
SURABAYA, CAKRAWARTA.com –Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menawarkan gagasan “Orkestrasi Sumber Daya NU” sebagai salah satu strategi menghadapi tantangan Nahdlatul Ulama (NU) setelah Muktamar Ke-35 di Tambakberas, Jombang.
Gagasan tersebut menekankan pentingnya mengintegrasikan potensi intelektual, aset, jaringan, teknologi, dan sumber daya manusia NU agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi kekuatan kolektif yang memberikan manfaat lebih besar bagi umat dan masyarakat.
Gagasan itu disampaikan salah seorang pengurus PW ISNU Jawa Timur, Yusuf Amrozi di Surabaya, Jumat (4/9/2026). Akademisi Program Studi Sistem Informasi UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mengatakan, NU memiliki modal sumber daya yang sangat besar untuk memasuki fase baru setelah satu abad perjalanan organisasi.
“Jika masa seratus tahun pertama fokus utama NU adalah menjaga kelestarian tradisi keagamaan dan eksistensi organisasi, maka fase berikutnya menuntut langkah konsolidasi menghadapi ledakan potensi kaum cendekiawan di seluruh penjuru negeri,” kata Yusuf.
Menurut dia, gagasan tersebut sebelumnya telah dibahas dalam ISNU Talk yang digelar dalam rangkaian Muktamar Ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026.
Yusuf mengatakan bahwa NU dan ISNU memiliki potensi intelektual yang sangat besar. Potensi tersebut mencakup lulusan sarjana, magister, doktor, profesor, hingga teknokrat dengan beragam keahlian.
Di antara sumber daya tersebut, kata dia, terdapat pula cendekiawan dengan kepakaran di bidang teknologi strategis, termasuk bidang nuklir dan kapal selam.
Persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana menambah jumlah sumber daya manusia, melainkan bagaimana menghubungkan berbagai potensi tersebut agar dapat bergerak dalam satu ekosistem.
“Kekayaan dan potensi intelektual yang dimiliki NU dan ISNU sesungguhnya sudah sangat melimpah. Tantangan terbesar pemimpin NU ke depan adalah bagaimana mengorganisasi, mengintegrasikan, dan mendayagunakan seluruh modal intelektual, aset, serta jaringan koneksi tersebut menjadi satu kesatuan gerak yang solid,” ujar Yusuf.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui prinsip resource orchestration atau orkestrasi sumber daya dalam manajemen strategik.
Dalam pendekatan ini, organisasi tidak cukup hanya memiliki sumber daya. Organisasi juga dituntut mampu mengatur, mengombinasikan, dan menggerakkan berbagai sumber daya tersebut sehingga menghasilkan nilai dan keunggulan yang berkelanjutan.
“Organisasi besar tidak cukup hanya memiliki sumber daya yang besar. Yang lebih penting adalah bagaimana sumber daya itu diorkestrasi sehingga menghasilkan kekuatan dan manfaat yang nyata,” katanya.
Empat Dimensi Kekuatan
Yusuf menjelaskan, pengembangan sumber daya NU dapat diperkuat dengan prinsip resource-based view, yang melihat sumber daya strategis dari sisi nilai, kelangkaan, sulit ditiru atau digantikan, serta kemampuan organisasi dalam mengelolanya.
Pertama, sumber daya harus memiliki nilai (valuable), yakni mampu menghasilkan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat.
Kedua, sumber daya tersebut memiliki karakter langka (rare) atau keunikan yang membedakannya dari organisasi lain.
Ketiga, kekuatan itu harus sulit ditiru atau digantikan (inimitable), termasuk melalui penguatan karakter keislaman NU yang moderat dan berorientasi pada kemaslahatan.
Keempat, seluruh potensi tersebut harus terorganisasi secara efektif. Dalam konteks ini, menurut Yusuf, tata kelola modern dan pemanfaatan sistem informasi digital menjadi kebutuhan penting.
“Potensi yang besar harus didukung tata kelola yang mampu menggerakkannya secara efisien, terkoordinasi, dan terukur,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, aset intelektual dan jaringan NU diharapkan tidak berhenti sebagai potensi yang tersebar, tetapi dapat dihubungkan untuk menghasilkan inovasi dan program bersama.
Selain persoalan orkestrasi sumber daya, Yusuf menyoroti tantangan pengelolaan pengetahuan di kalangan kader muda NU di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, perkembangan teknologi harus diikuti dengan penguatan kemampuan berpikir orisinal. Kader NU tidak cukup hanya mampu mengakses dan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu menghasilkan pengetahuan.
Ia menyebut pentingnya menjaga keseimbangan antara tacit knowledge, yakni pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman, intuisi, dan kedalaman berpikir, dengan explicit knowledge yang dapat dirumuskan dan disebarluaskan melalui teknologi serta berbagai platform digital.
“Jangan sampai kader hanya menjadi konsumen informasi. Mereka harus didorong menjadi produsen pengetahuan yang mandiri,” kata Yusuf.
Menurut dia, AI seharusnya diposisikan sebagai instrumen yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan kemampuan berpikir dan kreativitas kader.
Karena itu, penguasaan teknologi perlu berjalan bersama dengan penguatan tradisi intelektual, pengalaman, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Yusuf juga menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu memadukan visi besar dengan kemampuan manajerial.
Menurut dia, pemimpin NU pada abad kedua tidak cukup hanya menghasilkan gagasan visioner. Gagasan tersebut juga harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang dapat dilaksanakan hingga tingkat operasional.
“Seorang pemimpin masa depan NU harus memiliki kapasitas ganda. Ia harus menjadi leader yang menelurkan konsep visioner sekaligus mampu menjadi manajer yang andal untuk mendaratkan gagasan besar tersebut hingga level teknis operasional,” katanya.
Kemampuan tersebut, lanjut Yusuf, penting agar potensi NU dapat memberikan kontribusi lebih besar di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan publik, teknologi hingga sektor strategis lainnya.
Menurut dia, memasuki abad kedua, tantangan NU bukan karena kekurangan sumber daya. Justru sebaliknya, NU memiliki sumber daya yang sangat besar dan beragam.
“Tantangannya adalah bagaimana seluruh sumber daya tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Harus ada orkestrasi agar semuanya dapat bergerak dalam satu arah dan menghasilkan manfaat yang lebih besar,” ujar Yusuf.
Gagasan “Orkestrasi Sumber Daya NU”, kata dia, bukan sekadar konsep manajemen organisasi. Gagasan tersebut merupakan upaya menjembatani kekayaan tradisi keulamaan dengan kapasitas intelektual, teknologi, jaringan, dan profesionalisme yang dimiliki warga NU.
“NU memiliki modal yang sangat besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan untuk mengorkestrasi modal tersebut menjadi kekuatan kolektif bagi umat dan bangsa,” katanya.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








