
“Iran harus dipahami sebagai arena pertarungan antara dua visi modernitas, satu kolonial dan satu antikolonial.” – Hamid Dabbasi (75), Theology of Discontent: The Ideological Foundations of the Islamic Revolution in Iran (1993)
Hari ini, 9 Juli 2026, bangsa Iran mengenang pemakaman seorang syuhada Revolusi Islam, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei (1939-2026).
Prosesi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah teks memorial yang meneguhkan kesinambungan antara teologi dan kekuasaan, antara “perintah langit” dan “pemerintahan bumi.”
Dalam tradisi Syiah, kematian seorang pemimpin besar selalu dibaca dalam cahaya tragedi Karbala, di mana pengorbanan Imam Husain menjadi paradigma perlawanan terhadap tirani.
Bukunya, biografi Cell No.14 (Amin Publication, 2021) -kelak pada Oktober 2024, terbit edisi Italia berjudul Cella n.14- I semi della Rivoluzione di Sayyed Alì Khamenei, yang memperluas jangkauan pembaca di Eropa —menempatkan Khamenei sebagai ulama muda yang sejak Revolusi Islam 1979 berdiri di garis depan perlawanan.
Penjara yang dialaminya bukan sekadar ruang sempit, melainkan “ruang doa dan ruang perlawanan,” sebuah frase yang mengikat penderitaan pribadi dengan kebangkitan kolektif.
Dari sel itu lahir legitimasi moral yang kemudian membentuk kepemimpinannya sebagai Rahbar.
Buku ini menegaskan bahwa Revolusi adalah “perjuangan autentik melawan hegemoni Barat,” dan kepemimpinan Khamenei adalah “perjuangan komprehensif yang meliputi iman, budaya, dan politik.”
Sementara itu, dalam pidato dan khotbah di berbagai tempat, menjelma buku Al-Ghazwu Ats-Tsaqàfi: Al-Muqaddimät wa Al-Khalfiyyät At-Tárikhiyyah buah pikiran Imam Ali Khamenei dan diterbitkan Där Al-Wiläyah li Ats-Tsaqafah wa Al- l’lam, Cet.I, Qum, Iran, Ramadhan 1419 H.
Oleh penerbit Cahaya Jakarta diterjemahkan sebagai Perang Kebudayaan (2005).
Dalam buku ini, Imam Khamenei menegaskan bahwa revolusi tidak berhenti pada politik, melainkan harus berlanjut dalam ranah budaya.
Khamenei menulis bahwa “hegemoni Barat berusaha menaklukkan hati dan pikiran,” sehingga tugas bangsa Iran adalah menjadikan budaya sebagai benteng revolusi.
Ia menekankan bahwa “perjuangan kultural adalah perjuangan otentik dan menyeluruh,” sebuah kalimat yang mengikat iman, politik, dan kebudayaan dalam satu garis perlawanan.
Buku ini menutup inti buah filsafat kebudayaannya dengan nada heroik: “perlawanan terhadap hegemoni Barat adalah tugas sejarah yang tidak boleh berhenti.”
Dengan demikian, wafatnya Khamenei pada 28 Februari 2026, setelah 132 hari kematiannya yang heroik atas serangan pembunuhan Amerika Israel di kantornya, kini dimemorialisasi dalam prosesi pemakaman yang fenomenal.
Tentunya, hal ini bisa dibaca sebagai tragedi sekaligus kemenangan.
Ia wafat dalam keadaan “tragis sekaligus heroik,” tetap berdiri melawan serangan dan tekanan Amerika dan Israel.
Salah satu frase yang dikutip dari biografinya, “suara martir adalah suara abadi bangsa.”
Kini, di tengah enam hari prosesi pemakamannya sejak hari ini, menjadi gema dalam “ritus peralihan” -meminjam istilah antropologis Van Gennep- justru telah menyatukan watak individu Imam Khamenei dengan sejarah bangsanya yang diperkirakan mencapai puluhan juta ikut prosesi pemakaman dari jasad dan jasa seorang syuhada revolusioner teladan.
Dengan demikian, memorialisasi pemakaman Khamenei hari ini adalah kelanjutan dari tradisi Karbala.
Terlepas dari kontroversi Syiah-Sunni, tradisi lebih tepat budaya ini menggemakan kembali bahwa kematian sebagai perlawanan, luka sebagai sumber kekuatan, dan syahid sebagai simbol abadi yang tak selangkah pun surut oleh perang kebudayaan sebesar dan secanggih apapun.
Dari Cell No.14 hingga Perang Kebudayaan, narasi perjuangan Khamenei menegaskan bahwa Revolusi Islam adalah proyek peradaban yang otentik, kultural, dan komprehensif.
Dan sejatinya, inilah teladan otentik sebuah jihad sejati yang terus hidup dalam memori kolektif umat Islam di seluruh dunia.
#coversongs: “Dervish Moon Ritual” adalah karya musik sufistik Persia yang dirilis oleh label Darvish Music pada awal 2026, menampilkan interpretasi instrumental dari tradisi sema atau tarian berputar para darwis. Lagu ini dimaknai sebagai perjalanan spiritual menuju penyatuan dengan Ilahi, di mana putaran tubuh dan irama musik mencerminkan rotasi kosmos dan keharmonisan semesta.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








