
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kurangnya waktu tidur menjadi salah satu faktor yang kerap luput diperhatikan dalam meningkatnya kasus obesitas pada remaja. Padahal, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, hingga tekanan darah tinggi.
Menanggapi hal tersebut, pakar kesehatan dr. Nur Aisiyah Widjaja, mengatakan bahwa kebiasaan tidur larut malam berperan dalam mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan metabolisme tubuh.
“Perlu pengaturan jam tidur yang tepat, idealnya maksimal pukul 21.00. Hormon melatonin yang mengatur siklus tidur mulai meningkat sejak sekitar pukul 20.00. Jika tidur terlalu larut, regulasi hormon tersebut terganggu dan dapat memicu peningkatan nafsu makan,” ujar dr. Aisiyah, Senin (5/1/2026).
Menurut dia, kurang tidur dapat menyebabkan perubahan hormon yang membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, khususnya pada malam hari. Kondisi ini kerap mendorong remaja untuk mengonsumsi camilan atau makanan berat menjelang tidur.
Kebiasaan Makan Malam Hari
dr. Aisiyah menambahkan, kebiasaan begadang pada remaja sering kali disertai dengan konsumsi makanan instan dan gorengan. Mi instan menjadi salah satu pilihan yang paling umum, terkadang ditambah telur sebagai pelengkap.

“Konsumsi mi instan pada malam hari tidak dianjurkan karena kandungan kalorinya cukup tinggi. Jika ditambah telur, asupan lemak dan protein juga meningkat. Sementara pada malam hari tubuh relatif tidak aktif bergerak, sehingga risiko penumpukan kalori dan obesitas menjadi lebih besar,” kata dia.
Selain berdampak pada berat badan, kurang tidur juga berkaitan dengan tingkat stres. Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang dapat mengganggu pelepasan melatonin, sehingga kualitas dan durasi tidur semakin menurun.
Karena itu, dr. Aisiyah mengingatkan pentingnya menjaga pola tidur dan mengelola stres sejak usia remaja. Ia menyarankan agar remaja membiasakan tidur lebih awal, mengatur waktu makan terakhir sekitar pukul 19.00, serta menghindari kebiasaan begadang untuk menyelesaikan tugas.
“Durasi dan kualitas tidur perlu diperhatikan karena berperan dalam mencegah obesitas yang dapat berujung pada sindrom metabolik, seperti diabetes dan penyakit jantung,” ujar wanita yang juga merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu.(*)
Kontributor: Khefti PKIP
Editor: Abdel Rafi



