Empat Doktor Masuk Bursa Ketua MWC NU Lamongan, Tantangan Kepemimpinan di Kota Jadi Sorotan

Empat doktor dengan latar belakang berbeda sebagai kandidat Ketua Tanfidziyah MWC NU Kota Lamongan periode 2026-2031 yang diperkenalkan ke publik.

LAMONGAN, CAKRAWARTA.com – Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Lamongan tahun ini menyajikan pemandangan yang tidak biasa. Di tingkat organisasi kecamatan, empat nama yang muncul dalam bursa calon Ketua MWC NU Lamongan seluruhnya menyandang gelar doktor, dengan latar belakang yang beragam, mulai birokrasi, pengusaha, praktisi hingga pegiat pendidikan.

Fenomena tersebut tidak hanya menarik karena latar belakang akademik para kandidat. Lebih jauh, kemunculan empat doktor itu membuka pertanyaan mengenai perubahan kebutuhan kepemimpinan NU di tingkat kecamatan, khususnya di wilayah perkotaan dengan dinamika sosial, ekonomi dan keagamaan yang semakin beragam.

Konferensi MWC NU Lamongan dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026 atau 7 Jumadil Awal 1448 H mendatang. Empat nama yang diperkenalkan dalam publikasi pra konferensi tersebut yakni Dr. Chusnul Chitam dari kalangan birokrat, Dr. M. Nurman sebagai pengusaha, Dr. Ahmad Hanif dari kalangan praktisi, serta Dr. Abdul Ghofur, pegiat pendidikan.

Menariknya, kontestasi di tingkat MWC tersebut tidak diposisikan semata sebagai agenda pergantian kepemimpinan lima tahunan.

Ketua MWC NU Lamongan periode 2021-2026, Dr. M. Nurman, melihat MWC NU di kawasan perkotaan memiliki daya tarik tersendiri dalam konteks kepemimpinan dan kaderisasi NU.

Menurutnya, karakter masyarakat di wilayah kota relatif beragam. Selain masyarakat agamis, terdapat kalangan pengusaha, birokrat dan berbagai kelompok masyarakat yang berinteraksi dalam ruang sosial yang sama.

“MWC NU kota menjadi magnet tersendiri dalam kepemimpinan dan kaderisasi di NU,” kata Nurman saat dihubungi tim media ini, Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan, posisi Lamongan sebagai pusat pemerintahan kabupaten, pusat perbelanjaan sekaligus pusat interaksi masyarakat membuat kebutuhan terhadap komunikasi sosial dan tata kelola organisasi menjadi semakin penting.

Karena itu, menurut Nurman yang juga masuk dalam daftar kandidat Ketua MWC NU Kota Lamongan itu, kepemimpinan MWC NU di wilayah kota membutuhkan sosok yang mampu mengelola organisasi secara profesional, memahami tata kelola kelembagaan, namun tetap berpegang pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

“Dibutuhkan pemimpin yang profesional, mengerti tata kelola organisasi dan tentunya tidak meninggalkan ruh nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ujarnya.

Bukan Sekadar Gelar Doktor

Dengan demikian, kemunculan empat kandidat bergelar doktor tidak semata-mata dibaca sebagai pertarungan latar belakang akademik. Keragaman profesi mereka justru memperlihatkan kebutuhan terhadap kapasitas yang beragam dalam mengelola organisasi keagamaan di tengah masyarakat perkotaan.

Dr. Nurman, Ketua MWC NU Lamongan 2021-2026. (foto: dokumen pribadi)

Nurman menilai kolaborasi berbagai kalangan dapat membuat kepemimpinan NU di tingkat kecamatan lebih mampu merespons persoalan dan menjalankan program organisasi.

Menurut dia, tokoh-tokoh NU dari berbagai latar belakang memiliki kapasitas, kompetensi dan jaringan sosial yang dapat dilibatkan untuk menyelesaikan program serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

“Kolaborasi kepemimpinan pengurus NU di kecamatan kota menjadi lebih profesional dan lebih cepat mengatasi masalah jika tokoh-tokoh NU dari berbagai kalangan digandeng,” katanya.

Pandangan tersebut menemukan konteksnya dalam pengalaman MWC NU Lamongan selama periode kepengurusan sebelumnya.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Ketua Panitia Konferensi MWC NU Lamongan 2026, Dr. Abdul Ghofur, yang juga salah satu kandidat Ketua, mengatakan posisi MWC NU Lamongan relatif memiliki daya tarik karena eksistensinya tidak tertutup oleh pamor PCNU.

Sebaliknya, ia menyebut MWC NU Lamongan mampu membangun akar organisasi hingga tingkat ranting dan anak ranting sehingga perannya dirasakan langsung oleh jamaah.

“MWC NU Lamongan mampu mengakar kuat sehingga perannya sangat dirasakan oleh jamaah yang berada di ranting maupun anak ranting,” kata Ghofur.

Menurutnya, daya tarik tersebut tidak terlepas dari program yang dijalankan secara konkret. Di antaranya program kemandirian ekonomi, pembagian sembako, pengobatan gratis yang dilakukan secara rutin dengan berkeliling ke ranting-ranting, serta konsolidasi jam’iyyah melalui lailatul ijtima setiap bulan.

“Programnya nyata, tidak hanya tertulis atau ucapan di pidato saja,” ujarnya.

Ghofur juga melihat karakter wilayah perkotaan membawa tantangan tersendiri bagi MWC NU Lamongan.

Di satu sisi, kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar. Di sisi lain, dinamika masyarakat juga menghadirkan persoalan budaya, tradisi dan perubahan demografis.

Salah satunya, menurut Ghofur, adalah berkembangnya kawasan perumahan baru dengan latar belakang masyarakat dan gerakan keagamaan yang beragam. Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan kemampuan organisasi untuk membaca perubahan sekaligus menjaga keberlanjutan nilai ke-NU-an.

“MWC NU Lamongan berada di wilayah perkotaan dengan basis massa dan tantangan yang beragam, mulai dari potensi ekonomi, gesekan budaya dan tradisi,” katanya.

Karena itu, ia menilai dibutuhkan sosok pemimpin yang tidak berhenti pada kemampuan konseptual, tetapi mampu menerjemahkan kapasitas tersebut menjadi aksi nyata di tengah jamaah.

Dalam konteks itulah, empat kandidat bergelar doktor dengan latar belakang berbeda menjadi menarik untuk diperhatikan. Bukan semata karena gelar akademiknya, melainkan karena masing-masing membawa kemungkinan perspektif, pengalaman dan jaringan yang berbeda ke dalam organisasi.

Konferensi sebagai Ujian Gagasan

Panitia sendiri tampaknya tidak ingin konferensi hanya menjadi forum formal untuk memilih ketua baru. Ghofur mengatakan konferensi tersebut hendak diarahkan sebagai momentum untuk memetakan sekaligus memperkenalkan peta jalan organisasi lima tahun mendatang, dengan melibatkan kader-kader terbaik.

Dr. Abd. Ghofur, Ketua Panitia Konferensi MWC NU Kota Lamongan 2026. (foto: dokumen pribadi)

Untuk menguji gagasan para kandidat, panitia juga telah menyiapkan forum debat kandidat sebagai salah satu rangkaian pra konferensi.

Forum tersebut akan dihadiri pengurus ranting NU, badan otonom (banom) dan lembaga di lingkungan MWC NU Lamongan.

Agenda debat ini membuat kontestasi kepemimpinan MWC NU Lamongan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang akan menduduki kursi Ketua Tanfidziyah untuk periode 2026-2031 mendatang. Lebih jauh, publik internal NU akan memperoleh ruang untuk melihat bagaimana para kandidat membaca persoalan organisasi dan merumuskan arah gerak MWC NU dalam lima tahun ke depan.

Pada titik ini, empat doktor tersebut menjadi bagian dari cerita yang lebih besar yakni bagaimana organisasi NU di tingkat kecamatan merespons perubahan masyarakat perkotaan yang semakin kompleks.

Gelar doktor tentu bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan. Namun, munculnya empat kandidat dengan latar belakang birokrat, pengusaha, praktisi dan pegiat pendidikan setidaknya menunjukkan adanya keragaman sumber daya manusia yang tersedia untuk mengisi kepemimpinan organisasi di tingkat akar rumput.

Dan konferensi MWC NU Lamongan pada 18 Oktober 2026 mendatang akan menjadi momentum untuk melihat bagaimana keragaman kapasitas tersebut diterjemahkan menjadi gagasan, program dan peta jalan organisasi lima tahun ke depan.

Bagi Ghofur, harapannya sederhana bahwa konferensi tidak hanya berjalan sukses secara organisatoris, tetapi juga memberi dampak bagi jam’iyyah dan jamaah.

“Mohon doanya semoga konferensi MWC NU Lamongan sukses dan mampu berdampak terhadap jam’iyyah dan jama’ah,” pungkasnya.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi