Ketua IKSA: Kiai Miftah-Gus Kikin, Paket Ideal Awali Abad Kedua NU!

Ketua IKSA, H. Abd Wachid Zen saat silaturahim ke kediaman Rais Aam PBNU, KH MIftachul Akhyar. (foto: Cak Edy)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pasangan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KHA Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dinilai menjadi pasangan ideal untuk mengawali perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua.

Penilaian itu disampaikan Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA), yang merupakan dzurriyah H Hasan Gipo, Ketua Umum PBNU pertama, H Abd Wachid Zen, di Surabaya, Senin (14/9/2026).

Menurut Zen, kepemimpinan Kiai Miftah dan Gus Kikin diharapkan dapat menghidupkan kembali nilai-nilai khidmah yang diwariskan para muassis NU, termasuk Hasan Gipo, salah satu tokoh penting dalam fase awal perjalanan organisasi tersebut.

“Sebagai ketua Yayasan IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin), kami menilai Kiai Miftah dan Gus Kikin itu paket pasangan ideal untuk mewujudkan nilai-nilai organisasi yang diwariskan para muassis, termasuk H Hasan Gipo (1869-1934),” katanya.

Zen yang juga Ketua II Pengurus Takmir Masjid Agung Sunan Ampel itu mengatakan, Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, memiliki arti khusus karena menjadi muktamar pertama pada Abad Kedua NU.

Karena itu, menurut dia, kepemimpinan NU periode baru perlu diletakkan dalam perspektif sejarah. Abad pertama NU, kata Zen, tidak dapat dilepaskan dari kiprah organisasi tersebut dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Muktamar ke-35 NU merupakan muktamar pertama di Abad Kedua NU (2026-2126), sehingga perlu menengok peran/kiprah NU di Abad Pertama sebagai Pendiri Bangsa agar NU di Abad Kedua menjadi Penjaga Peradaban Bangsa,” ujarnya.

Belajar dari Khidmah Hasan Gipo

Zen menilai pasangan Kiai Miftah-Gus Kikin ideal karena keduanya dapat diarahkan pada satu orientasi utama, yakni khidmah kepada jamaah dan masyarakat.

Ia kemudian mengaitkan orientasi tersebut dengan keteladanan Hasan Gipo. Menurut Zen, tokoh yang pernah memimpin PBNU pada masa awal berdirinya NU itu menjalankan khidmah tanpa menjadikan organisasi sebagai sarana mencari penghidupan ataupun kepentingan politik pribadi.

Menurut Zen, jejak pengabdian Hasan Gipo bahkan baru mendapatkan perhatian kembali setelah situs makamnya terlacak di sisi timur Masjid Ampel pada 2020-2021.

“Menurut dia, Kiai Miftah dan Gus Kikin itu merupakan paket pasangan ideal untuk mewujudkan satu niat yakni khidmah atau fokus dalam ngopeni (melayani) jamaah (masyarakat), apalagi H Hasan Gipo sebagai petinggi PBNU itu betul-betul berkhidmah ke NU dan ulama, tidak mencari penghidupan di NU, apalagi niat mencari dukungan agar bisa duduk di pemerintahan, bahkan situs makamnya pun baru terlacsk di sisi timur Masjid Ampel pada 2020-2021,” katanya.

Hasan Gipo memiliki nama lengkap Hasan Basri. Ia lahir di Kampung Sawahan Ampel, Surabaya, pada 1869, tepatnya di kawasan Jalan Ampel Masjid.

Dalam silsilah keluarga, Hasan Basri merupakan generasi keempat dari Bani Gipo. Ia adalah putra H Abdullah, cucu H Tarmidzi, dan keturunan Gipo atau H Sagipoddin. Dari nama leluhurnya itulah sebutan Hasan Gipo melekat.

Zen menyebut Hasan Gipo bukan hanya tokoh organisasi, tetapi juga saudagar yang menggunakan sumber daya ekonominya untuk mendukung perjuangan keumatan dan pergerakan NU.

“Gus Kikin itu mirip H Hasan Gipo yang merupakan seorang saudagar kaya yang kekayaannya yang melimpah itu banyak digunakan untuk pergerakan/NU. Hasan Gipo-lah yang mendanai Komite Hijaz ke Saudi Arabia untuk memperjuangkan paham bermadzhab/Aswaja, sehingga akhirnya Komite Hijaz menjadi cikal bakal lahirnya NU dan KHA Wahab Hasbullah sebagai penggagas/muassis NU pun merasa terbantu Hasan Gipo,” katanya.

Selain mendukung Komite Hijaz, Hasan Gipo disebut turut berperan dalam pengurusan badan hukum HBNO/PBNU.

“Selain itu, Hasan Gipo yang berdarah Sunan Ampel itu pula yang mengurus Badan Hukum HBNO/PBNU. Tapi, sayang sekali, jasa perjuangannya di NU kurang diketahui, karena fotonya jarang dipajang pada acara NU, namun khidmah beliau kepada NU perlu diteladani siapapun di PBNU,” katanya.

Kiai Miftah dan Tantangan Tabayyun

Zen juga menilai Kiai Miftachul Akhyar memiliki kapasitas keilmuan yang memadai untuk menduduki posisi Rais Aam. Ia menyoroti perhatian Kiai Miftah terhadap pendidikan pesantren yang diasuhnya, termasuk ketika harus membagi waktu dengan agenda organisasi.

Di sisi lain, Zen menyinggung dinamika yang muncul setelah Muktamar ke-35 NU, terutama berbagai isu yang beredar di media sosial terkait Kiai Miftah.

“Terpilihnya Gus Kikin masih relatif lancar, tapi terpilihnya Kiai Miftah masih diikuti isu yang kurang bagus di medsos, karena mungkin dari pihak yang kalah, tapi tuduhan medsos itu tanpa tabayyun/klarifikasi. Kiai Miftah dianggap membangun pondok karena jabatan Rais Aam, padahal Kiai Miftah menjual tanah di desa untuk membangun pondok,” katanya.

Bagi Zen, dinamika tersebut semestinya tidak menggeser perhatian dari agenda utama NU memasuki abad kedua. Prinsip tabayyun, menurut dia, penting dikedepankan agar informasi yang berkembang tidak berubah menjadi prasangka dan tuduhan tanpa dasar.

Pandangan mengenai pentingnya meneladani Hasan Gipo juga disampaikan sehari sebelumnya oleh Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH A Mujab Muthohar atau Gus Mujab.

Gus Mujab yang masih memiliki hubungan sebagai menantu keluarga Gipo menyampaikan hal itu dalam ceramah Maulid Nabi sekaligus Haul H Hasan Gipo (1869-1934) di Langgar Gipo, Surabaya, Minggu (13/9/2026).

“Pelajaran penting Maulid adalah pentingnya memiliki keturunan yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti leluhur kita. Cara memiliki keturunan yang bermanfaat ada dua bekal, yakni Ilmu (apapun ilmu yang manfaat), dan Akhlak (perilaku baik kepada sesama),” katanya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi