
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi. Perubahan itu juga menjadi tantangan baru bagi gerakan dakwah.
Di tengah perubahan tersebut, Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (PP BKMT) Dailami Firdaus mendorong keluarga besar BKMT tidak mengambil jarak dari teknologi. Sebaliknya, teknologi, termasuk AI, harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk memperluas dakwah tanpa mengorbankan iman, ilmu, akhlak, dan jati diri.
Pesan itu disampaikan Dailami dalam sambutannya pada Muktamar ke-10 BKMT sekaligus peringatan Milad ke-45 BKMT, Kamis (24/9/2026).
Menurut Dailami, 45 tahun perjalanan BKMT menunjukkan bahwa organisasi tersebut telah melewati berbagai perubahan zaman, pergantian generasi, serta dinamika sosial di tengah masyarakat. Namun, di tengah perubahan itu, ada nilai yang menurutnya tidak boleh ikut berubah.
“Empat puluh lima tahun tentu bukan perjalanan yang pendek. BKMT telah melewati berbagai zaman. Kita telah mengalami pergantian generasi, menyaksikan perubahan sosial, dan menghadapi tantangan umat yang terus berubah,” kata Dailami.
Ia menyebut semangat berdakwah, mencerdaskan umat, memperkuat keluarga, serta menjaga persatuan dan ukhuwah harus tetap menjadi fondasi BKMT.
Dailami juga mengingatkan keluarga besar BKMT untuk tidak melupakan perjuangan pendirinya, almarhumah Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS. Menurut dia, Tutty telah meletakkan fondasi penting bagi BKMT sebagai gerakan dakwah sekaligus pendidikan umat.
Karena itu, dakwah BKMT ke depan, kata Dailami, harus tetap berpegang pada prinsip agama, tetapi disampaikan dengan pendekatan yang sejuk, santun, dan merangkul.
“Teguh dalam prinsip agama, tetapi santun dalam menyampaikannya. Kita boleh berbeda pandangan, kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan memutus ukhuwah,” ujarnya.
Dakwah Tak Lagi Hanya di Masjid
Dailami menilai pesan Tutty Alawiyah mengenai pentingnya memperkuat iman dan takwa (IMTAK) sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) justru semakin relevan di tengah revolusi digital dan perkembangan AI.
Ruang dakwah, menurutnya, telah berubah. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di masjid atau majelis taklim, tetapi juga hadir di YouTube, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.
Perubahan itu semakin besar dengan hadirnya AI yang memungkinkan seseorang membuat teks, suara, gambar, hingga video secara cepat.
Kondisi tersebut, kata Dailami, seharusnya tidak membuat BKMT takut atau menjauh dari teknologi.
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Karena itu saya ingin menawarkan satu pegangan sederhana bagi BKMT ke depan, yaitu iman, ilmu, amal, dan teknologi,” tuturnya.
Ia menjelaskan, iman harus menjadi fondasi, ilmu menjadi penerang, amal menjadi pembuktian, sedangkan teknologi menjadi sarana untuk memperluas manfaat.
Dengan kerangka tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti nilai dan manusia, melainkan sebagai instrumen untuk memperbesar jangkauan dakwah dan pemberdayaan umat.
Namun, Dailami mengingatkan bahwa teknologi digital juga membawa persoalan serius. Salah satunya adalah semakin kaburnya batas antara informasi yang benar dan informasi yang telah dimanipulasi.
Masyarakat kini dapat membuat berita palsu, foto palsu, suara yang menyerupai orang lain, hingga video manipulatif dengan teknologi yang semakin mudah digunakan.
Situasi itu membuat kemampuan memverifikasi informasi menjadi semakin penting, terutama bagi organisasi yang memiliki basis massa besar seperti BKMT.
Karena itu, Dailami mendorong keluarga besar BKMT membangun budaya verifikasi sebelum menyebarkan informasi.
“Saya ingin menitipkan satu kalimat sederhana kepada seluruh keluarga besar BKMT: tabayun sebelum tayang. Sebelum kita share sesuatu, periksa dulu. Sebelum kita meneruskan berita, pastikan dulu. Sebelum kita memberikan komentar, pikirkan dulu,” tegasnya.
Menurut Dailami, perubahan pola komunikasi membuat dampak sebuah unggahan tidak lagi berhenti pada orang yang menjadi sasaran langsung.
Sebuah tulisan, komentar, foto, atau video dapat menyebar kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam waktu singkat. Karena itu, tanggung jawab dalam berkomunikasi di ruang digital menjadi semakin besar.
BKMT Harus Masuk ke Ruang Anak Muda
Tantangan berikutnya adalah bagaimana organisasi dakwah tetap relevan bagi generasi muda.
Dailami menilai BKMT tidak cukup hanya menunggu generasi muda datang ke ruang-ruang dakwah konvensional. Organisasi juga harus hadir di ruang digital tempat anak-anak muda menghabiskan waktu dan membangun interaksi sosial.
“Kalau anak-anak dan cucu kita berada di Instagram, kita harus hadir di sana. Kalau mereka berada di YouTube, kita harus hadir di sana. Kalau generasi muda berada di TikTok, maka nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin juga harus hadir di sana,” ujarnya.
Namun, kehadiran tersebut tidak berarti BKMT harus mengikuti seluruh logika media sosial.
Dailami justru menekankan pentingnya mempertahankan karakter dakwah yang santun dan edukatif. Dakwah, kata dia, tidak boleh dibangun melalui kemarahan, saling menghujat, atau mempertajam perbedaan.
Sebaliknya, dakwah harus bertumpu pada ilmu, keteladanan, kelembutan, dan akhlakul karimah.
“Teguh dalam prinsip, santun dalam berdakwah, cerdas membaca zaman. Inilah dakwah BKMT,” katanya.
Dailami berharap Muktamar ke-10 BKMT yang berlangsung hingga hari ini, Jumat (25/9/2026) itu, tidak berhenti pada agenda pergantian atau pemilihan kepengurusan.
Menurut dia, muktamar harus menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: bagaimana BKMT menghadapi perubahan masyarakat dan teknologi yang berlangsung semakin cepat.
Ia mendorong forum tersebut membahas strategi mempersiapkan generasi penerus, membuat majelis taklim semakin menarik bagi anak muda, meningkatkan literasi digital para ustazah dan kader, serta memanfaatkan AI untuk mendukung dakwah, pendidikan, ekonomi umat, dan pemberdayaan perempuan.
“Bagaimana kemajuan teknologi tidak membuat kita kehilangan iman, akhlak, dan jati diri. Itulah pekerjaan besar kita,” ungkapnya.
Bagi Dailami, perubahan zaman tidak mungkin dihentikan. Yang dapat dilakukan adalah memastikan perubahan tersebut tetap diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya empat hal yang menurutnya harus berjalan beriringan: iman, ilmu, amal, dan teknologi.
“Teknologi harus tetap menjadi sarana, bukan menjadi tuan bagi kehidupan kita,” tandasnya.
Memasuki usia ke-45 tahun, Dailami berharap BKMT mampu meneruskan warisan para pendiri sekaligus memasuki babak baru dengan semangat yang lebih kuat.
Senator DPD RI dari Dapil DKI Jakarta itu berharap BKMT semakin relevan dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Tidak hanya sebagai organisasi dakwah, BKMT diharapkan terus berkembang sebagai wadah pendidikan, pemberdayaan perempuan, penguatan keluarga, serta pembinaan generasi muda.
“Selamat bermuktamar. Selamat 45 tahun BKMT. Semoga BKMT semakin maju, semakin besar manfaatnya, dan senantiasa istiqamah dalam memberikan pengabdian terbaik bagi agama, umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.(*)
Kontributor: Ervan P
Editor: Abdel Rafi








