spiritual dan moral.

“Promethean Shame” adalah simbol dari ketidakmampuan manusia mengantisipasi dampak ciptaan yang lebih unggul daripada penciptanya.

Lagi-lagi Iran, dalam konteks geopolitik, menghadapi situasi serupa: berhadapan dengan kekuatan super power yang menciptakan sistem global, namun tetap bertahan dengan memori sejarah dan identitas kolektifnya.

Seperti manusia yang harus mengembangkan imajinasi etis agar tidak tertinggal dari ciptaan, Iran harus mengembangkan imajinasi politik dan moral agar tidak kehilangan kendali atas nasibnya sendiri.

Belajar dari Iran berarti menyadari bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa bukan hanya pada senjata atau teknologi, melainkan pada kemampuan menjaga kesinambungan antara warisan klasik dan tuntutan modernitas.

Iran menunjukkan bahwa peradaban yang berakar kuat mampu bertahan dalam badai geopolitik, dan bahwa krisis identitas dapat diatasi dengan kesadaran eksistensial yang meneguhkan kembali makna sejarah.

Selain itu, belajar dari perspektif figur kontemporer Iran seperti Seyyed Ali Khamenei, ikut membuka ruang refleksi tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kekuatan simbolik di tengah tekanan geopolitik yang besar dan masif.

Menurut Cell No.14, otobiografi yang ia tulis dan terbit pada 2021, bukan sekadar catatan pribadi tentang masa muda, penahanan, dan pengasingan sebelum Revolusi Islam 1979, melainkan sebuah teks simbolik yang menegaskan daya tahan Iran menghadapi hegemoni Barat.

Khamenei gunakan ungkapan berikut, “A young cleric blessed with an indomitable spirit fights a dictatorial regime with his sermons and speeches as well as with his organisational abilities. He never loses hope despite being sent to prison and exile, and finally emerged victorious against all odds” sebagai metafora bagi bangsa Iran yang menjadikan penderitaan sebagai sumber legitimasi moral dan politik.

Khamenei menampilkan pengalaman pribadinya sebagai cermin kolektif bahwa kekuatan Iran tidak semata terletak pada militer atau ekonomi, melainkan pada semangat religius dan identitas yang berakar dalam tradisi Persia dan tentu pengaruh warisan Islam yang memperteguh.

Dalam konteks ini, bagi Iran, penderitaan bukanlah kelemahan, melainkan fondasi yang memperkuat daya tahan bangsa.

Sama seperti refleksi Günther Anders tentang Promethean Shame, di mana manusia merasa inferior terhadap ciptaannya, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak boleh merasa inferior terhadap hegemoni Barat.

Justru tekanan dan penindasan memperkuat legitimasi moral Iran, menjadikannya bangsa yang mampu bertahan dengan memori kolektif perjuangan dan keyakinan eksistensial.

Dengan mengajak untuk menyimak Cell No.14, bukan semata hanya kisah seorang pemimpin, melainkan narasi besar tentang bagaimana identitas nasional Iran dibentuk melalui pengalaman penderitaan dan perlawanan.

Kisah ini menegaskan bahwa kekuatan Iran menghadapi embargo dan tekanan global terletak pada simbol perlawanan, memori sejarah, dan semangat pantang menyerah.

Dengan demikian, figur Khamenei dan teks otobiografinya menjadi bagian dari kajian sejarah yang memperlihatkan bahwa bangsa Iran tetap teguh menghadapi hegemoni global.

Dan bukan karena didukung kekuatan material semata, tetapi karena keberanian menjaga akar tradisi dan keyakinan yang tak mudah dipatahkan.

Dalam refleksi ini, Iran menjadi cermin bagi dunia: bahwa di balik konflik dan tekanan, ada pelajaran tentang daya tahan, negosiasi identitas, dan keberanian menghadapi zaman dengan akar yang tak tergoyahkan.

#coversong: “Ancient Persian March — Epic Music” oleh Empire Anthem dirilis pada 5 November 2025 sebagai bagian dari album Legacy of the Great King. Karya ini memadukan instrumen tradisional Persia dengan orkestrasi sinematik, menghadirkan nuansa kebesaran Kekaisaran Achaemenid dan makna simbolik tentang kekuatan serta legitimasi budaya Iran.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular