4 Doktor Bicara Blak-blakan soal NU Lamongan, Apa yang Harus Dibenahi?

Empat doktor kandidat Ketua Tanfidziyah MWC NU Lamongan berfoto bersama dengan gesture kekompakan seusai tapping forum diskusi yang dipandu Dr. W. Eka Wahyudi, melalui kanal Youtube MWC NU Lamongan, di kompleks Kampus Universitas Islam Lamongan, Selasa (22/9/2026). 

LAMONGAN, CAKRAWARTA.com – Empat kandidat Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Lamongan mulai membuka gagasan mereka menjelang Konferensi MWCNU Lamongan yang dijadwalkan berlangsung 18 Oktober 2026 mendatang.

Keempat kandidat tersebut tampil dalam forum diskusi bertajuk “Siapa Siap Memimpin NU Kecamatan Lamongan? 4 Kandidat Bicara Blak-blakan” pada Selasa (22/9/2026). Forum tersebut menjadi salah satu momentum untuk menguji gagasan para kandidat sebelum konferensi digelar.

Mereka adalah Dr. M. Chusnul Chitam, Dr. Muhamad Nurman, Dr. Ahmad Hanif, dan Dr. Abdul Ghofur.

Dipandu Dr. W. Eka Wahyudi, forum membahas visi, gagasan, serta persoalan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah MWCNU Lamongan. Pembahasan tidak hanya berkisar pada pergantian kepemimpinan, tetapi juga menyentuh arah organisasi untuk lima tahun mendatang.

Salah satu isu yang mengemuka adalah penguatan organisasi hingga tingkat ranting.

Kandidat petahana, Dr. Muhamad Nurman, menjelaskan bahwa MWCNU Lamongan dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan dari sisi struktur dan kegiatan organisasi. Menurut dia, sejumlah lembaga dan badan otonom telah terbentuk, sementara 22 ranting mulai menunjukkan aktivitas organisasi.

Namun, Nurman mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diperkuat, terutama kaderisasi di tingkat bawah.

Ia mencontohkan masih sulitnya membentuk kepengurusan IPNU-IPPNU di sejumlah ranting. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu ditangani secara serius.

“Memang kelemahan-kelemahan itu yang menjadi PR besar empat orang ini,” kata Nurman dalam forum yang ditayangkan di kanal Youtube MWC NU Lamongan, Rabu (23/9/2026) pagi.

Sementara itu, Dr. M. Chusnul Chitam menawarkan tiga fokus yang disebutnya sebagai jalan NU ke depan, yakni berorganisasi, berkhidmah, dan berdaya.

Menurut Chusnul, aspek berorganisasi perlu diperkuat melalui penataan administrasi dan digitalisasi. Ia menilai tata kelola organisasi yang sudah berjalan masih perlu diperbarui agar lebih tertib dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Adapun aspek berdaya diarahkan pada penguatan kemandirian ekonomi organisasi.

Ia menilai keberdayaan ekonomi di tingkat ranting belum merata. Karena itu, salah satu gagasan yang ditawarkan adalah mendorong setiap ranting memiliki usaha atau produk yang dapat menopang kemandirian organisasi.

“Bagaimana MWCNU ke depan mempunyai kemandirian di bidang ekonomi karena ini penting sekali,” ujarnya.

Persoalan pendidikan juga menjadi sorotan kandidat Dr. Abdul Ghofur. Menurutnya, terdapat ketimpangan antarlembaga pendidikan di lingkungan NU. Sebagian lembaga pendidikan memiliki jumlah peserta didik yang tinggi, sementara lembaga lainnya justru kesulitan mendapatkan murid.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena lembaga pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan kader dan keberlanjutan organisasi.

Ghofur juga menilai ranting perlu memiliki peran lebih besar dalam menopang keberadaan lembaga pendidikan di wilayah masing-masing.

“Penguatan ranting ini nanti akan kita desain bagaimana ranting ini menjadi rumah asuh bagi lembaga pendidikan, bagi masjid, bagi musala,” katanya.

Menurut dia, persoalan lembaga pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada pengurus MWCNU. Ranting juga perlu terlibat dalam menjaga dan mengembangkan lembaga yang berada di wilayahnya.

Sementara Dr. Ahmad Hanif menempatkan kaderisasi sebagai salah satu agenda penting dalam kepemimpinan MWCNU ke depan.

Hanif mengatakan kekuatan organisasi yang telah terbentuk tidak boleh berhenti pada satu periode kepengurusan. Karena itu, diperlukan kaderisasi yang berkelanjutan agar regenerasi organisasi tetap berjalan.

Ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang lebih luas kepada generasi muda, termasuk Generasi Z. Menurut Hanif, anak muda NU memiliki kemampuan di bidang media sosial dan teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi dan dakwah organisasi.

Ia mengusulkan agar anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga diberi kepercayaan untuk mengelola ruang-ruang baru yang sesuai dengan kemampuan mereka. “Kita kasih ruang mereka melalui media,” katanya.

Gagasan mengenai keterlibatan generasi muda kemudian juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan organisasi. Para kandidat melihat perkembangan teknologi dan perubahan perilaku generasi muda sebagai tantangan yang harus direspons MWCNU.

Selain kaderisasi, persoalan aset NU turut menjadi perhatian.

Hanif menilai aset organisasi, termasuk aset wakaf, perlu didata dan dikelola secara lebih sistematis. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah digitalisasi data aset sehingga keberadaan dan pengelolaannya dapat dipantau.

Ia juga mengusulkan penguatan pengelola aset di tingkat wilayah agar aset yang telah diwakafkan untuk kepentingan NU tidak berhenti pada status administratif, tetapi dapat dimanfaatkan secara produktif.

“Untuk aset itu memang kita tidak bisa berdiri sendiri. Salah satunya bahwa aset-aset itu harus didigitalisasi,” ujarnya.

Sementara Chusnul menilai persoalan ekonomi merupakan salah satu pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Menurut dia, penguatan ekonomi tidak cukup dilakukan di tingkat MWCNU, tetapi harus menjangkau ranting.

Ia mengusulkan agar potensi ekonomi yang telah dimiliki sejumlah ranting dapat dipetakan dan dikembangkan sehingga dapat menjadi model bagi ranting lainnya.

Dalam forum tersebut, Nurman juga memberikan tanggapan terhadap sejumlah kritik dan gagasan yang disampaikan para kandidat.

Ia mengatakan sebagian gagasan yang muncul sebenarnya telah dijalankan dalam bentuk program organisasi, tetapi masih membutuhkan penguatan, terutama dalam aspek pemasaran, pendampingan, dan keberlanjutan.

Ia mencontohkan sejumlah produk yang telah dikembangkan badan otonom NU. Menurutnya, persoalannya bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun pasar dan meningkatkan kecintaan warga NU terhadap produk yang dihasilkan organisasi.

Di sisi lain, Nurman mengakui pengelolaan sejumlah lembaga pendidikan dan aset NU masih membutuhkan perhatian.

Ia menyebut terdapat aset dan lembaga pendidikan yang belum berkembang secara optimal. Persoalan tersebut, menurut dia, membutuhkan koordinasi antara pengurus NU di berbagai tingkatan dan lembaga terkait.

Memasuki bagian akhir forum, keempat kandidat kemudian menyebut prioritas masing-masing apabila mendapatkan amanah memimpin MWCNU Lamongan.

Ghofur menempatkan penguatan ranting sebagai prioritas. Ia berpandangan ranting merupakan ujung organisasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lembaga-lembaga di tingkat bawah.

Chusnul memilih kaderisasi sebagai agenda utama. Menurutnya, pendidikan, penguatan ranting, maupun pemberdayaan ekonomi tidak akan berjalan tanpa kader yang mampu menggerakkan program.

Hanif memilih tata kelola organisasi sebagai prioritas. Ia menilai struktur yang telah terbentuk perlu diperkuat melalui sistem administrasi, digitalisasi, dan pengelolaan organisasi yang lebih tertib.

Sementara Nurman menyatakan akan melakukan pembenahan tata kelola sekaligus melanjutkan program yang sudah berjalan apabila kembali mendapatkan amanah. Ia menekankan pentingnya rencana strategis lima tahun, penempatan sumber daya manusia berdasarkan kompetensi, pengelolaan aset, serta penguatan ekonomi organisasi.

Meski memiliki penekanan berbeda, forum tersebut memperlihatkan sejumlah titik temu di antara para kandidat. Kaderisasi, penguatan ranting, tata kelola, pendidikan, aset, dan kemandirian ekonomi menjadi isu yang berulang kali muncul dalam pembahasan.

Yang menarik, forum tersebut tidak hanya memperlihatkan persaingan gagasan. Keempat kandidat juga tampil berdampingan dan saling menanggapi tanpa menghilangkan hubungan organisatoris di antara mereka.

Konferensi MWCNU Lamongan sendiri dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026 dan akan menjadi forum untuk menentukan kepemimpinan dan arah organisasi tersebut.(*)

Kontributor: Abdel Rafi

Editor: Umar Faruq