PDKN Jajaki Kerja Sama Aspal Buton dengan Kesultanan Sulu

Pertemuan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Daulat Kedaulatan Nasional (PDKN) Dr. Rahman Sabon Nama dengan Percival S. Cabauatan dari Kesultanan Sulu, Mindanao, Filipina, di Grand Whiz Hotel Pondok Indah, Jakarta, Kamis (17/9/2026). 

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Potensi aspal alam Buton menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Daulat Kedaulatan Nasional (PDKN) Dr. Rahman Sabon Nama dengan Percival S. Cabauatan dari Kesultanan Sulu, Mindanao, Filipina, Kamis (17/9/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Grand Whiz Hotel Pondok Indah, Jakarta, itu turut dihadiri Laode Bachtiar, Kapita Lao Kesultanan Buton. Diskusi diarahkan pada peluang kerja sama ekonomi dan pengembangan sumber daya alam, khususnya industri aspal Buton, yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Indonesia dan Filipina.

Rahman mengatakan, aspal Buton memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari industri berbasis sumber daya alam. Karena itu, menurut dia, pengelolaannya perlu diarahkan agar memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Sumber daya alam harus dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk segelintir elite,” kata Rahman.

Menurut Rahman, pembahasan dengan pihak Kesultanan Sulu tidak semata menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi diplomasi masyarakat melalui hubungan historis dan budaya yang berkembang di kawasan Nusantara dan Filipina.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pembicaraan lebih lanjut mengenai pengembangan industri, perdagangan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara produktif.

Aspal Buton menjadi perhatian karena memiliki sumber daya aspal alam yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur. Pengembangan industri di daerah asal sumber daya tersebut juga dinilai berpotensi menciptakan nilai tambah dan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Pertemuan Rahman, Percival S. Cabauatan, dan Laode Bachtiar tersebut menjadi bagian dari penjajakan awal kerja sama. Pembahasan lebih lanjut diperlukan untuk merumuskan bentuk kerja sama, aspek investasi, tata kelola, serta mekanisme pengembangan industri yang sesuai dengan ketentuan hukum masing-masing negara.

Bagi PDKN, pertemuan itu juga menjadi momentum untuk mendorong gagasan “dari Buton untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia” melalui pengembangan sumber daya alam yang diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi